Harga ikan laut segar di berbagai pasar di Aceh masih bertahan tinggi sejak awal Lebaran hingga dua pekan setelahnya. Kondisi ini membuat pedagang resah karena modal belanja naik, sementara daya beli pembeli belum tentu ikut menyesuaikan.
Pantauan di pusat pasar ikan Pante Teungoh, Kota Sigli, Kabupaten Pidie, pada Senin (6/4), menunjukkan beberapa jenis ikan masih dijual jauh di atas harga normal. Ikan dencis misalnya, dipatok Rp50.000 per kilogram, padahal biasanya sekitar Rp30.000 per kilogram.
Harga berasap naik sejak awal Lebaran
Kenaikan juga terjadi pada ikan gembung yang bertahan di kisaran Rp45.000-Rp50.000 per kilogram dari harga normal Rp35.000 per kilogram. Bandeng ikut naik dari sekitar Rp30.000 per kilogram menjadi Rp50.000-Rp55.000 per kilogram.
Pedagang juga mencatat ikan tongkol masih bertahan di harga Rp35.000 per kilogram dari biasanya Rp25.000 per kilogram. Sementara itu, mujair ukuran besar kini dijual sekitar Rp40.000 per kilogram dan mujair ukuran sedang bertahan di Rp30.000 per kilogram dari harga normal sekitar Rp20.000 per kilogram.
Pasokan nelayan berkurang
Abdul Muthalib, pedagang ikan di Pasar Pante Teungoh, mengatakan kenaikan harga terjadi karena produksi ikan dari nelayan menurun. Ia menyebut pasokan dari laut tidak seramai hari-hari biasa sehingga harga di tingkat pedagang ikut terdorong naik.
“Produksi ikan dari nelayan berkurang. Maka harganya mahal,” kata Abdul Muthalib.
Menurut dia, rendahnya pasokan itu berkaitan dengan kondisi cuaca yang tidak bersahabat di perairan Selat Malaka. Gelombang tinggi dan angin kencang membuat nelayan tradisional dengan kapal kecil sulit melaut, bahkan berisiko mengalami kecelakaan.
Pedagang keliling ikut terpukul
Tarmizi, penjual ikan keliling di Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie, merasakan langsung dampak harga yang belum turun. Ia mengatakan baru empat hari kembali berjualan setelah libur Lebaran, tetapi harga ikan yang tinggi membuat keuntungan tidak sebanding dengan modal.
“Setelah lebaran dua pekan lalu, baru empat hari saya beraktivitas menjual ikan. Tapi harganya masih mahal. Modal kita tinggi sedangkan keuntungan tidak sesuai,” ujar Tarmizi.
Kondisi ini menekan pedagang kecil yang bergantung pada pasokan harian. Mereka harus menyesuaikan harga jual di lapangan agar tidak merugi, namun di sisi lain juga menghadapi pembeli yang lebih selektif karena harga ikan naik hampir di semua jenis.
Daftar harga ikan yang terpantau di Sigli
- Dencis: Rp50.000/kg, dari biasanya Rp30.000/kg.
- Gembung: Rp45.000-Rp50.000/kg, dari biasanya Rp35.000/kg.
- Bandeng: Rp50.000-Rp55.000/kg, dari biasanya Rp30.000/kg.
- Tongkol: Rp35.000/kg, dari biasanya Rp25.000/kg.
- Mujair besar: Rp40.000/kg, dari biasanya Rp35.000/kg.
- Mujair sedang: Rp30.000/kg, dari biasanya Rp20.000/kg.
Cuaca jadi faktor penentu harga
Di banyak pasar pesisir, harga ikan biasanya sangat dipengaruhi oleh hasil tangkapan harian. Saat cuaca memburuk, jumlah ikan yang masuk ke tempat pelelangan atau pasar tradisional akan menurun dan langsung tercermin pada harga eceran.
Dalam situasi seperti ini, pedagang harus menghadapi biaya operasional yang tetap berjalan, mulai dari transportasi, es batu, hingga penyimpanan agar ikan tetap segar. Jika pasokan tidak segera pulih, harga berpotensi tetap tinggi beberapa waktu ke depan, terutama untuk ikan konsumsi yang paling banyak dicari masyarakat selama libur panjang dan masa setelah Lebaran.
Bagi pedagang di Aceh, harapan terbesar saat ini ada pada membaiknya cuaca di perairan Selat Malaka agar nelayan bisa kembali melaut lebih aman dan hasil tangkapan membaik. Jika pasokan ikan normal kembali, harga di pasar biasanya ikut bergerak turun dan memberi ruang napas bagi pedagang maupun pembeli.
Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com




