Harga pangan di sejumlah pasar tradisional Batam bergerak tidak stabil dalam sepekan terakhir. Kenaikan paling terasa terjadi pada cabai dan bawang, dengan lonjakan di beberapa titik pasar utama yang disebut menembus lebih dari 50%.
Pantauan di Pasar Jodoh, Pasar Tos 3000, dan Pasar Cipta Puri Tiban menunjukkan gejolak harga yang dirasakan langsung pedagang dan pembeli. Kondisi ini muncul saat pasokan melambat, ongkos distribusi naik, dan nilai tukar rupiah ikut memberi tekanan pada biaya masuk barang ke wilayah kepulauan seperti Batam.
Pasokan tersendat, harga ikut naik
Di Pasar Jodoh, pedagang menyebut kenaikan sudah terjadi sejak level distributor. Amir, 36, mengatakan harga dari agen sudah tinggi sebelum barang sampai ke lapak, sehingga pedagang hanya bisa menyesuaikan harga jual ke konsumen.
“Barang datang sudah mahal dari agen. Kami hanya menyesuaikan harga jual. Kenaikannya sudah lebih dari separuh dibanding sebelumnya,” kata Amir.
Kondisi serupa terlihat di Pasar Tos 3000. Aminah, 34, menilai keterlambatan pasokan membuat harga mudah melonjak, terutama saat stok yang masuk terbatas. Dalam situasi seperti itu, pedagang sering tidak punya banyak ruang untuk mempertahankan harga lama.
Biaya distribusi menekan harga jual
Di Pasar Cipta Puri Tiban, kenaikan harga memang dilaporkan lebih stabil dibanding dua pasar lain, tetapi tekanan biaya tetap terasa. Joni, 55, pedagang setempat, menyebut ongkos kirim yang naik ikut mendorong harga bawang dan cabai di tingkat konsumen.
Bagi Batam yang bergantung pada pasokan dari luar daerah, perubahan kecil pada jalur distribusi bisa langsung memengaruhi harga di pasar. Karena itu, setiap keterlambatan pengiriman atau kenaikan biaya logistik cepat terbaca pada harga harian.
Cabai dan bawang paling terdampak
Komoditas yang paling menonjol kenaikannya adalah cabai rawit dan bawang merah, masing-masing mencapai sekitar 55%. Cabai merah dan bawang putih juga naik lebih dari 50%, sementara tomat serta sayuran hijau bergerak di kisaran 20 hingga 40 persen.
Data acuan harga di Batam menunjukkan cabai rawit berada di Rp40.000 dengan kenaikan +55%, cabai merah Rp38.000 dengan kenaikan +52%, bawang merah Rp30.000 dengan kenaikan +55%, dan bawang putih Rp25.000 dengan kenaikan +52%. Tomat tercatat di Rp18.000 dengan kenaikan +39%.
Tekanan rupiah ikut memperberat situasi
Sejumlah pelaku pasar menilai gejolak ini tidak berdiri sendiri. Mereka melihat pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat di kisaran Rp17.500–Rp17.600 per dolar AS ikut menambah beban biaya, terutama untuk distribusi dan logistik barang kebutuhan pokok.
Kondisi tersebut membuat pedagang menghadapi dua tekanan sekaligus, yakni harga beli yang sudah tinggi dan biaya distribusi yang terus bergerak. Di sisi lain, konsumen juga harus menyesuaikan belanja harian ketika harga kebutuhan pokok naik dalam waktu singkat.
Para pedagang berharap ada langkah stabilisasi harga agar gejolak di pasar tradisional Batam tidak terus berlanjut. Selama pasokan belum lancar dan ongkos distribusi masih tinggi, cabai, bawang, dan komoditas harian lain diperkirakan tetap menjadi barang paling sensitif terhadap perubahan harga di kota ini.
Source: mediaindonesia.com