Bripka Diyan Kristanti menunjukkan bahwa tugas polisi tidak selalu berhenti pada penegakan aturan. Di Jepara, Polwan yang akrab disapa Bu Bhabin itu justru dikenal sebagai sosok yang merajut harapan warga lewat pendekatan sosial, kemanusiaan, dan pendampingan yang konsisten.
Ia menjadi pelopor Bhabinkamtibmas perempuan pertama di jajaran Polda Jawa Tengah sejak akhir tahun 2014. Selama lebih dari satu dekade mengabdi di Polres Jepara, ia tumbuh menjadi sahabat, pelindung, dan tempat bersandar bagi warga di wilayah binaannya.
Menggerakkan bantuan lewat gotong royong
Kekuatan utama pengabdiannya ada pada kemampuan membangun jejaring. Bripka Diyan bergerak bersama pengusaha, relawan, tokoh masyarakat, dan dermawan untuk menghadirkan bantuan yang langsung dirasakan warga.
Program yang ia inisiasi mencakup penyaluran beras rutin untuk janda lanjut usia, bedah rumah bagi warga kurang mampu, hingga pembangunan ulang rumah yang roboh akibat bencana. Di banyak kasus, ia tidak hanya menghubungkan bantuan, tetapi juga memastikan prosesnya berjalan sampai tuntas.
Salah satu aksi kemanusiaannya yang sempat menarik perhatian publik adalah pendampingan terhadap pasangan tunawisma yang telah hidup bersama puluhan tahun tanpa ikatan pernikahan sah. Lewat sinergi yang ia bangun, pasangan itu akhirnya dapat menikah secara resmi secara hukum dan agama.
Setelah itu, ia juga menggerakkan donatur untuk membangun rumah layak huni bagi pasangan tersebut. Langkah ini memperlihatkan bahwa kepedulian sosial bisa berjalan berdampingan dengan pemulihan martabat warga.
Ruang aman untuk warga yang terjebak masalah
Di luar isu keamanan, Bripka Diyan memberi perhatian besar pada kesehatan mental, kekerasan domestik, dan pencegahan bunuh diri. Ia melihat banyak korban memilih diam karena tidak tahu harus mencari bantuan ke mana.
Dari keprihatinan itu lahir inovasi ruang aman bernama “DhieanMoe GonmuCrito” atau Tempatmu Bercerita. Melalui program ini, warga mendapat ruang rahasia untuk mengungkapkan persoalan, memperoleh pendampingan, dan diarahkan ke pihak terkait.
Ia juga mengampanyekan gerakan “Mari BER3”, akronim dari Bersuara, Berbicara, dan Bercerita. Gerakan ini mendorong masyarakat agar berani menyampaikan ketidakadilan dan tidak memendam masalah sendirian.
“Tidak semua masalah membutuhkan tindakan kepolisian, tetapi setiap masalah membutuhkan tempat untuk didengar,” ujar Bripka Diyan.
Belajar psikologi untuk membaca akar persoalan
Komitmennya pada GonmuCrito membuat Bripka Diyan terus meningkatkan kapasitas diri. Meski telah menyandang gelar Sarjana Hukum, ia memilih melanjutkan studi ke jenjang Magister Psikologi.
Pilihan itu memperlihatkan keyakinannya bahwa pemahaman tentang trauma, dinamika psikologis, dan kondisi mental masyarakat sama pentingnya dengan pemahaman hukum. Ia menilai pendekatan seperti itu dibutuhkan untuk menyelesaikan konflik sosial dari akarnya.
“Memahami manusia sama pentingnya dengan memahami hukum,” tuturnya.
Apresiasi dan kiprah di luar tugas kepolisian
Dedikasi Bripka Diyan juga mendapat pengakuan dalam bentuk sejumlah penghargaan. Di antaranya Penghargaan Bhabinkamtibmas Polda Jateng Kategori Cerdas pada 2020, Sertifikat Kompetensi LSP Kementerian Sosial RI pada 2021, dan Juara III Storytelling tingkat Polda Jateng pada 2025.
Di luar tugas kepolisian, ia aktif menjadi fasilitator Bimbingan Perkawinan atau BIMWIN Kemenag Jepara. Ia juga menjadi Guru Tamu di Pondok Pesantren Babussalam Jepara untuk membekali calon pengantin soal ketahanan keluarga.
Bagi warga Jepara, Bripka Diyan Kristanti menjadi bukti bahwa seragam cokelat kepolisian dapat hadir bukan hanya sebagai penegak aturan, tetapi juga sebagai penguat, pendengar, dan pembawa harapan di tengah kesulitan hidup.
Source: infojateng.id