Muktamar Ilmu Pengetahuan IV PWNU Jateng Dimulai di UIN Sunan Kudus, Ini Jadwal Lengkapnya

Muktamar Ilmu Pengetahuan IV PWNU Jawa Tengah mulai digelar malam ini, Jumat (27/6/2026), di Kampus UIN Sunan Kudus. Kegiatan yang diinisiasi Lakpesdam PWNU Jawa Tengah itu dibagi ke dalam tiga sesi besar: khusus, utama, dan pendukung.

Agenda ini menarik perhatian karena mempertemukan tokoh NU, pimpinan perguruan tinggi, dan akademisi dalam forum yang membahas arah gerakan keilmuan serta peran sosial-keagamaan Nahdlatul Ulama. Rangkaian acaranya juga disusun cukup padat, dengan beberapa diskusi paralel pada Sabtu siang hingga sore.

Sesi khusus dibuka malam ini

Sesi khusus berlangsung Jumat malam pukul 18.00–22.00 WIB di Aula lantai 4 Gedung Perpustakaan UIN Sunan Kudus. Forum ini mengangkat agenda Forum Ilmuwan NU dengan deretan pembicara dari unsur PWNU, rektor perguruan tinggi, dan Lakpesdam.

Nama-nama yang tercantum antara lain Rais PWNU Jateng KH. Ubaidullah Shodaqoh, Ketua PWNU KH. Abdul Ghaffar Rozin, serta Rektor UIN Sunan Kudus Prof. Dr. H. Abdurrahman Kasdi. Hadir pula Rektor Universitas Diponegoro Prof. Dr. Suharnomo, Rektor Universitas Sebelas Maret Prof. Dr. Hartono, Rektor ITB Prof. Dr. Tata Cipta Dirgantara, Rektor Universitas Wahid Hasyim Prof. Dr. Ir. H. Helmy Purwanto, S.T., M.T., IPM., Wildan Nadiyal Ihsan, S.Kom., dan Prof. Akhmad Syakir Kurnia, S.E., M.Si., Ph.D.

Pembukaan dan penanaman pohon digelar Sabtu pagi

Pada Sabtu pagi, acara diawali penanaman pohon di sebelah selatan Gedung Ushuludin. Setelah itu, pembukaan muktamar berlangsung pukul 09.00–10.00 WIB di Ruang Auditorium lantai 5 Gedung Lab.

Urutan agenda pagi itu menunjukkan bahwa muktamar tidak hanya berisi forum wacana, tetapi juga membawa agenda simbolik yang terkait dengan kepedulian lingkungan. Sesi pembukaan lalu berlanjut ke pembahasan utama yang menjadi inti pertemuan ini.

Panel utama bahas posisi NU sebagai masyarakat sipil keagamaan

Sesi utama dimulai pukul 10.00–12.00 WIB dengan panel bertema “Peta Jalan Nahdlatul Ulama sebagai Masyarakat Sipil Keagamaan”. Narasumber yang tercantum dalam agenda ialah Dr. Muhammad A.S. Hikam, MA, APU; M. Mustafid; Dr. Mayadina Rohmi Musfiroh; Dr. Arie Sujito; Luthfi Machasin, Ph.D.; Lakpesdam PWNU Jawa Tengah; dan Ali Formen, Ph.D.

Tema ini menegaskan fokus muktamar pada arah gerak NU di ruang publik, termasuk posisi organisasi dalam masyarakat sipil keagamaan. Diskusi ini juga menempatkan gagasan besar organisasi dalam bingkai akademik yang melibatkan pemikir dan praktisi dari berbagai latar belakang.

Empat diskusi pendukung berlangsung hingga sore

Setelah sesi utama, acara berlanjut ke sesi pendukung mulai pukul 13.00–17.00 WIB dengan empat diskusi terpisah. Format ini membuat muktamar memiliki ruang pembahasan yang lebih spesifik, dari penguatan organisasi sampai transformasi digital.

Diskusi pertama berlangsung di Ruang Teater lantai 3 Gedung Lab dengan bahasan “membangun kemandirian organisasi dan memperkuat konsolidasi gerakan: strategi dan tahapan jam’iyyah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah”. Narasumbernya adalah Ah Maftuchan, M.Si., K. Afifuddin, S.Ag., Dr. H. Sriyanto dari PCNU Cilacap, LPP PCNU Kabupaten Semarang, serta akademisi UIN Sunan Kudus.

Diskusi kedua digelar di ruang lantai 4 Perpustakaan dengan tema “Nahdlatul Ulama dan Transformasi Sosial: Dari Khidmah Kultural menuju Perubahan Struktural”. Forum ini menghadirkan Dr. Mustaghfiroh Rahayu, Sunaji Zamroni, Prof. Dr. Nafiatul Umami, dan akademisi UIN Sunan Kudus.

Diskusi ketiga mengambil tempat di Ruang Aula Gedung Tarbiyah lantai 2 dengan tema “NU dan Masyarakat Sipil Digital: Transformasi Media, Kontestasi Wacana, dan Dakwah Digital”. Narasumber yang disebut dalam jadwal adalah H. Savic Ali selaku Ketua PBNU, Rifqi Fairuz dari Lakpesdam PWNU Jawa Tengah sekaligus UIN Salatiga dan pegiat islami.co, serta akademisi UIN Sunan Kudus.

Pesantren juga masuk dalam pembahasan

Sesi pendukung keempat membahas “Pesantren sebagai Pilar Masyarakat Sipil Keagamaan: Dari Pendidikan, Kemandirian Hingga Transformasi Sosial”. Diskusi ini menghadirkan Dr. Machrus El Mawa, K.H. Fadhlullah Turmudzi, Ahmad Nashir, Dr. Agus Suharjono Ekomadyo, S.T., M.T., Dr. techn. Ir. Saiful Akbar, S.T., M.T., dan akademisi UIN Sunan Kudus.

Masuknya tema pesantren memperlihatkan bahwa muktamar ini tidak hanya mengulas wacana organisasi secara umum. Forum ini juga menempatkan pesantren sebagai salah satu unsur penting dalam pembahasan kemandirian, pendidikan, dan transformasi sosial di lingkungan NU.

Source: suaranahdliyin.com

Terkait