Banjir bandang dan longsor yang terjadi di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, telah menimbulkan dampak serius. Hingga Jumat (28/11) malam, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat 86 orang meninggal dunia, sementara 88 lainnya masih dinyatakan hilang.
Korban meninggal tersebar di lima kecamatan utama terdampak bencana ini. Kecamatan Palembayan dan Malalak menjadi daerah dengan angka korban terbanyak akibat banjir bandang dan longsor. Kepala Pelaksana BPBD Agam, Rahmat Lasmono, menyebutkan bahwa di Kecamatan Malalak, sebanyak 10 orang meninggal dunia akibat banjir bandang di Jorong Toboh, Nagari Malalak Timur.
Di Kecamatan Tanjung Raya, longsor merenggut dua jiwa di Nagari Dalko. Sementara itu, di Kecamatan Matur, satu orang meninggal karena tanah longsor di Kuok Tigo Koto, Nagari Mudiak. Kecamatan Palembayan mengalami korban terbanyak, yaitu 74 jiwa. Mereka tersebar di beberapa jorong seperti Koto Alam, Sumbarang, Kampuang Tangah, dan Kampung Tangah Timur.
Selain korban meninggal, terdapat sekitar 88 orang yang masih hilang. Mereka tersebar di beberapa lokasi, seperti Jorong Toboh, Nagari Malalak Timur, dan di sepanjang Sungai Batang Antokan serta wilayah Nagari Kampung Tangah, Kecamatan Lubuk Basung. Dari jumlah tersebut, sebagian besar terseret arus banjir dan tertimbun material longsor.
Pencarian korban hilang masih dilakukan secara intensif oleh tim gabungan yang terdiri dari BPBD Agam, Basarnas Padang, TNI, Polri, Damkar Agam, Palang Merah Indonesia (PMI), dan berbagai komunitas relawan lainnya. Tim tersebut juga terus melakukan evakuasi terhadap warga yang terisolasi akibat terputusnya akses jalan ke lokasi terdampak.
Dampak bencana tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga memaksa ribuan warga mengungsi. Data BPBD mencatat sekitar 2.500 warga harus meninggalkan rumahnya. Mereka tersebar di beberapa kecamatan, seperti Ampek Koto, Palupuh, Palembayan, Ampek Nagari, Malalak Timur, dan Tanjung Mutiara.
Para pengungsi saat ini sudah ditempatkan di lokasi aman yang telah disediakan oleh pemerintah setempat. Kepala Pelaksana BPBD menyebutkan bahwa tempat pengungsian tersebar di kantor wali nagari dan balairong yang mudah dijangkau. Beberapa pengungsi yang lokasinya sulit diakses menggunakan perahu yang disediakan oleh Basarnas dan Lantamal II Padang.
Untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi, Pemkab Agam bersama pemerintah nagari telah mendirikan 26 dapur umum. Dapur umum ini menyediakan makanan secara rutin untuk seluruh warga yang terdampak bencana agar mereka tetap mendapatkan asupan gizi yang memadai selama masa pengungsian.
Warga yang mengalami bencana pun terus mendapat bantuan dari berbagai pihak. Salah satu warga Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, mengungkapkan bahwa saat banjir bandang datang, ia dan keluarganya berusaha mencari tempat yang aman. Setelah kejadian, mereka ikut membantu evakuasi dan memberikan pertolongan kepada korban yang terdampak.
Curah hujan yang tinggi selama sepekan terakhir menjadi penyebab utama terjadinya bencana alam ini. Sungai-sungai di daerah itu meluap sehingga memicu banjir bandang dan tanah longsor di berbagai lokasi. BPBD dan instansi terkait terus mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan.
Pemerintah juga menggalakkan langkah mitigasi dan evakuasi guna mengurangi risiko korban. Upaya pemulihan dan rehabilitasi diperkirakan memerlukan waktu yang tidak singkat mengingat skala bencana ini cukup besar. Semua pihak terus berkoordinasi untuk mempercepat proses penanganan pascabencana agar kehidupan masyarakat bisa kembali normal.
Baca selengkapnya di: www.suara.com