Bima Arya Peringatkan Generasi Muda, Masa Depan Indonesia Dimulai Dari Kesiapan Hari Ini

Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa generasi muda perlu mempersiapkan diri sejak sekarang untuk memimpin Indonesia saat peluang menjadi negara maju semakin terbuka. Menurutnya, kesiapan itu tidak cukup hanya dengan kemampuan teknis, tetapi juga harus ditopang oleh kepemimpinan yang visioner, adaptif, dan berani mengambil peran.

Pesan itu ia sampaikan saat menjadi keynote speaker dalam Garuda Youth Camp 2026 di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur, Jakarta, yang diikuti 558 peserta dari pelajar se-Jabodetabek. Di hadapan para peserta, Bima menekankan bahwa masa depan Indonesia akan sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia, terutama anak muda yang kini sedang memasuki fase pembentukan arah hidup dan karier.

Kepemimpinan jadi bekal utama

Bima menempatkan kepemimpinan sebagai unsur yang paling penting dalam menghadapi perubahan besar di masa depan. Ia mengutip prinsip yang menekankan bahwa pemimpin bukan hanya mengetahui arah, tetapi juga harus mampu memberi contoh dan berjalan di depan.

“Leaders are those who know the way, who show the way, and who lead the way,” ujarnya. Pernyataan itu ia gunakan untuk menegaskan bahwa pemimpin ideal tidak berhenti pada gagasan, melainkan mampu menerjemahkan visi menjadi tindakan nyata.

Ia juga mengingatkan bahwa generasi muda perlu mulai memikirkan tujuan hidup dengan lebih terarah. Pertanyaan tentang posisi diri dalam dua dekade mendatang, menurut Bima, penting agar anak muda tidak bergerak tanpa orientasi yang jelas.

Peluang besar, tapi butuh kesiapan

Bima menyebut proyeksi global menunjukkan Indonesia punya kesempatan besar menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia dalam beberapa dekade ke depan. Ia mengutip gambaran bahwa dalam 20 tahun mendatang, Indonesia diproyeksikan masuk jajaran lima ekonomi terbesar di dunia.

Namun, peluang itu tidak otomatis terwujud tanpa kesiapan generasi penerus. Bima menekankan bahwa kualitas pendidikan, semangat belajar, dan penguasaan keterampilan harus menjadi fondasi utama agar bonus demografi benar-benar memberi manfaat bagi bangsa.

Ia menegaskan pentingnya sikap terus belajar di berbagai situasi. Pesan itu ia sampaikan sebagai dorongan agar anak muda tidak cepat puas dan tetap relevan menghadapi perubahan zaman yang bergerak cepat.

Disiplin, konsisten, dan peka terhadap perubahan

Selain pengetahuan dan keterampilan, Bima menilai disiplin serta konsistensi menjadi pembeda penting dalam perjalanan menuju keberhasilan. Ia menyebut kecerdasan saja tidak cukup bila tidak disertai ketekunan menjalani proses.

Menurutnya, pemenang di masa depan adalah mereka yang mampu menjaga konsistensi dan kedisiplinan dalam jangka panjang. Karena itu, generasi muda diminta tidak hanya fokus pada hasil akhir, tetapi juga pada kebiasaan baik yang dibangun sejak dini.

Bima juga menyoroti perlunya kepekaan terhadap arah perkembangan zaman. Di tengah perubahan global, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kerja keras, tetapi juga oleh kemampuan membaca peluang dan menyesuaikan diri dengan kondisi baru.

Belajar dari perbedaan dan organisasi

Dalam paparannya, Bima menekankan bahwa pemimpin yang kuat lahir dari pengalaman berinteraksi dengan keberagaman. Ia menilai tidak ada pemimpin hebat yang tumbuh tanpa terbiasa menghadapi perbedaan pandangan, latar belakang, maupun cara berpikir.

Karena itu, ia mendorong anak muda aktif dalam organisasi sebagai ruang belajar yang nyata. Organisasi dinilai penting bukan hanya untuk memperluas jejaring, tetapi juga untuk melatih kerja sama, tanggung jawab, dan kemampuan memimpin dalam situasi yang beragam.

Bagi Bima, proses tersebut menjadi bagian dari pembentukan karakter pemimpin masa depan. Generasi muda yang terbiasa berada dalam lingkungan yang beragam dinilai akan lebih siap menghadapi tantangan sosial dan kebangsaan yang semakin kompleks.

Masa depan harus disiapkan sejak awal

Bima menutup pesannya dengan ajakan agar anak muda tidak sekadar menunggu masa depan datang. Ia menekankan bahwa masa depan harus disiapkan melalui langkah konkret sejak sekarang, bukan dibiarkan berjalan tanpa arah.

“Masa depan bukan ditunggu, bukan dinantikan, tetapi disiapkan,” ujarnya. Pesan itu menegaskan bahwa kesiapan generasi muda akan menjadi faktor penting ketika Indonesia memasuki fase besar sebagai negara dengan peluang ekonomi yang semakin kuat.

Source: www.viva.co.id
Exit mobile version