Bank Indonesia Genjot UMKM DIY, Dari QRIS ke Pasar yang Lebih Luas

Bank Indonesia terus mendorong perluasan akses pasar dan penguatan daya saing UMKM di Daerah Istimewa Yogyakarta melalui penyelenggaraan Grebeg UMKM X DJAMUAN Istimewa 2026. Kegiatan yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta di Jogja City Mall, Sleman, pada Jumat sore itu menjadi salah satu agenda untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha kecil sekaligus memperluas digitalisasi sistem pembayaran.

Grebeg UMKM sendiri telah berlangsung konsisten sejak 2017 sebagai bagian dari upaya pengembangan UMKM DIY. Dalam agenda ini, BI menempatkan penguatan UMKM sebagai program strategis daerah yang terus diarahkan pada peningkatan kualitas, standardisasi, konektivitas pembiayaan formal, serta promosi di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Dorongan BI untuk UMKM yang lebih siap bersaing

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P. Gozali, menegaskan bahwa penguatan UMKM menjadi perhatian berkelanjutan karena sektor ini memegang peran penting dalam perekonomian daerah. Ia menyebut BI terus mendorong UMKM agar naik kelas melalui peningkatan mutu produk, standardisasi usaha, serta akses yang lebih erat ke ekosistem digital dan pembiayaan formal.

BI juga mendorong promosi UMKM agar semakin terhubung dengan pariwisata dan ekonomi kreatif. Pendekatan ini dinilai penting karena DIY memiliki basis ekonomi lokal yang kuat dan sektor usaha kecil berperan besar dalam memperluas manfaat pertumbuhan ekonomi ke masyarakat.

QRIS tumbuh pesat di DIY

Perkembangan digitalisasi pembayaran di DIY ikut menjadi sorotan dalam kegiatan tersebut. Hingga April 2026, jumlah pengguna QRIS di DIY tercatat lebih dari 1,08 juta pengguna, sementara jumlah merchant mencapai lebih dari 1,11 juta merchant.

Transaksi QRIS di DIY sepanjang 2026 juga menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Total transaksinya mencapai 198 juta transaksi atau tumbuh 62,19% secara tahunan, sehingga menunjukkan bahwa adopsi pembayaran digital semakin meluas di kalangan masyarakat dan pelaku usaha.

Rangkaian kegiatan melibatkan 260 UMKM

Penyelenggaraan Grebeg UMKM X DJAMUAN Istimewa 2026 yang mengusung tema “Nyawiji” menghadirkan berbagai kegiatan yang saling melengkapi. Agenda ini digelar pada 5 hingga 7 Juni 2026 dan mencakup pameran UMKM sektor fashion, food, craft, serta Pasar Kangen Digital & Halal yang melibatkan 260 UMKM.

Selain pameran, kegiatan juga diisi Capacity Building Millennial Batik, Latte Art Competition, Kompetisi Robotika, Lomba Bankers Wear Wastra, talkshow pengembangan UMKM, serta sosialisasi Cinta Bangga Paham Rupiah, QRIS, dan pelindungan konsumen. Seluruh rangkaian itu dirancang agar pelaku usaha dan masyarakat memperoleh ruang belajar, promosi, sekaligus jejaring usaha yang lebih luas.

Dampak yang diharapkan bagi ekonomi daerah

Ricky P. Gozali berharap kegiatan ini dapat memperluas akses pasar dan pembiayaan bagi UMKM, meningkatkan kapasitas usaha, serta memperkuat digitalisasi transaksi. Ia juga menekankan pentingnya jejaring bisnis yang lebih luas agar produk lokal DIY memiliki peluang lebih besar untuk berkembang.

Harapan serupa juga mengarah pada penguatan kecintaan masyarakat terhadap produk lokal. Dalam pandangan BI, UMKM tetap menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi DIY yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan, sehingga penguatan sektor ini perlu dilakukan secara konsisten.

Ekonomi DIY dinilai tetap tangguh

Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta KGPAA Paku Alam X menyampaikan bahwa perekonomian DIY pada triwulan I 2026 tumbuh 5,84% secara tahunan. Capaian itu menempatkan DIY sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi ketiga di Pulau Jawa.

Ia menilai capaian tersebut mencerminkan ketahanan dan daya saing ekonomi DIY di tengah dinamika nasional dan global. Menurutnya, penyelenggaraan Grebeg UMKM dan DJAMUAN Istimewa juga menegaskan bahwa pembangunan ekonomi tidak hanya bertumpu pada besarnya potensi, tetapi pada kemampuan menghubungkan potensi agar memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

KGPAA Paku Alam X menekankan bahwa koordinasi lintas lembaga, sinergi antarpemangku kepentingan, dan dukungan terhadap penguatan kapasitas UMKM perlu terus diperluas. Dengan dukungan yang berkelanjutan, UMKM DIY diharapkan semakin siap menjadi motor pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih inklusif dan kompetitif.

Source: mediaindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button