Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tengah menghadapi dinamika internal berupa turbulensi organisasi yang cukup signifikan. Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menegaskan bahwa roda organisasi harus terus berjalan tanpa hambatan meskipun di tengah kondisi tersebut.
Dalam Rapat Pengurus Harian Tanfidziyah yang berlangsung pada Jumat, 28 November 2025, Gus Yahya memastikan bahwa seluruh mandat organisasi tetap berjalan dengan baik. Rapat ini juga menghasilkan keputusan strategis berupa finalisasi draf Roadmap NU 2025–2050 dan rotasi jabatan di lingkungan kepengurusan harian Tanfidziyah.
Roadmap NU 2025–2050 Sebagai Visi Peradaban Baru
Dokumen Roadmap NU 2025–2050 dirancang sebagai panduan transformasi struktural dan manajemen organisasi selama 25 tahun ke depan. Gus Yahya menyatakan bahwa rancangan ini bertujuan menjadikan NU sebagai organisasi Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang memimpin kebangkitan peradaban baru. Fokus utama roadmap adalah integrasi nilai-nilai akhlakul karimah, ilmu pengetahuan, teknologi, dan keadilan sosial untuk kemaslahatan umat dan semesta.
Roadmap ini juga menjadi landasan bagi NU dalam menghadapi percepatan perubahan global, terutama dalam aspek teknologi dan sosial ekonomi. Dengan dokumen strategis ini, PBNU berusaha menempatkan diri sebagai pelopor peradaban Islam yang berpijak pada tradisi dan inovasi sekaligus.
Pengakuan Terbuka atas Turbulensi Internal
Dalam rapat tersebut, Gus Yahya secara tegas mengakui bahwa PBNU sedang mengalami turbulensi. Ia menyampaikan, “Ini adalah turbulensi organisasi. Isunya bisa macam-macam, tapi yang paling penting adalah kita harus tetap perform.” Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya menjaga stabilitas kinerja organisasi walaupun terjadi masalah internal.
Dampak turbulensi terlihat pada proses pengesahan sejumlah surat keputusan (SK) yang tersendat di lingkungan Sekretariat Jenderal dan bidang kebendaharaan. Hal ini memicu perlunya evaluasi dan penataan ulang manajemen kerja harian guna memastikan tugas-tugas dapat terlaksana secara optimal.
Rotasi Jabatan Sebagai Solusi Strategis
Untuk merespons persoalan tersebut, rapat menetapkan rotasi jabatan di jajaran elite PBNU. Rotasi ini dilakukan sesuai dengan mekanisme yang diatur dalam Anggaran Rumah Tangga (ART) NU demi menjaga kelancaran fungsi organisasi. Berikut daftar rotasi jabatan strategis di kepengurusan harian Tanfidziyah PBNU:
- KH Mashuri Malik dipindahtugaskan dari Ketua menjadi Wakil Ketua Umum PBNU.
- H Saifullah Yusuf atau Gus Ipul naik dari posisi Sekretaris Jenderal menjadi Ketua PBNU.
- H Gudfan Arif bergerak dari Bendahara Umum ke posisi Ketua PBNU.
- H Amin Said Husni berpindah dari Wakil Ketua Umum menjadi Sekretaris Jenderal PBNU.
- H Sumantri mengisi posisi baru sebagai Bendahara Umum PBNU dari jabatan bendahara.
Rotasi ini juga dipandang penting untuk mendukung agenda kemanusiaan PBNU yang sedang berjalan, khususnya dalam penanganan bencana alam yang membutuhkan koordinasi dan respons cepat.
Fokus Tetap pada Pelayanan Masyarakat
Gus Yahya menegaskan bahwa dalam setiap kondisi, termasuk masa turbulensi, PBNU harus tetap hadir dan bekerja aktif di tengah masyarakat. Ia menekankan bahwa keberlangsungan program dan pengabdian NU kepada umat tidak boleh terhenti. Langkah-langkah perbaikan struktur organisasi ditujukan untuk memperkuat PBNU agar lebih adaptif dan responsif terhadap tantangan zaman.
Dengan konsistensi dalam rotasi jabatan dan penyelesaian roadmap strategis, PBNU berupaya menghadirkan organisasi yang solid dan visioner. Ini menjadi bentuk komitmen Gus Yahya dan jajaran PBNU dalam menjaga eksistensi organisasi yang memiliki peran besar dalam kehidupan beragama dan berbangsa di Indonesia.
Pemantauan terhadap implementasi Roadmap 2025–2050 serta dinamika kepengurusan akan menjadi hal penting kedepan. Meski menghadapi turbulensi, PBNU berharap mampu melanjutkan kiprahnya sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia yang memimpin perubahan sosial dan peradaban berbasis nilai keagamaan dan kemanusiaan.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com