26 Daerah Jateng Siaga Cuaca Ekstrem, Rob Pantura Mengancam Aktivitas Warga

BMKG mengingatkan potensi cuaca ekstrem di 26 daerah Jawa Tengah pada Kamis (9/4), dengan ancaman hujan lebat, angin kencang, dan sambaran petir. Di saat yang sama, wilayah Pantura juga perlu mewaspadai banjir rob akibat naiknya tinggi muka air laut pasang yang diperkirakan mencapai 1 meter.

Peringatan ini penting karena cuaca ekstrem berpotensi memicu bencana hidrometeorologi, terutama di wilayah pegunungan, dataran tinggi, dan kawasan pesisir. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan longsor, banjir, pohon tumbang, serta gangguan aktivitas harian di sejumlah daerah terdampak.

Potensi Cuaca Ekstrem Meluas di Sejumlah Wilayah

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Harits Syahid, menyebut peluang cuaca ekstrem meningkat di 26 titik wilayah Jawa Tengah. Kondisi ini dinilai berbahaya karena hujan deras yang disertai angin kencang dan petir dapat berlangsung dalam waktu singkat namun berdampak besar.

Harits menegaskan warga perlu waspada terutama di daerah pegunungan dan dataran tinggi. Pada wilayah seperti itu, intensitas hujan yang tinggi dapat memperbesar risiko tanah longsor, terutama jika tanah sudah jenuh air akibat hujan sebelumnya.

26 Daerah yang Perlu Siaga

Berdasarkan data BMKG, wilayah berpotensi cuaca ekstrem tersebar di kawasan selatan, pegunungan, Solo Raya, hingga sebagian Pantura. Berikut daftar daerah yang disebut perlu meningkatkan kewaspadaan.

  1. Wilayah selatan dan pegunungan: Cilacap, Banyumas, Kebumen, Purworejo, Wonosobo, Mungkid, Magelang, Temanggung, Bumiayu, dan Majenang.
  2. Solo Raya: Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar, Sragen, dan Surakarta.
  3. Pantura dan sekitarnya: Grobogan, Blora, Pati, Kudus, Jepara, Ungaran, Brebes, Salatiga, dan Ambarawa.

Di luar wilayah tersebut, BMKG memprakirakan Jawa Tengah tetap berpotensi diguyur hujan ringan hingga sedang. Suhu udara berada pada kisaran 18-32 derajat Celsius, dengan kelembaban 60-95 persen.

Rob Ancam Pantura pada Sore Hari

Ancaman lain datang dari pesisir utara Jawa Tengah. Meski gelombang tinggi di perairan Jateng dilaporkan mulai mereda dan relatif aman untuk pelayaran, BMKG mengingatkan banjir rob justru berpotensi meningkat di kawasan pantai utara.

Prakirawan BMKG Stasiun Maritim Tanjung Emas Semarang, Doni Prastio, menyampaikan tinggi pasang air laut maksimum diperkirakan mencapai 1 meter. Menurut dia, rob berpotensi terjadi di sejumlah daerah seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Semarang, Demak, Jepara, dan Pati.

Doni menjelaskan potensi banjir rob paling mungkin terjadi pada pukul 14.00-17.00 WIB. Pada jam tersebut, aktivitas warga di kawasan pesisir berisiko terganggu, terutama jika air laut meluap ke permukiman dan akses jalan.

Dampak yang Perlu Diantisipasi Warga

Rob tidak hanya menggenangi area pantai, tetapi juga dapat mengganggu arus barang dan mobilitas orang. BMKG menyebut dampaknya bisa merembet ke transportasi darat, bongkar muat di pelabuhan, budidaya perikanan darat, hingga aktivitas petani garam.

Kondisi ini membuat masyarakat pesisir perlu waspada terhadap kemungkinan penurunan kualitas aktivitas ekonomi harian. Jika genangan bertahan lebih lama, kerugian bisa meluas ke infrastruktur kecil, kendaraan, dan peralatan usaha warga.

Langkah Aman Saat Cuaca Buruk

BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak meremehkan cuaca yang berubah cepat. Saat angin kencang dan petir muncul, warga disarankan segera mencari tempat aman dan menghindari lokasi terbuka yang berisiko.

  1. Jangan berteduh di bawah pohon besar saat hujan disertai angin kencang.
  2. Hindari berdiri dekat papan reklame, baliho, atau bangunan yang tidak kokoh.
  3. Kurangi aktivitas di luar rumah ketika petir mulai intens.
  4. Warga pesisir perlu mewaspadai kenaikan air laut pada jam rawan rob.
  5. Pantau informasi resmi BMKG secara berkala untuk mengetahui perkembangan cuaca.

BMKG menekankan bahwa kewaspadaan masyarakat menjadi faktor penting dalam menekan risiko korban maupun kerugian saat cuaca ekstrem dan rob melanda secara bersamaan. Situasi di Jawa Tengah pada hari itu menunjukkan bahwa ancaman tidak hanya datang dari hujan lebat di daratan, tetapi juga dari naiknya air laut di pesisir utara yang dapat mengganggu lebih banyak sektor sekaligus.

Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button