Presiden RI Prabowo Subianto menyoroti pelemahan rupiah dan mengaitkannya dengan keluarnya kekayaan nasional ke luar negeri selama puluhan tahun. Ia menyampaikan hal itu saat penutupan Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama di Bangkalan, Jawa Timur.
Prabowo menyebut persoalan nilai tukar tidak bisa dilepaskan dari kebocoran ekonomi yang terus terjadi. Menurut dia, ketika kekayaan negara lebih banyak mengalir ke luar negeri, tekanan terhadap rupiah ikut terasa.
Data perdagangan jadi dasar penjelasan
Prabowo mengutip data yang diolah Dewan Ekonomi Nasional dari PBB. Ia mengatakan Indonesia mencatat keuntungan perdagangan selama 17 tahun dari total 22 tahun.
“Kalau kita lihat selama 22 tahun, bangsa Indonesia sebagai bangsa sebenarnya telah untung. Hanya 5 tahun kita tidak untung, agak kurang. Tapi dari 22 tahun, 17 tahun kita untung,” ujar Prabowo.
Ia juga menyebut keuntungan itu mencapai US$ 436 miliar selama 22 tahun. Dalam penjelasannya, Prabowo menambahkan bahwa dalam rentang 42 tahun, kekayaan Indonesia disebut mencapai US$ 683 miliar.
Sebagian besar dana justru keluar
Meski angka keuntungan terlihat besar, Prabowo menegaskan Indonesia tidak menikmati seluruh hasilnya. Ia mengatakan sebagian besar kekayaan justru mengalir ke luar negeri dan tidak tinggal di dalam negeri.
“Kita lihat di sini selama 22 tahun, uang yang keluar itu US$ 343 miliar. Jadi keuntungan US$ 436, yang keluar US$ 343. Yang tinggal adalah sedikit sekali dibandingkan yang keluar,” kata Prabowo.
Ia lalu menghubungkan kondisi itu dengan lemahnya rupiah. Menurut Prabowo, bila kekayaan terus keluar, ekonomi nasional akan kehilangan daya tahan.
Prabowo singgung dugaan laporan palsu
Dalam penjelasan berikutnya, Prabowo menyebut ada temuan lain yang juga berasal dari data PBB. Ia menyinggung praktik yang disebutnya sebagai under-invoicing atau laporan palsu.
Prabowo menjelaskan contoh sederhana, yakni saat pengusaha melaporkan nilai ekspor lebih kecil dari kondisi sebenarnya. Menurut dia, tindakan seperti itu membuat negara mengalami kerugian.
“Artinya apa, artinya negara rugi,” ucap Prabowo saat menggambarkan praktik tersebut.
Ia mengatakan, jika seluruh hitungan itu digabung, Indonesia disebut merugi US$ 908 miliar selama 34 tahun atau sekitar Rp 15 ribu triliun. Angka itu ia sampaikan sebagai gambaran besarnya kebocoran ekonomi yang menurutnya perlu segera dibenahi.
Sorotan pada aliran kekayaan nasional
Pernyataan Prabowo menambah sorotan terhadap isu aliran kekayaan nasional yang kerap dibahas dalam konteks stabilitas ekonomi. Dalam penjelasannya, pelemahan rupiah bukan hanya soal dinamika pasar, tetapi juga terkait berapa banyak kekayaan negara yang tetap berputar di dalam negeri.
Prabowo menegaskan bahwa Indonesia masih berdiri meski kekayaan terus keluar setiap tahun. Namun, ia memberi sinyal bahwa kondisi itu tidak bisa dibiarkan jika ingin menjaga kekuatan ekonomi dan nilai tukar rupiah tetap lebih stabil.
