Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya menempatkan Program Mahasiswa Membangun Desa sebagai ujung tombak untuk mempercepat transformasi digital di puluhan desa di Kabupaten Blitar. Fokus ini diarahkan agar manfaat digitalisasi tidak hanya terasa di wilayah perkotaan, tetapi juga menjangkau masyarakat pedesaan.
Dekan FILKOM UB Tri Astoto Kurniawan mengatakan MMD Filkom 2026 melibatkan 760 mahasiswa dan tersebar di 57 desa dari tujuh kecamatan di Kabupaten Blitar. Ia menegaskan bahwa agenda itu dirancang sesuai keilmuan FILKOM dan ditujukan untuk menghadirkan dampak langsung bagi warga desa.
Solusi digital untuk kebutuhan nyata desa
Dalam program ini, mahasiswa dituntut aktif berkomunikasi dengan perangkat desa, guru, dan masyarakat umum. Langkah itu dipakai untuk mengidentifikasi persoalan di tiap lokasi sebelum menyusun solusi berbasis teknologi informasi.
Setiap kelompok MMD wajib merancang bentuk solusi yang menjawab kebutuhan riil warga. Bentuknya bisa berupa laman pemasaran digital untuk produk UMKM atau aplikasi yang membantu kinerja pemerintah desa.
Inovasi yang dibawa juga tidak dibatasi pada administrasi pemerintahan desa. Program ini turut membuka ruang bagi pengembangan teknologi di bidang kesehatan dan pendidikan.
Tri menekankan bahwa arah program tersebut sejalan dengan tema besar MMD, yaitu “IT for Better Life”. Melalui pendekatan itu, mahasiswa diharapkan dapat membantu digitalisasi layanan desa agar lebih efisien dan efektif.
Perlindungan peserta selama penugasan
Ketua Pelaksana MMD 2026 FILKOM UB Hariz Farisi memastikan para peserta tidak diberangkatkan ke lokasi program tanpa perlindungan keselamatan. Seluruh mahasiswa mendapat jaminan melalui BPJS Ketenagakerjaan selama dua bulan.
Hariz menyebut nilai premi perlindungan itu sekitar Rp8.000 per orang per bulan. Ia menambahkan, skema BPJS Ketenagakerjaan berlaku bagi mahasiswa Indonesia, sementara satu mahasiswa asal Madagaskar mendapat asuransi yang dapat melindungi warga negara asing.
Pemetaan masalah sebelum aksi di lapangan
Pendekatan berbasis survei lapangan juga menjadi dasar kerja kelompok mahasiswa. Salah satu peserta, Naufal Zahdan dari program studi Sistem Informasi FILKOM UB, mengatakan kelompoknya memusatkan kegiatan pada penyuluhan teknologi bagi siswa dan guru serta digitalisasi peta desa.
Kelompoknya juga akan membantu pembaruan perangkat lunak pada sistem informasi yang ada. Di saat yang sama, mereka akan memberi penyuluhan internet positif kepada pelajar dan mengenalkan pemanfaatan kecerdasan buatan.
Naufal menjelaskan kelompoknya mendapat lokasi di Desa Gununggede, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar. Seluruh kegiatan yang dijalankan disesuaikan dengan hasil survei lapangan agar program benar-benar menjawab kebutuhan setempat.
