Jumat Agung diperingati umat Kristen untuk mengenang penyaliban dan wafatnya Yesus Kristus, dan momen ini menjadi salah satu hari paling sakral dalam rangkaian Pekan Suci. Meski sama-sama memusatkan perhatian pada peristiwa salib, tradisi Katolik dan Protestan mengekspresikannya dengan cara yang berbeda dalam tata ibadah, simbol, dan penekanan spiritual.
Perbedaan itu penting dipahami karena Jumat Agung bukan hanya soal ritual, tetapi juga soal makna iman yang dihayati masing-masing gereja. Di tengah masyarakat yang beragam, pemahaman ini membantu umat saling menghargai tanpa mengaburkan inti perayaan yang sama: perenungan atas kasih dan pengorbanan Yesus Kristus.
Makna Jumat Agung bagi umat Kristen
Jumat Agung dipandang sebagai hari duka sekaligus perenungan mendalam. Umat diajak mengingat penderitaan Yesus di kayu salib dan memaknai pengorbanan itu sebagai bagian dari keselamatan.
Dalam tradisi Katolik maupun Protestan, suasana ibadah biasanya dibuat hening dan serius. Tidak ada nuansa pesta, karena fokus utamanya adalah refleksi iman, doa, dan pembacaan kisah penyaliban.
Perayaan Jumat Agung dalam tradisi Katolik
Di Gereja Katolik, Jumat Agung tidak dirayakan dengan misa biasa. Sebagai gantinya, umat mengikuti liturgi khusus yang terdiri dari tiga bagian utama, yakni liturgi sabda, penghormatan salib, dan komuni.
Pada bagian penghormatan salib, umat maju bergiliran untuk mencium atau menyentuh salib sebagai bentuk hormat atas pengorbanan Kristus. Praktik ini menjadi salah satu ciri paling menonjol dalam ibadah Jumat Agung Katolik.
Gereja Katolik juga menekankan puasa dan pantang sebagai bentuk penyangkalan diri. Suasana ibadah dijaga tetap hening, sederhana, dan minim dekorasi agar umat benar-benar masuk dalam suasana duka dan perenungan.
Perayaan Jumat Agung dalam tradisi Protestan
Dalam tradisi Protestan, Jumat Agung biasanya dirayakan dengan pendekatan yang lebih sederhana. Fokus utama ibadah ada pada firman Tuhan, pembacaan Alkitab, doa, dan khotbah yang mengulas makna penderitaan Yesus.
Sebagian gereja Protestan menambahkan nyanyian rohani, pembacaan naratif, atau drama penyaliban untuk membantu jemaat memahami peristiwa tersebut secara lebih hidup. Namun, bentuk ibadahnya tetap cenderung fleksibel dan menyesuaikan kebiasaan masing-masing gereja.
Berbeda dari Katolik, tradisi Protestan umumnya tidak menempatkan ritual penghormatan salib sebagai bagian utama liturgi. Penekanan lebih diarahkan pada pemahaman pribadi atas karya keselamatan dan respons iman jemaat.
Perbedaan utama Jumat Agung Katolik dan Protestan
-
Tata ibadah
Katolik memakai liturgi yang lebih terstruktur dan simbolis. Protestan cenderung lebih sederhana dan fleksibel. -
Penghormatan salib
Katolik menjadikan penghormatan salib sebagai bagian penting ibadah. Protestan tidak menekankan ritual ini dalam bentuk yang sama. -
Penekanan ibadah
Katolik kuat pada simbol, liturgi, dan suasana sakral. Protestan lebih menitikberatkan pada firman, khotbah, dan pemahaman iman. -
Praktik puasa
Katolik umumnya menjalankan puasa dan pantang sebagai bagian dari tradisi. Dalam Protestan, puasa lebih sering bersifat anjuran dan tidak selalu menjadi kewajiban liturgis. - Nuansa perayaan
Katolik cenderung lebih hening dan formal. Protestan bisa lebih beragam, tetapi tetap menjaga suasana khidmat.
Persamaan yang tetap menyatukan
Walau berbeda dalam tata cara, kedua tradisi memiliki inti yang sama. Jumat Agung tetap dipahami sebagai momen untuk mengenang kasih, pengorbanan, pertobatan, dan harapan akan keselamatan.
Baik Katolik maupun Protestan sama-sama menempatkan hari ini sebagai bagian penting dari perjalanan iman menuju Paskah. Di titik ini, perbedaan liturgi tidak mengubah substansi utama perayaannya.
Mengapa perbedaan ini penting dipahami
Di banyak daerah, umat Kristen dari berbagai denominasi hidup berdampingan dalam masyarakat yang majemuk. Karena itu, pengetahuan tentang perbedaan perayaan Jumat Agung membantu menghindari kesalahpahaman dan memperkuat sikap saling menghormati.
Pemahaman yang baik juga membuat masyarakat lebih peka terhadap tradisi masing-masing. Dengan begitu, Jumat Agung dapat dilihat bukan sebagai pembeda yang memisahkan, melainkan sebagai ruang bersama untuk merenungkan nilai pengorbanan dan kasih yang menjadi inti ajaran Kristen.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com




