Pelajar SMA kini makin berani menempatkan diri dalam percakapan besar soal artificial intelligence (AI). Di forum The Cornerstone bertema “AI & The Future We Are Building”, mereka tidak hanya mendengar, tetapi juga mengkritisi dampak AI terhadap pendidikan, pekerjaan, dan arah sosial masyarakat.
Forum ini mempertemukan siswa dengan mantan menteri, pembuat kebijakan, dan petinggi industri. Di panggung itu, para pelajar membahas isu yang jarang diangkat setajam ini, mulai dari bahaya “Kolonialisme Digital” hingga ancaman “Ilusi Kompetensi” di era AI.
Pelajar Tidak Lagi Jadi Penonton
The Cornerstone menghadirkan situasi yang berbeda dari forum pendidikan pada umumnya. Para siswa tampil sebagai student speaker dan ikut memimpin percakapan bersama para ahli yang hadir.
Format seperti ini menunjukkan bahwa suara pelajar bisa berdiri sejajar dalam diskusi yang menyentuh masa depan teknologi. Mereka menyampaikan keresahan secara terbuka, tetapi tetap dalam suasana yang terarah dan profesional.
Keberanian itu juga memperlihatkan perubahan cara pandang generasi muda terhadap AI. Mereka tidak hanya melihat teknologi sebagai alat praktis, tetapi juga menimbang konsekuensi yang mungkin muncul bagi kehidupan jangka panjang.
Ruang untuk Melatih Nalar Kritis
Acara ini digagas oleh EduALL, konsultan pendidikan yang selama ini dikenal mendampingi siswa yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri. Di balik layanan itu, EduALL membawa visi mencetak generasi pembawa perubahan atau Game Changer.
CEO EduALL, Devi Kasih, mengatakan bahwa Indonesia tidak kekurangan anak-anak cerdas. “Yang kita kekurangan adalah ruang untuk membentuk mereka dengan benar,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu, 9 Mei 2026.
Pernyataan itu menegaskan bahwa kemampuan berpikir kritis tidak cukup dibangun lewat target akademik semata. Di tengah disrupsi AI yang berpotensi mengubah tatanan sosial dan karier, pelajar dinilai perlu mendapat ruang untuk berdiskusi langsung dan menguji gagasan mereka.
Sorotan pada Bahaya AI
Isu yang dibahas para pelajar di The Cornerstone tidak berhenti pada manfaat teknologi. Mereka juga menyoroti risiko yang muncul jika AI berkembang tanpa kontrol dan tanpa keterlibatan generasi muda dalam perumusannya.
Istilah “Kolonialisme Digital” dan “Ilusi Kompetensi” menjadi contoh bagaimana pelajar membaca AI secara lebih kritis. Keduanya menggambarkan kekhawatiran bahwa teknologi dapat menciptakan ketergantungan baru sekaligus memberi rasa mampu yang belum tentu mencerminkan pemahaman yang sesungguhnya.
Pendekatan seperti ini penting karena AI kini hadir dalam berbagai aspek kehidupan. Dari ruang belajar hingga dunia kerja, dampaknya terus melebar dan menuntut respons yang lebih hati-hati dari masyarakat.
Tanpa Hierarki yang Kaku
Salah satu ciri yang menonjol dari The Cornerstone adalah hubungan yang setara antara siswa dan para profesional. Tidak ada jarak yang terlalu kaku, sehingga diskusi bisa berjalan lebih terbuka dan hidup.
Model forum ini memberi kesempatan bagi pelajar untuk menguji pemikiran mereka di hadapan pihak yang lebih berpengalaman. Dari situ, keresahan mereka tidak berhenti sebagai opini remaja, melainkan menjadi masukan yang layak diperhatikan dalam pembahasan yang lebih luas.
EduALL menilai keterlibatan seperti ini penting karena langkah strategis dan kebijakan masa depan kerap dirumuskan tanpa mendengar aspirasi generasi muda. Forum tersebut pun dirancang sebagai langkah awal agar suara calon pemimpin masa depan ikut masuk dalam percakapan kebijakan.
Dampak Sosial di Luar Ruangan
Rangkaian dialog kritis di The Cornerstone tidak berhenti pada diskusi di dalam forum. EduALL juga menyalurkan dampak sosial dari acara itu melalui kerja sama dengan Indonesia Mengajar.
Project Manager The Cornerstone, Theresya Afila, mengatakan bahwa 100 persen dana dari penjualan tiket dan donasi disalurkan untuk mendukung pemerataan pendidikan bagi anak-anak di pelosok Nusantara. Ia menegaskan bahwa pendidikan yang berdampak harus inklusif.
Langkah ini membuat forum tersebut tidak hanya menjadi ruang intelektual, tetapi juga sarana kontribusi nyata. Di tengah pembahasan soal AI dan masa depan, perhatian pada pemerataan pendidikan tetap dijaga sebagai bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia.
Source: www.medcom.id






