Dampak Tambang dan Perkebunan Sawit Terhadap Kerusakan Sungai dan Ekosistem DAS Martapura

Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Martapura semakin parah akibat aktivitas tambang dan perkebunan kelapa sawit yang masif di sekitarnya. Belasan tambang dan kebun sawit ditemukan beroperasi tanpa pengelolaan lingkungan yang memadai sehingga memperburuk kondisi ekosistem kawasan tersebut.

Pembukaan lahan untuk tambang dan sawit mengakibatkan hilangnya tutupan vegetasi yang berfungsi menahan erosi dan menyimpan air. Aliran sedimentasi meningkat drastis, sehingga sungai mengalami pendangkalan dan kualitas air menurun secara signifikan.

Dampak lingkungan dari tambang dan sawit

Aktivitas penambangan secara ilegal maupun semi legal menyebabkan kerusakan tanah dan pengerukan sungai yang tidak terkendali. Selain itu, limbah tambang yang mengandung bahan kimia berbahaya berpotensi mencemari aliran air hingga ekosistem di hilir DAS Martapura.

Perkebunan kelapa sawit yang luas juga mengubah pola alami aliran air dan memperbesar risiko banjir. Penggunaan pupuk dan pestisida berlebih dari sawit meningkatkan pencemaran air dan merusak habitat alami flora dan fauna di kawasan tersebut.

Fakta penting terkait kondisi DAS Martapura

  1. Lebih dari 12 lokasi tambang beroperasi di area DAS Martapura tanpa izin resmi.
  2. Area perkebunan sawit telah meluas hingga ribuan hektar selama lima tahun terakhir.
  3. Kondisi aliran sungai semakin keruh dan dangkal setiap musim hujan.
  4. Ancaman banjir menjadi masalah rutin bagi warga sekitar akibat erosi dan sedimentasi berlebih.

Pengawasan dan pengendalian dari pemerintah dan instansi lingkungan masih terbilang lemah. Keterbatasan sumber daya dan koordinasi antar lembaga menjadi kendala utama dalam menindaklanjuti pelanggaran lingkungan di kawasan tersebut.

Upaya yang dapat dilakukan untuk memitigasi kerusakan

Penegakan hukum terhadap pertambangan ilegal harus diperketat. Pemilik usaha sawit juga perlu diterapkan standar pengelolaan lingkungan yang ketat agar dampak negatif dapat dikurangi.

Rehabilitasi kawasan DAS dengan menanam kembali tanaman penahan erosi dapat memperbaiki fungsi ekologis. Selain itu, edukasi masyarakat dan pelaku usaha soal pentingnya menjaga kelestarian DAS juga sangat penting.

Dengan penanganan serius dan kolaborasi lintas sektor, kerusakan DAS Martapura yang semakin parah akibat tambang dan sawit dapat diminimalkan. Kondisi ini menjadi tanda bahwa keberlanjutan lingkungan dan pembangunan ekonomi harus berjalan seiring demi masa depan kawasan tersebut.

Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button