Kinerja ekspor Jawa Barat menunjukkan taji pada awal 2026 dengan surplus neraca perdagangan mencapai USD 8,90 miliar selama Januari hingga April 2026. Surplus itu terbentuk dari ekspor senilai USD 12,58 miliar yang jauh melampaui impor sebesar USD 3,68 miliar pada periode yang sama.
Kepala BPS Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati menyebut ekspor Jawa Barat naik 4,15 persen dibanding periode yang sama 2025. Kenaikan juga terjadi pada ekspor nonmigas yang mencapai USD 12,51 miliar atau tumbuh 4,30 persen.
Ekspor nonmigas jadi penopang utama
Di tengah tren positif itu, ekspor migas justru turun 16,39 persen menjadi USD 72,70 juta. Namun, penguatan di sektor nonmigas dan sektor-sektor utama lainnya membuat total ekspor tetap bergerak naik.
Dari sepuluh komoditas nonmigas terbesar, golongan kendaraan dan bagiannya mencatat kenaikan paling besar sebesar USD 297,95 juta atau 11,80 persen. Sebaliknya, golongan perhiasan atau permata mengalami penurunan terbesar sebesar USD 73,59 juta atau 18,99 persen.
Pasar luar negeri masih menjadi tumpuan penting bagi produk Jawa Barat. Ekspor nonmigas terbesar selama Januari hingga April 2026 dikirim ke Amerika Serikat senilai USD 2,08 miliar, Filipina sebesar USD 1,19 miliar, dan Jepang sebesar USD 922,58 juta.
Ketiga negara tujuan itu menyumbang 33,53 persen dari total ekspor nonmigas Jawa Barat. Di level kawasan, ekspor ke ASEAN tercatat sebesar USD 3,47 miliar, sedangkan ekspor ke Amerika dan Eropa mencapai USD 4,70 miliar.
Sektor industri dan pertanian ikut menguat
Kinerja ekspor sektoral juga membaik jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025. Sektor pertanian naik 4,21 persen, sektor industri pengolahan tumbuh 4,30 persen, dan sektor pertambangan serta lainnya naik 2,20 persen.
Kenaikan di beberapa sektor tersebut membantu menjaga laju ekspor Jawa Barat tetap solid. Di sisi lain, penurunan pada migas menjadi penyeimbang yang belum sepenuhnya menggerus kinerja keseluruhan.
Impor menurun dan memperlebar surplus
Dari sisi impor, Jawa Barat mencatat penurunan menjadi USD 3,68 miliar atau turun 7,63 persen dibanding periode yang sama pada 2025. Impor nonmigas mencapai USD 3,44 miliar dan turun 0,54 persen, sementara impor migas menyusut tajam 55,08 persen menjadi USD 232,36 juta.
Pada kelompok impor nonmigas, golongan kendaraan dan bagiannya mengalami penurunan terbesar sebesar USD 154,38 juta atau 51,08 persen. Adapun golongan mesin dan perlengkapan elektronik mencatat kenaikan terbesar sebesar USD 97,19 juta atau 18,25 persen.
Tiongkok masih menjadi pemasok barang impor nonmigas terbesar ke Jawa Barat dengan nilai USD 1,41 miliar atau 41,04 persen. Jepang berada di posisi berikutnya sebesar USD 410,06 juta, disusul Korea Selatan sebesar USD 407,46 juta.
Jika dilihat menurut golongan penggunaan, seluruh kategori impor juga turun. Barang konsumsi turun 12,63 persen, bahan baku atau penolong turun 5,63 persen, dan barang modal turun 17,20 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Source: news.detik.com