
Teknologi suara diprediksi akan mengubah cara generasi Alpha bekerja di kantor. Sebuah studi dari London School of Economics dan Jabra menunjukkan bahwa pada November 2028, antarmuka berbasis suara akan menjadi dominan dalam komunikasi kerja.
Generasi Alpha yang lahir setelah tahun 2010 diperkirakan tidak akan terlalu bergantung pada keyboard. Mereka lebih cenderung berbicara langsung kepada perangkat mereka dan melakukan penyuntingan setelahnya.
Menurut Paul Sephton dari Jabra, di lingkungan kerja yang didukung kecerdasan buatan, konsep mengetik sebagai langkah utama akan bergeser. Draft awal pekerjaan nantinya akan dibuat lewat suara, sedangkan mengetik berfungsi sebagai tahap pengeditan.
Pendekatan ini sejajar dengan cara manusia berpikir secara alami yang cepat dan berulang. Penggunaan suara juga membuka peluang kreativitas yang lebih spontan dan memberi kemudahan bagi orang tua bekerja atau multitasker lewat interaksi tanpa menggunakan tangan.
Namun, tidak semua ahli menyambut optimisme ini tanpa catatan. Fabrice Cavarretta dari ESSEC Business School mengingatkan bahwa komunikasi tertulis tetap diperlukan. Pesan suara kurang memiliki kemampuan untuk dibaca sekilas dan sulit dicari menggunakan kata kunci.
Selain itu, pesan suara juga lebih sulit diarsip dan butuh waktu lebih lama untuk diproses dibandingkan teks. Bertrand Audrin dari EHL Hospitality Business School menambahkan, jika pesan suara tidak ditranskripsi, maka akuntabilitas bisa menurun.
Pesan suara kurang memberikan jejak permanen yang penting untuk keperluan pelacakan keputusan dalam lingkungan kerja. Mengedit rekaman suara menjadi teks yang koheren juga bukan proses yang mudah, terutama bagi pengguna non-pribumi bahasa atau untuk memperbaiki nada informal.
Dari sisi teknologi, penggabungan AI dalam alat kerja suara memungkinkan transkripsi otomatis yang dapat memadukan kecepatan berbicara dengan ketepatan komunikasi tertulis. Ini menjadi jembatan agar suara dan tulisan tetap sejalan dalam proses kerja modern.
Berikut ini perubahan utama yang diantisipasi dalam cara kerja generasi Alpha menggunakan teknologi suara:
1. Komunikasi utama berbasis suara dalam membuat draft.
2. Ketikan digunakan untuk mengedit dan memfinalisasi dokumen.
3. AI berperan sebagai asisten untuk transkripsi dan penyuntingan.
4. Kelebihan produktivitas bagi pekerja multitasking dan orang tua.
5. Tantangan di bidang akuntabilitas dan pengarsipan komunikasi.
Meski keyboard mungkin mengalami penurunan peran, ia tidak akan sepenuhnya hilang. Ke depan, teknologi suara dan tulisan akan berjalan berdampingan dengan dukungan kecerdasan buatan agar proses kerja lebih efisien dan adaptif.
Perkembangan terbaru seperti peluncuran kacamata AI Meizu dengan chip Snapdragon AR1 menunjukkan bagaimana AI mulai merambah ke perangkat kerja sehari-hari. Tren ini memperkuat prediksi bahwa komunikasi suara di tempat kerja akan menjadi kebiasaan baru bagi generasi yang lebih muda.
Dengan evolusi tersebut, perusahaan dan pekerja perlu mempersiapkan diri untuk integrasi teknologi suara yang optimal. Pemahaman akan kelebihan dan batasan komunikasi suara akan menentukan keberhasilan adaptasi di lingkungan kerja masa depan.





