Kepanikan warga langsung terlihat di berbagai titik Kota Palu usai gempa bumi tektonik magnitudo 6,7 mengguncang wilayah Sulawesi Tengah. Dalam hitungan jam setelah guncangan yang terjadi pukul 11.27 WITA, antrean kendaraan mengular di hampir seluruh SPBU karena banyak warga memilih mengisi bahan bakar secepat mungkin.
Situasi itu dipicu kekhawatiran akan gempa susulan dan pengalaman traumatis warga pada peristiwa besar sebelumnya. Sejumlah pengendara roda dua, mobil pribadi, hingga truk logistik tampak memadati jalan di sekitar SPBU, sementara sebagian warga rela menunggu berjam-jam demi memastikan kendaraan mereka memiliki BBM yang cukup.
Antrean memanjang hingga ke badan jalan
Di SPBU Jalan Pue Bongo, Palu Barat, antrean kendaraan meluber sampai ke badan jalan raya. Kondisi itu membuat arus lalu lintas tersendat dan memicu kemacetan di sekitar lokasi pengisian bahan bakar.
Pemandangan serupa juga muncul di SPBU Jalan Imam Bonjol. Di tengah ramainya suara klakson dan padatnya kendaraan, warga tetap bertahan mengantre karena merasa perlu mengamankan persediaan bahan bakar untuk kebutuhan darurat.
Hamka Rauf, 42, yang ikut mengantre dengan sepeda motor, mengatakan dirinya tidak ingin mengambil risiko. Ia menilai mengisi penuh tangki bisa memberi rasa aman jika situasi darurat kembali terjadi dan keluarga harus segera mengungsi.
“Beli memang BBM, jangan sampai nanti ada gempa susulan lagi yang lebih besar. Lebih baik antisipasi memang toh. Kalau kendaraan full bensin, kita merasa lebih aman dan tenang kalau sewaktu-waktu harus dipakai mengungsi bersama keluarga,” ujarnya.
Trauma lama membuat warga bergerak cepat
Kekhawatiran warga tidak hanya datang dari gempa yang baru terjadi, tetapi juga dari ingatan terhadap kondisi sulit saat bencana besar pada 2018. Siti Rahma, 35, warga Palu Barat, mengatakan pengalaman mencari bensin ketika SPBU tutup membuatnya memilih mengisi bahan bakar selagi masih bisa.
“Waktu gempa besar tahun 2018 dulu, kami kesusahan setengah mati cari bensin untuk evakuasi karena SPBU tutup semua. Makanya ini masih ada kesempatan, isi BBM memang,” kata Siti sambil mengantre membawa dua jeriken kecil.
Respons spontan seperti itu membuat antrean terus bertambah di banyak SPBU. Hingga sore hari, barisan kendaraan dilaporkan masih mengular panjang di berbagai sudut kota, seiring puluhan gempa susulan yang menurut informasi BMKG masih terus terjadi.
Petugas turun mengatur arus kendaraan
Di tengah kepanikan warga, aparat dan pihak kepolisian setempat turun ke sejumlah titik SPBU untuk mengatur lalu lintas. Langkah itu dilakukan agar antrean lebih tertib dan tidak memicu gesekan antarpengendara di lapangan.
Di saat yang sama, masyarakat diminta tetap tenang dan tidak terjebak panic buying yang berlebihan. Imbauan juga disampaikan agar warga tidak mudah percaya pada isu hoaks mengenai kelangkaan BBM, karena Pertamina memastikan pasokan dan stok bahan bakar untuk Palu dan sekitarnya masih aman serta mencukupi.
Kondisi di Palu menunjukkan bahwa guncangan M 6,7 tidak hanya memicu kepanikan sesaat, tetapi juga mendorong perilaku berjaga-jaga yang meluas ke hampir seluruh SPBU. Selama gempa susulan masih terjadi dan warga masih dihantui trauma lama, antrean kendaraan di kota ini tetap menjadi gambaran paling nyata dari kekhawatiran massal pascagempa.
Source: mediaindonesia.com






