Kepergian Zaini Abdullah meninggalkan ruang kosong yang besar bagi Aceh, bukan hanya karena ia pernah memimpin provinsi itu, tetapi juga karena perannya dalam merawat suasana damai di Bumi Serambi Mekah. Sosok yang akrab disapa Abu Doto itu dipandang sebagai figur yang menenangkan, sederhana, dan dihormati lintas kalangan.
Pelepasan terakhir terhadap dirinya memperlihatkan kuatnya ikatan antara Zaini Abdullah dan masyarakat Aceh. Di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, puluhan ribu orang hadir untuk menunaikan salat jenazah bakda Asar, mulai dari pejabat, ulama, santri, hingga warga umum.
Gelombang Duka di Banda Aceh
Antusiasme pelayat menunjukkan bahwa Zaini Abdullah tidak hanya dikenang sebagai mantan gubernur Aceh periode 2012-2017. Ia juga dipandang sebagai tokoh yang ikut menjaga stabilitas sosial dan menjadi simbol keteduhan di tengah masyarakat.
Banyak orang rela menunggu berjam-jam demi memberi penghormatan terakhir. Kehadiran mereka juga menggambarkan bagaimana pengaruh Abu Doto melampaui jabatan formal yang pernah diembannya.
Kepulangan ke Pidie
Setelah prosesi di Banda Aceh, jenazah dibawa ke Gampong Rapana, Teureubue, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie. Di kampung halamannya, suasana haru kembali terasa ketika warga dari Beureunuen hingga pelosok pedalaman datang menyambut kedatangan almarhum.
Permintaan warga dan kerabat setempat membuat salat jenazah kembali digelar di Masjid Teureubue sekitar pukul 19.30 WIB. Langkah itu memperlihatkan besarnya rasa hormat sekaligus kedekatan emosional masyarakat Pidie terhadap tokoh yang mereka sebut sebagai bagian dari perjalanan penting Aceh.
Mirza Marjaya, tokoh masyarakat Beureunuen, mengatakan warga langsung berdatangan setelah kabar duka tersiar sekitar pukul 12.30 WIB. “Mereka rela menanti hingga malam hari hanya untuk melepas rindu terakhir kepada tokoh kunci perdamaian Aceh itu,” ujarnya.
Jejak sebagai Tokoh Perdamaian
Zaini Abdullah dikenal sebagai diplomat senior dan salah satu figur penting dalam proses damai Aceh. Dalam ingatan banyak orang, peran itu membuat namanya identik dengan upaya meredakan konflik dan membuka jalan bagi kehidupan yang lebih stabil di daerah tersebut.
Budayawan Universitas Syiah Kuala, M. Adli Abdullah, menilai prosesi pemakaman ini juga menjadi ruang refleksi bagi Aceh atas jasa-jasanya. Pandangan itu sejalan dengan banyaknya warga yang datang bukan sekadar untuk berbelasungkawa, tetapi juga untuk mengenang kontribusi almarhum bagi daerah.
Peristirahatan Terakhir di Tanah Kelahiran
Zaini Abdullah dimakamkan di kompleks Pesantren Terpadu Hafidh Quran, tepat di depan rumah kelahirannya. Lokasi itu memberi makna kuat karena menegaskan kedekatannya dengan akar keluarga dan tanah asal yang membentuk perjalanan hidupnya.
Makamnya berada di sebelah timur makam ayahnya, Teungku Abdullah Hanafiah. Penempatan ini menjadi penanda bahwa seorang putra daerah yang pernah berkiprah jauh hingga Swedia tetap kembali ke ruang yang paling dekat dengan identitasnya, keluarga, dan tradisi Aceh.
Source: mediaindonesia.com






