Lestari Moerdijat menegaskan perlunya upaya kolektif untuk meningkatkan peran perempuan dalam dunia politik di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua MPR RI tersebut saat acara bedah buku berjudul Politik Teknokratis Kemenangan Melampaui Interseksionalitas dalam Pemilu di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro, Semarang pada Februari 2026.
Menurut Lestari, keterlibatan perempuan di kancah politik mulai menunjukkan perkembangan positif dengan masuknya perempuan ke parlemen dan bantuan kebijakan afirmasi. Namun demikian, ia menilai tanda-tanda tersebut belum cukup menyelesaikan tantangan yang dihadapi perempuan dalam politik.
Ketimpangan Peran Perempuan di Parlemen
Lestari menyebutkan bahwa masih banyak stigma negatif yang melemahkan perempuan, seperti anggapan bahwa perempuan lebih emosional dan kurang rasional. Hal ini membuat sebagian masyarakat memandang perempuan sebagai pengganggu stabilitas, sehingga berpengaruh pada rendahnya tingkat keterpilihan perempuan dalam legislatif.
Contohnya, pada Pemilu 2024, jumlah anggota DPR RI perempuan dari daerah pemilihan Jawa Tengah hanya 16 orang dari total 77 anggota, yaitu sekitar 20,7 persen. Angka ini jauh di bawah target keterwakilan perempuan minimal 30 persen di parlemen. Kondisi ini menunjukkan tantangan nyata yang harus dihadapi dalam meningkatkan peran perempuan dalam politik.
Peran Upaya Kolektif dan Pinjaman Pengalaman
Lestari menekankan pentingnya dukungan sesama perempuan dan kolaborasi lintas pihak sebagai kunci untuk memperkuat posisi perempuan dalam keputusan politik. Ia juga berharap pengalaman dan pembelajaran yang dibagikan dalam buku yang dibedah itu dapat menjadi motivasi bagi masyarakat luas.
Langkah sistematis berikutnya meliputi:
- Memperkuat kebijakan afirmasi agar lebih efektif meningkatkan keterwakilan perempuan.
- Menghilangkan stigma sosial yang melemahkan posisi perempuan di politik.
- Mendorong perempuan untuk aktif berperan dan menduduki posisi strategis di berbagai lembaga politik.
- Mengembangkan kampanye kesadaran yang menyoroti pentingnya keberagaman gender dalam pengambilan keputusan.
Dorongan Lestari mencerminkan pemahaman bahwa pergeseran sosial dalam politik tidak dapat berjalan sendiri. Harmonisasi antara kebijakan dan perubahan budaya masyarakat menjadi fondasi penting untuk mencapai kesetaraan gender yang nyata.
Dengan melihat tren yang ada dan tantangan yang dihadapi, diperlukan komitmen bersama agar perempuan dapat tampil lebih dominan dan aktif dalam membentuk masa depan bangsa melalui jalur politik. Upaya ini tidak hanya meningkatkan representasi, tetapi juga kualitas demokrasi yang berimbang di Indonesia.





