Basarnas mengerahkan personel penuh dari tiga kantor SAR untuk mempercepat penanganan pascagempa bermagnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah barat daya Pulau Batang Dua, Ternate, dan Maluku Utara. Langkah ini diambil setelah gempa memicu peringatan dini tsunami dan guncangannya turut dirasakan di sejumlah daerah di Sulawesi Utara, Maluku Utara, hingga Gorontalo.
Kepala Basarnas Mohammad Syafii menyebut Kantor SAR yang terlibat berasal dari Sulawesi Utara, Maluku, dan Palu. Menurut dia, seluruh unsur bergerak bersama TNI, Polri, BPBD, dan potensi SAR lain untuk memastikan kondisi warga serta memetakan dampak kerusakan di lapangan.
Respons cepat di lapangan
Syafii mengatakan tim daerah langsung melakukan asesmen cepat untuk mengetahui ada atau tidaknya korban serta tingkat kerusakan bangunan. Penilaian awal ini menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan evakuasi, pertolongan, dan dukungan lanjutan di lokasi terdampak.
Ia juga menyebut pada Kamis sore pihaknya masih menerima laporan satu korban meninggal dunia dan satu korban lainnya dalam perawatan. Informasi itu terus diperbarui seiring masuknya hasil pemeriksaan dari tim gabungan di lapangan.
Koordinasi lintas lembaga diperkuat
Basarnas menempatkan penanganan ini di bawah koordinasi BNPB agar alur komando tetap terjaga. Syafii menegaskan sistem informasi yang terhubung dengan BMKG dan BNPB membantu penyampaian peringatan secara cepat dari pusat komando ke unit-unit daerah.
Skema itu penting karena kondisi pascagempa masih dinamis dan berpotensi menimbulkan gempa susulan. Dengan sistem yang terintegrasi, tim bisa merespons lebih cepat saat ada perubahan situasi di lapangan.
Data gempa dan dampak awal
BMKG mencatat gempa kuat itu memunculkan getaran yang terasa di Ternate, Manado, dan Gorontalo dengan intensitas hingga skala IV MMI. Di sejumlah pesisir, gelombang tsunami sempat terdeteksi sesaat setelah gempa terjadi.
Berikut data awal yang disebut dalam laporan:
- Halmahera Barat: 0,30 meter
- Bitung: 0,20 meter
- Minahasa Utara: 0,75 meter
Peringatan dini tsunami kemudian diumumkan berakhir pada pukul 09.56 WIB. Setelah status tersebut dicabut, tim SAR gabungan mulai masuk untuk mengidentifikasi wilayah terdampak secara lebih detail.
Kesiapsiagaan untuk menghadapi susulan
Basarnas menilai penyiagaan penuh personel dari tiga kantor SAR bisa membuat proses evakuasi lebih sigap jika muncul bencana susulan. Kehadiran tim di wilayah terdampak juga diharapkan memberi rasa aman bagi warga yang masih berada di area rawan.
Syafii menegaskan fokus utama saat ini adalah asesmen terhadap warga dan bangunan, terutama pada wilayah yang daya dukung infrastrukturnya mungkin terganggu. “Kami melaksanakan tugas, melaksanakan asesmen terhadap warga dan dampak dari bangunan-bangunan, khususnya dalam hal ini Basarnas langsung di bawah koordinasi dari BNPB,” ujarnya.
Situasi terkini penanganan bencana
Dengan status peringatan dini tsunami yang sudah berakhir, operasi tanggap darurat kini bergerak ke tahap identifikasi dampak yang lebih rinci. Tim gabungan tetap memantau kemungkinan adanya laporan baru dari wilayah pesisir dan permukiman yang terdampak guncangan paling kuat.
Basarnas juga terus memusatkan perhatian pada keselamatan warga, terutama di titik-titik yang berdekatan dengan pantai dan area bangunan yang rawan rusak. Penanganan cepat ini menjadi kunci agar proses evakuasi, pemeriksaan korban, dan pemulihan awal dapat berjalan lebih terarah di Maluku Utara dan Sulawesi Utara.





