Xiaomi kini meluncurkan lebih sedikit ponsel dibandingkan sebelumnya. Langkah ini menandai perubahan drastis dari strategi lama yang mengandalkan banyak model dan sub-merek untuk memenuhi beragam segmen pasar.
Perusahaan memilih untuk menyederhanakan jajaran produknya dan lebih fokus pada umur panjang software, konsistensi global, dan integrasi ekosistem. Strategi ini sejalan dengan visi jangka panjang Xiaomi yang mengutamakan smartphone sebagai pusat dari ekosistem perangkat yang saling terhubung.
Penurunan Pangsa Pasar dan Perubahan Strategi
Menurut laporan kuartal kedua, pendapatan smartphone Xiaomi turun 2% secara tahunan walau pasar global mulai pulih. Di sisi lain, segmen AIoT mencatat kenaikan signifikan sebesar 44,7%, dengan pendapatan mencapai 38,7 miliar yuan. Bisnis mobil listrik juga tumbuh kuat dengan pendapatan lebih dari 20 miliar yuan dalam satu kuartal.
Data tersebut menunjukkan bahwa ponsel sudah tidak lagi menjadi mesin penggerak utama Xiaomi. Pendiri dan CEO Lei Jun menjelaskan bahwa strategi perusahaan kini berfokus pada Human-Car-Home, yaitu menghubungkan smartphone dengan kendaraan listrik, perangkat pintar rumah, dan platform berbasis AI.
Fokus pada Software dan Standarisasi Global
Xiaomi memperpanjang dukungan pembaruan software hingga empat kali upgrade OS dan enam tahun patch keamanan untuk seri utama seperti Xiaomi 15 dan Redmi Note 14. Ini setara dengan kebijakan merek besar lain seperti Samsung dan Apple.
Namun, rencana peralihan dari MIUI ke HyperOS menuntut perusahaan untuk mengurangi fragmentasi produk dan menyatukan platform software secara global. Hal ini penting agar pemeliharaan dan pembaruan dapat dijalankan lebih efisien dan konsisten di berbagai wilayah.
Pengalaman di India sebagai Titik Balik
Penurunan pengapalan ponsel hingga 42% di India menempatkan Xiaomi turun dari posisi pertama ke keenam pasar. Penyebab utama adalah tumpang tindih produk antar sub-merek seperti Redmi, Poco, dan Xiaomi yang membingungkan konsumen serta fragmentasi software yang memperlambat pembaruan.
Sebagai respons, Xiaomi menugaskan peran yang jelas untuk tiap sub-merek:
- Redmi – segmen mass market
- Xiaomi – segmen mid-to-premium
- Poco – fokus pada performa
- Civi – segmen pengguna yang mengutamakan desain
HyperOS berfungsi sebagai platform global untuk menyamakan pengalaman pengguna dan mempermudah pemeliharaan.
Pengurangan Fokus pada Kategori Niche
Xiaomi juga memangkas upaya di segmen perangkat yang kurang strategis seperti ponsel lipat. Misalnya, Mix Fold 5 batal diluncurkan tahun ini dan Civi 5 Pro hanya dijual di China.
Investasi besar di riset dan pengembangan foldables belum sebanding dengan kontribusinya pada penjualan. Sebaliknya, Xiaomi lebih memprioritaskan pengembangan integrasi ponsel dengan kendaraan dan sistem kokpit pintar, yang dinilai punya nilai strategis lebih tinggi.
Empat Pilar Strategi Baru Xiaomi
Strategi baru Xiaomi didasari oleh empat pilar penting:
- Siklus dukungan software lebih panjang
- Platform software global yang terintegrasi
- Fokus pada hardware yang tahan lama
- Integrasi ekosistem yang lebih mendalam
Perubahan ini mengakibatkan penurunan jumlah ponsel yang diluncurkan tiap tahun. Namun, Xiaomi berharap kualitas produk, konsistensi, dan keterlibatan pengguna meningkat signifikan.
Dengan pendekatan baru ini, Xiaomi bukan hanya menjual ponsel sebagai produk terpisah. Mereka membangun ekosistem cerdas yang menjadikan smartphone sebagai pusat kendali berbagai perangkat teknologi rumah dan kendaraan yang saling terhubung.
