BMKG memperkirakan potensi kemarau panjang akibat fenomena El Nino akan terjadi pada tahun ini, dan kondisi itu dinilai berisiko mengganggu produksi pertanian di sejumlah daerah. Dosen Agribisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Aris Slamet Widodo, menegaskan kesiapan sektor pertanian masih belum merata sehingga sebagian petani tetap rentan saat pasokan air menipis.
“Sebagian wilayah sudah memiliki adaptasi seperti irigasi teknis dan penggunaan varietas tahan kering, tetapi banyak petani masih bergantung pada hujan sehingga sangat rentan,” ujarnya pada Rabu (8/4). Menurut dia, kekeringan bukan hanya menekan hasil panen, tetapi juga dapat memicu gagal tanam di wilayah yang tidak memiliki dukungan irigasi memadai.
Ancaman Langsung pada Produksi Pangan
Kemarau panjang biasanya menurunkan ketersediaan air untuk lahan pertanian, terutama di area tadah hujan. Dalam situasi seperti ini, tanaman tidak mendapat suplai air yang cukup untuk tumbuh optimal sehingga produktivitas menurun dan kualitas hasil ikut terdampak.
Aris menyebut dampak paling terasa adalah penurunan hasil panen. Pada kondisi yang lebih berat, lahan tanpa irigasi bisa mengalami gagal tanam, bahkan gagal panen jika kekeringan berlangsung terlalu lama.
Kondisi kering juga dapat menciptakan tekanan tambahan bagi tanaman karena tanah kehilangan kelembapan lebih cepat. Dampaknya bukan hanya pada jumlah produksi, tetapi juga pada mutu hasil pertanian yang diterima petani di lapangan.
Tanaman yang Paling Rentan
Tidak semua komoditas terdampak dengan tingkat yang sama, tetapi tanaman yang membutuhkan banyak air cenderung paling rawan saat kemarau panjang. Padi menjadi salah satu komoditas yang paling sensitif terhadap keterbatasan air, terutama di lahan yang mengandalkan hujan.
Hortikultura seperti cabai dan tomat juga sangat peka terhadap perubahan kelembapan tanah. Sementara itu, jagung disebut terdampak terutama pada fase awal tanam ketika kebutuhan air masih tinggi untuk pertumbuhan awal.
Tanaman perkebunan muda juga memerlukan perhatian khusus selama periode kering. Kopi, kakao, dan kelapa sawit muda berisiko mengalami tekanan pertumbuhan, sedangkan area perkebunan yang kering juga menghadapi potensi kebakaran lebih besar.
Hama dan Kualitas Hasil Ikut Terancam
Kemarau panjang tidak hanya memengaruhi kuantitas produksi, tetapi juga membuka peluang naiknya serangan hama. Aris menyebut hama seperti tikus dan wereng cenderung meningkat pada musim kering, sehingga petani perlu memperkuat pengendalian di lapangan.
Kualitas hasil panen juga bisa turun akibat kekurangan air. Gabah hampa, ukuran hasil yang lebih kecil, dan mutu produk yang tidak seragam menjadi risiko yang kerap muncul ketika tanaman mengalami stres kekeringan.
Berikut sejumlah dampak yang paling sering muncul saat kemarau panjang:
- Produktivitas menurun karena tanaman kekurangan air.
- Gagal tanam dapat terjadi pada lahan tanpa irigasi.
- Serangan hama meningkat pada kondisi kering.
- Kualitas hasil panen turun, termasuk gabah hampa dan ukuran hasil yang lebih kecil.
- Risiko kebakaran meningkat pada area pertanian dan perkebunan.
Kesiapan Petani Masih Belum Merata
Sebagian petani di wilayah dengan irigasi teknis dan akses informasi iklim yang baik relatif lebih siap menghadapi kemarau panjang. Namun, banyak petani kecil masih bergantung pada curah hujan sehingga sangat rawan ketika pola musim bergeser akibat El Nino.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah, penyuluh, dan lembaga terkait perlu memperkuat distribusi informasi iklim secara cepat dan akurat. Data cuaca yang mudah diakses dapat membantu petani menentukan waktu tanam, memilih varietas, dan mengatur penggunaan air secara lebih efisien.
Menurut Aris, pemerataan kesiapan menjadi faktor penting agar risiko penurunan produksi pangan bisa ditekan. Tanpa dukungan adaptasi yang memadai, kemarau panjang berpotensi mengganggu keberlanjutan produksi pertanian di banyak sentra tanam.
Langkah Adaptasi yang Perlu Diperkuat
Upaya adaptasi di sektor pertanian perlu berjalan sebelum kekeringan mencapai puncaknya. Petani di wilayah rawan idealnya memperhatikan ketersediaan air, menyesuaikan kalender tanam, dan memilih varietas yang lebih tahan kekeringan.
Di sisi lain, penguatan jaringan irigasi dan pemantauan iklim harus terus dilakukan agar sektor pertanian tidak terlalu bergantung pada musim hujan. Dengan kesiapan yang lebih baik, dampak kemarau panjang terhadap bahan pangan strategis seperti padi, jagung, cabai, tomat, dan komoditas perkebunan dapat ditekan lebih dini.
Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com




