
Nama Said Iqbal kembali menjadi sorotan setelah disebut masuk dalam pertimbangan Istana untuk mengisi kabinet. Presiden Partai Buruh sekaligus Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) itu dikabarkan sedang dibahas untuk bergabung dalam Kabinet Merah Putih.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengonfirmasi bahwa pembahasan tersebut memang sedang berjalan. Ia menyebut posisi yang dipertimbangkan kemungkinan terkait langsung dengan isu ketenagakerjaan dan buruh.
Pembahasan masih berlangsung di Istana
Prasetyo menyampaikan bahwa proses diskusi belum sampai pada pengumuman resmi nama jabatan Said Iqbal. Saat ditanya soal kemungkinan posisi tertentu, termasuk Wakil Menteri Ketenagakerjaan atau jabatan lain yang berkaitan dengan Dewan Buruh, ia memilih belum membuka detailnya.
“Sedang kita diskusikan,” kata Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (4/6/2026). Ia juga menambahkan bahwa penjelasan lengkap akan disampaikan kemudian, termasuk soal waktu pelantikan yang hingga kini belum diumumkan.
Saat ditanya apakah pelantikan bisa berlangsung dalam waktu dekat, Prasetyo hanya memberi sinyal bahwa jadwalnya masih mungkin berubah. “Nanti tunggu informasi,” ujarnya, seraya menyebut kemungkinan pelantikan bisa saja dilakukan pada Senin pekan depan.
Latar belakang Said Iqbal di gerakan buruh
Nama Said Iqbal bukan sosok baru dalam isu ketenagakerjaan. Ia dikenal luas sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di gerakan buruh Indonesia, dengan rekam jejak panjang dalam organisasi pekerja dan advokasi hak-hak buruh.
Said Iqbal lahir di Jakarta pada 5 Juli 1968 dan berasal dari keluarga berdarah Aceh. Ayahnya berasal dari Pidie, sementara ibunya berasal dari Meulaboh, dan sejak sekolah ia dikenal berprestasi hingga lulus dari SMA Negeri 51 Jakarta pada 1987 dengan predikat juara umum.
Perjalanan pendidikannya berlanjut ke bidang teknik dan ekonomi. Ia menempuh Teknik Mesin di Politeknik Universitas Indonesia, meraih gelar Sarjana Teknik Mesin dari Universitas Jayabaya, lalu melanjutkan studi Magister Ekonomi di Universitas Indonesia.
Karier organisasinya dimulai pada 1992 ketika ia menjadi ketua serikat pekerja di sebuah perusahaan elektronik di Bekasi. Dari sana, namanya terus naik hingga ikut mendirikan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) dan memegang berbagai posisi penting, termasuk Sekretaris Jenderal serta Presiden DPP organisasi tersebut.
Jejak politik dan organisasi yang menguat
Pengaruh Said Iqbal makin besar ketika ia terpilih sebagai Presiden KSPI pada 2012 dan masih memimpin konfederasi itu hingga sekarang dalam periode ketiganya. Di tingkat internasional, ia juga aktif dalam sejumlah forum pekerja, termasuk menjadi anggota Deputi Badan Pengurus ILO periode 2021–2024, terlibat di International Trade Union Confederation, serta menjabat Wakil Presiden ASEAN Trade Union Council.
Di jalur politik, posisi Said Iqbal ikut menguat setelah Partai Buruh bangkit kembali pada 5 Oktober 2021. Dalam Kongres IV di Jakarta, ia terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Partai Buruh periode 2021–2026.
Kebangkitan partai itu berkaitan erat dengan dinamika ketenagakerjaan nasional, terutama setelah pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja. Di bawah kepemimpinannya, Partai Buruh mendorong gagasan negara kesejahteraan atau welfare state dengan menekankan distribusi kekayaan yang lebih adil dan peran negara dalam menjamin kesejahteraan rakyat.
Isyarat arah penempatan yang dinilai sesuai rekam jejak
Pernyataan Istana yang menyebut posisi Said Iqbal akan disesuaikan dengan perjuangannya di bidang buruh dan tenaga kerja menjadi sinyal bahwa rekam jejaknya ikut diperhitungkan. Hal itu sejalan dengan reputasi Said Iqbal yang selama ini dikenal vokal dalam isu upah, perlindungan pekerja, dan kebijakan ketenagakerjaan.
Ia juga pernah menerima pengakuan internasional lewat The Febe Elisabeth Velasquez Award dari serikat pekerja Belanda, FNV, pada 2013. Penghargaan itu diberikan atas dedikasinya memperjuangkan upah layak dan kesejahteraan pekerja.
Di luar aktivitas organisasi, Said Iqbal juga menulis sejumlah buku bertema ketenagakerjaan dan perjuangan buruh, seperti Sepultura (Sebuah Cita-Cita Perjuangan), Pemerintah Gagal Menyejahterakan Buruh, serta Kerja Layak, Upah Layak, dan Hidup Layak Gagal Diwujudkan.
Selama bertahun-tahun, Said Iqbal dikenal sebagai pemimpin buruh yang kerap memimpin aksi besar di depan DPR dan Istana Negara. Dalam beberapa waktu terakhir, ia juga lebih menempuh jalur politik formal melalui Partai Buruh untuk memperjuangkan kepentingan pekerja lewat kebijakan dan proses legislasi.
Source: www.suara.com








