PDRB Tembus Rp104 Triliun, Bojonegoro Menjaga Nadi Ekonomi Jawa Timur dari Barat

Kabupaten Bojonegoro kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu motor ekonomi Jawa Timur. Dengan PDRB mencapai Rp104,97 triliun pada 2025, daerah ini tidak lagi hanya dikenal sebagai wilayah migas, tetapi juga sebagai kekuatan ekonomi yang stabil di barat provinsi.

Capaian itu menempatkan Bojonegoro di jajaran 10 besar ekonomi terbesar dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Di tengah dominasi pusat industri metropolitan seperti Surabaya dan koridor utara, Bojonegoro tetap menjaga peran pentingnya dalam menopang keseimbangan pertumbuhan ekonomi daerah.

PDRB naik, ekonomi lokal tetap bergerak

Data Badan Pusat Statistik Jawa Timur menunjukkan nilai ekonomi Bojonegoro tumbuh dari Rp84,20 triliun pada 2021 menjadi Rp104,97 triliun pada 2025. Dalam lima tahun, kenaikannya mencapai sekitar Rp20,77 triliun atau hampir 25 persen.

Pertumbuhan itu menunjukkan aktivitas ekonomi warga terus bergerak di pasar, pertanian, dan jasa. Namun, angka PDRB tersebut dihitung berdasarkan harga berlaku, sehingga perubahan harga atau inflasi ikut memengaruhi besarnya nilai nominal.

Masih masuk kelompok 10 besar Jawa Timur

Dengan nilai ekonomi di atas Rp104 triliun, Bojonegoro mantap berada di kelompok 10 besar ekonomi terbesar di Jawa Timur. Secara nominal, capaian itu juga membuat Bojonegoro berada di atas sejumlah daerah tetangga seperti Tuban, Lamongan, Ngawi, Madiun, Magetan, dan Nganjuk.

Kontribusi Bojonegoro terhadap total ekonomi Jawa Timur juga lebih dari 3 persen. Porsinya stabil di kisaran 3 hingga 4 persen sepanjang periode 2021–2025, sehingga daerah ini tetap menjadi salah satu penopang penting ekonomi provinsi.

Kontribusi sempat menyusut, lalu kembali menguat

Meski porsinya sedikit menyusut dalam beberapa tahun terakhir, situasi itu lebih banyak dipicu akselerasi pertumbuhan kawasan industri manufaktur Ring 1 Jawa Timur. Di sisi lain, dinamika tersebut menjadi dorongan agar Bojonegoro terus memperkuat sektor penggerak baru berbasis potensi lokal.

Sinyal positif muncul pada Triwulan I 2026, saat nilai ekonomi Bojonegoro tercatat Rp28,44 triliun. Kontribusi ke provinsi juga naik tipis menjadi 3,20 persen, yang menunjukkan peran Bojonegoro dalam menjaga stabilitas ekonomi wilayah masih terjaga.

Sektor non-migas makin penting

Perkembangan paling menonjol dari Bojonegoro terlihat pada perubahan struktur ekonominya. Daerah ini selama bertahun-tahun bergantung pada pertambangan dan migas, tetapi kini sektor non-migas mulai mengambil peran yang lebih besar.

Kepala BPS Kabupaten Bojonegoro, Syawaluddin Siregar, menyebut ekonomi Bojonegoro masih berada di jalur positif. Ia menilai sektor pertanian menjadi aktor utama karena menyerap tenaga kerja lebih banyak dan manfaatnya dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Pertanian, perdagangan, hingga UMKM ikut menguat

Selain pertanian, sektor perdagangan dan konstruksi juga terus menggerakkan roda usaha lokal. Jasa pendidikan, kesehatan, serta UMKM turut tumbuh subur di berbagai kecamatan.

Perubahan ini penting bagi stabilitas jangka panjang karena sektor non-migas dapat menjadi penopang saat migas mengalami pasang surut akibat faktor global. Karena itu, kualitas pertumbuhan ekonomi Bojonegoro kini tidak lagi dilihat dari angka PDRB semata, tetapi juga dari seberapa luas manfaatnya dirasakan masyarakat.

Arah baru: agroindustri dan hilirisasi

Ke depan, tantangan Bojonegoro ada pada upaya meningkatkan nilai tambah dari sektor non-migas. Berbeda dengan Gresik atau Sidoarjo yang bertumbuh lewat ekspansi industri manufaktur skala besar, Bojonegoro dinilai memiliki peluang besar pada agroindustri dan hilirisasi pertanian.

Arah pembangunan itu menuntut daerah tidak hanya mengejar produksi mentah. Pengolahan hasil pertanian dan sumber daya lokal menjadi produk jadi akan menciptakan nilai jual yang lebih tinggi, memperkuat ekonomi mandiri, dan mengurangi ketergantungan pada sektor ekstraktif.

Source: damarinfo.com
Exit mobile version