Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, mengajak masyarakat memaknai Idulfitri sebagai momentum memperkuat persatuan dan solidaritas sosial. Hal ini disampaikannya secara langsung dalam khutbah Salat Idulfitri 1447 H di Masjid Raya Baitul Khairaat, Palu, di hadapan ribuan jamaah yang hadir penuh khidmat.
Anwar Hafid menilai Idulfitri bukan sekadar akhir dari ibadah Ramadan, melainkan sebagai titik awal mempererat hubungan sosial antarsesama warga Sulawesi Tengah. Ia menekankan pentingnya menjaga nilai kebersamaan yang telah terbentuk selama Ramadan agar tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam khutbahnya, Anwar menggambarkan Ramadan sebagai perjalanan spiritual yang meninggalkan keimanan dan karakter kuat bagi umat Muslim di Tanah Tadulako. Ia mengingatkan bahwa bulan Ramadan merupakan waktu untuk membentuk keteguhan dan keikhlasan, bukan hanya rutinitas ibadah semata.
Gubernur Sulawesi Tengah itu menyatakan, “Ramadan yang kita cintai telah pergi dan meninggalkan kita dengan perasaan rindu yang mendalam.” Menurutnya, momen setelah Ramadan adalah saat yang tepat untuk merenungkan sejauh mana nilai-nilai yang dipelajari selama bulan suci tersebut sudah terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, Anwar menegaskan bahwa Idulfitri juga adalah ruang penguatan spiritual dan evaluasi diri agar amal ibadah selama Ramadan diterima oleh Allah SWT. Kemenangan dalam Idulfitri bukan hanya simbol perayaan, tetapi juga refleksi atas peningkatan kualitas keimanan setiap individu.
Dalam konteks sosial, Gubernur mengajak seluruh warga untuk membuka pintu maaf lebar-lebar. Ia menegaskan bahwa saling memaafkan adalah fondasi utama membangun kehidupan masyarakat yang harmonis dan penuh kedamaian.
Anwar Hafid mengatakan, “Pada hari ini juga semoga pintu maaf untuk kita terbuka lebar, selamat hari raya Idulfitri untuk kita semua.” Pernyataan ini menjadi cerminan komitmen beliau dalam menumbuhkan nilai toleransi dan persatuan.
Lebih jauh, ia menambahkan bahwa semangat Idulfitri harus dijadikan penguat persatuan dan solidaritas sosial di Sulawesi Tengah. Nilai-nilai kebaikan yang tumbuh selama Ramadan harus tetap terjaga dan diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat.
Pelaksanaan Salat Idulfitri di Masjid Raya Baitul Khairaat berlangsung dengan tertib dan penuh kekhusyukan. Keterlibatan Anwar Hafid dalam momen ini tidak sekadar seremonial, melainkan simbol kedekatan antara pemimpin dan rakyat dalam konteks keagamaan yang sarat makna.
Dengan hadirnya Gubernur, masyarakat Sulawesi Tengah mendapatkan motivasi untuk terus memperkuat ikatan sosial dan komitmen beragama di tengah tantangan zaman. Idulfitri diharapkan menjadi momentum konsolidasi nilai moral demi membangun kehidupan bersama yang lebih baik dan damai.





