Usia 17 Raih 15 LoA Kampus Top Dunia, Jejak Rayyan Shahab Menuju Pendidikan Global

Ahmad Ali Rayyan Shahab, siswa MAN Insan Cendekia Pekalongan, menjadi sorotan setelah meraih 15 letter of acceptance dari universitas top dunia saat usianya baru 17 tahun. Surat penerimaan itu datang dari kampus-kampus di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Belanda, Selandia Baru, dan Australia, dengan banyak di antaranya masuk jajaran 10 besar hingga 50 besar dunia.

Pencapaian Rayyan menunjukkan bahwa jalur menuju kampus kelas dunia bisa dibangun sejak bangku sekolah, asalkan ada disiplin, lingkungan yang mendukung, dan persiapan yang konsisten. Ia tidak hanya menonjol di akademik, tetapi juga menguatkan portofolionya lewat pengalaman internasional, aktivitas organisasi, dan kepedulian terhadap isu lingkungan.

Didorong Keluarga untuk Go Global

Rayyan mengaku dorongan terbesar datang dari orang tuanya sejak kecil. Ia dibiasakan mengenal dunia luar melalui tontonan, bacaan, dan percakapan yang menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap pendidikan global.

“Sejak kecil saya dimotivasi oleh orang tua untuk go global. Diajak nonton di TV atau internet tentang dunia luar. Dibacain atau suruh baca tentang dunia luar. Saya takjub,” ujar Rayyan.

Pesan keluarga itu menjadi pegangan dalam proses belajarnya. Ia menyebut orang tua meminta dirinya melampaui capaian pendidikan mereka, dengan target jelas: lolos ke kampus top dunia.

Rayyan juga menegaskan bahwa ia membangun kemampuan bahasa Inggris tanpa kursus. Ia belajar dari sekolah, buku, film, musik, dan keberanian untuk berbicara langsung dalam bahasa Inggris.

Belajar dari Finlandia dan Pengalaman Internasional

Langkah penting dalam perjalanan Rayyan datang saat ia mengikuti program pertukaran pelajar AFS selama 10 bulan di Finlandia ketika duduk di kelas XI. Selama program itu, ia tinggal bersama keluarga angkat dan belajar di sekolah internasional bersama siswa dari berbagai negara.

Pengalaman tersebut memberinya gambaran nyata tentang cara belajar di lingkungan global. Ia juga menyerap banyak pelajaran, mulai dari sistem pendidikan hingga strategi masuk perguruan tinggi luar negeri.

Menurut Rayyan, Finlandia memberinya bekal akademik dan nonakademik yang kuat, terutama di bidang lingkungan. Ia melihat langsung pengelolaan sampah dan air yang lebih tertata, lalu menjadikannya inspirasi untuk pengembangan minat studinya.

Universitas yang Menerima Rayyan

Rayyan menerima LoA dari 15 universitas di enam negara. Beberapa di antaranya termasuk kampus ternama yang dikenal sangat kompetitif dalam seleksi penerimaan mahasiswa internasional.

Daftar universitas yang disebut menerima Rayyan antara lain:

  1. University of California, San Diego (UCSD) – Geoscience
  2. University of California, Davis – Environmental Engineering
  3. University of British Columbia – Bachelor of Applied Engineering dan Bachelor of Sustainability
  4. University of Toronto – Physical and Environmental Science
  5. University of Waterloo – Honours Environmental Engineering, Co-op
  6. McGill University – Bachelor of Engineering in Bioresource Engineering
  7. Wageningen University & Research – BSc Environmental Science
  8. University of Manchester – Environmental Science
  9. University of Auckland – Bachelor of Science in Environmental Science

Sebagian besar kampus tersebut dikenal dengan reputasi akademik yang kuat, khususnya di bidang sains, teknik, dan lingkungan. Hal ini memperlihatkan konsistensi minat Rayyan pada isu-isu keberlanjutan dan rekayasa lingkungan.

Aktif di Organisasi dan Isu Lingkungan

Di luar ruang kelas, Rayyan aktif dalam berbagai kegiatan yang memperkuat profil kepemimpinannya. Ia terlibat dalam komunitas alumni AFS, memimpin angkatan, aktif di Green Generation dan Greenfaith, serta menjadi co-founder organisasi lingkungan di sekolah.

Ia bersama teman-temannya mendirikan Atma Bawana, sebuah inisiatif yang fokus pada pengelolaan sampah di lingkungan sekolah berasrama. Kegiatan itu mendapat dukungan dari kepala madrasah, para guru, dan apresiasi dari Dinas Lingkungan Hidup Pemkot Pekalongan.

Rayyan menyebut seluruh aktivitas itu ikut memperkuat dokumen seleksi ke perguruan tinggi luar negeri. Dalam proses masuk universitas internasional, prestasi nonakademik sering menjadi pembeda ketika nilai akademik para pelamar sama-sama tinggi.

Persiapan Masuk Kampus Luar Negeri

Setelah kembali ke Indonesia, Rayyan tidak berhenti pada pengalaman pertukaran pelajar. Ia aktif mencari informasi pendaftaran universitas luar negeri, mengikuti pameran pendidikan, berdiskusi dengan keluarga, serta mempersiapkan IELTS dan SAT sebagai syarat seleksi.

Ia juga sedang mengajukan beasiswa LPDP Garuda untuk membuka jalan kuliah di salah satu kampus terbaik dunia. Harapannya sederhana namun kuat, yakni membawa ilmu pulang dan menerapkannya untuk Indonesia.

“Alhamdulillah secara akademik guru di Finlandia memberikan apresiasi dan rekomendasi. Begitu pun di kegiatan nonakademik, banyak hal yang saya dapatkan,” kata Rayyan.

Faktor yang Membentuk Pencapaian Rayyan

  1. Dorongan keluarga sejak kecil untuk berpikir global.
  2. Kebiasaan belajar bahasa Inggris secara mandiri.
  3. Pengalaman pertukaran pelajar di Finlandia.
  4. Aktivitas organisasi dan kepedulian lingkungan.
  5. Persiapan serius untuk IELTS, SAT, dan seleksi universitas.

Perjalanan Rayyan juga menunjukkan bahwa portofolio masuk universitas luar negeri tidak hanya dibangun dari nilai rapor. Pengalaman sosial, kepemimpinan, serta kontribusi nyata di komunitas sering menjadi nilai tambah yang sangat diperhitungkan oleh kampus internasional.

Bagi Rayyan, mimpi harus diperjuangkan sejak dini dan tidak cukup hanya ditunggu. Sikap itu tercermin dalam langkahnya yang konsisten membangun prestasi akademik, pengalaman global, dan aksi lingkungan hingga berhasil mengantongi 15 LoA dari kampus-kampus bergengsi dunia.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com

Berita Terkait

Back to top button