Peluang Kolaborasi Pemerintah dan Muhammadiyah Jalankan Program Lebaran Bersama, Ini Penjelasannya

Pemerintah dan ormas Islam utama di Indonesia menunjukkan potensi keseragaman dalam penetapan tanggal Lebaran 1447 H. Indikasi ini muncul dari data astronomis dan metode perhitungan yang saling mendukung, meskipun tetap menunggu keputusan final dalam sidang isbat resmi.

Berbagai organisasi Islam, termasuk Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), telah mengumumkan prediksi tanggal Idul Fitri 2026. Muhammadiyah menetapkan Idul Fitri jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, berdasarkan hisab hakiki wujudul hilal. Metode ini menghitung posisi hilal menggunakan kalender Hijriah dan memperkirakan bahwa hilal sudah muncul pada dini hari Kamis, 19 Maret 2026.

Muhammadiyah mengeluarkan Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 yang resmi menyatakan hasil perhitungan tersebut. Ijtimak akhir Ramadan diprediksi terjadi Kamis Kliwon, 19 Maret 2026, pukul 01.23.28 UTC. Posisi hilal saat itu dianggap memenuhi kriteria wujudul hilal sehingga 1 Syawal dapat diperingati keesokan harinya.

Versi Nahdlatul Ulama menunjukkan hasil perbedaan yang cukup tipis. Lembaga Falakiyah PBNU mengeluarkan data teknis yang menyatakan hilal sudah di atas ufuk pada 19 Maret 2026. Namun, ketinggian hilal dianggap belum mencapai standar minimal imkanur rukyah sehingga potensi munculnya hilal secara kasat mata masih rendah. Pengamatan di beberapa titik di Indonesia menghasilkan data ketinggian hilal bervariasi, seperti Sabang memiliki tinggi hilal 2° 53’ dan Merauke 0° 49’.

Posisi hilal di Jakarta yang menjadi pusat pengamatan PBNU adalah 1° 43’ 54” dengan elongasi 5° 44’ 49”. Durasi kemunculan hilal di atas ufuk tercatat selama hampir 11 menit. Ijtimak konjungsi kali ini diprediksi Kamis, 19 Maret 2026, pukul 08.25.58 WIB menggunakan metode falak tahqiqi tadqiki ashri, standar hisab kontemporer yang dipakai NU.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memberikan data terkait posisi hilal. Konjungsi astronomis diperkirakan berada pada 19 Maret 2026 pukul 08.23.23 WIB. Namun, ketinggian hilal saat senja sangat rendah antara 0,91 derajat di Merauke hingga 3,13 derajat di Sabang. Umur bulan yang masih muda membuat durasi hilal di atas ufuk hanya 5 sampai 15 menit. Kondisi ini kemungkinan besar belum memenuhi syarat imkanur rukyah.

BMKG memperkirakan Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal), sehingga hari raya Idul Fitri jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Namun, perhitungan ini tetap menunggu keputusan resmi Sidang Isbat Pemerintah yang menggabungkan hisab dan rukyat.

Adapun beberapa poin penting terkait penentuan 1 Syawal 1447 H sebagai berikut:
1. Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal pada 20 Maret 2026 berdasar metode hisab hakiki wujudul hilal.
2. NU dan pemerintah melihat posisi hilal sudah di atas ufuk tapi masih belum memenuhi kriteria imkanur rukyah.
3. BMKG merekomendasikan istikmal sehingga Lebaran kemungkinan besar jatuh 21 Maret 2026.
4. Pengumuman final tetap bergantung pada Sidang Isbat Pemerintah yang menggabungkan hasil hisab dan rukyat.

Potensi keseragaman penetapan Idul Fitri 1447 H ini menjadi momen penting bagi umat Islam Indonesia untuk merayakan Lebaran secara bersamaan. Kejelasan waktu perayaan akan memudahkan masyarakat dalam mempersiapkan ibadah dan tradisi mudik. Para ahli dan tokoh agama juga mengimbau masyarakat agar menunggu hasil resmi dan tidak terpancing oleh prediksi sepihak.

Dengan panduan hisab yang cermat dan pengamatan rukyat yang disiplin, harapan untuk penyatuan hari raya semakin terbuka. Ini menjadi sinyal positif dalam mempererat ukhuwah Islamiyah dan meningkatkan harmoni sosial antar umat di tanah air.

Baca selengkapnya di: www.medcom.id

Berita Terkait

Back to top button