Pasar beras fortifikasi di Indonesia mulai bergerak dari sekadar program kesehatan menjadi peluang bisnis yang lebih luas. Dorongan datang dari sektor ritel, industri, dan penggilingan yang melihat produk ini punya ruang besar untuk tumbuh di pasar komersial.
Perkembangan itu dibahas dalam forum lintas pemangku kepentingan bertajuk “Millers for Nutrition: Advancing Fortified Rice in the Commercial Market” di Jakarta. Forum tersebut mendorong kolaborasi pelaku usaha swasta agar beras fortifikasi bisa lebih terjangkau dan mudah diakses masyarakat.
Ritel melihat peluang, tetapi harga masih jadi hambatan
Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) Dasep Suryanto menilai jaringan ritel siap mendukung perluasan pasar beras fortifikasi. Namun, ia mengingatkan pasar masih menghadapi kebingungan karena belum ada referensi harga yang benar-benar jelas.
Di jaringan ritel modern, harga beras fortifikasi saat ini disebut hampir 20-30% lebih tinggi dibandingkan beras reguler. Selisih itu membuat pasar belum sepenuhnya stabil dan berpotensi memicu distorsi bila tidak ada standarisasi harga serta distribusi yang lebih efisien.
APRINDO menilai ada tiga langkah penting untuk menjaga pasar tetap sehat. Langkah itu mencakup kepastian regulasi, distribusi langsung dari penggilingan atau RMU ke peritel, serta edukasi konsumen yang berjalan terus-menerus melalui jaringan ritel nasional.
Kemasan kecil dinilai bisa memperluas akses
Inovasi kemasan 1 kilogram dan 2,5 kilogram dinilai dapat membantu menurunkan hambatan awal bagi konsumen. Skema ini juga berpotensi memperluas penetrasi pasar karena memberi pilihan pembelian yang lebih ringan bagi rumah tangga.
Di sisi lain, tantangan juga datang dari persepsi konsumen. Banyak pembeli masih menganggap harga tinggi identik dengan kualitas yang lebih baik, padahal nilai utama beras fortifikasi terletak pada tambahan gizi yang dibawanya.
“Tujuan akhirnya adalah menjamin akses masyarakat terhadap beras bergizi dengan harga terjangkau,” ujar Dasep. Ia menekankan bahwa regulasi, distribusi, dan edukasi harus bergerak bersama agar pasar tidak hanya tumbuh, tetapi juga dipahami konsumen.
Industri menilai fase komersial sudah makin matang
Dari sisi produksi, Komisaris PT Pangan Nabati Umbi Nusantara Mirza Muttaqien menyebut sektor beras fortifikasi sudah melewati tahap awal menuju industrialisasi yang lebih matang. Ia menilai ada ruang peningkatan nilai tambah sekitar Rp1.000 per kilogram dari penambahan mikronutrien esensial.
Meski begitu, biaya akhir tetap bergantung pada efisiensi produksi dan penggunaan kapasitas pabrik. Saat ini, kapasitas produksi beras fortifikasi perusahaan itu mencapai sekitar 1.000 ton per bulan, tetapi belum seluruhnya terpakai optimal.
Menurut Mirza, peningkatan utilisasi pabrik akan menekan biaya overhead dan membuat harga jual ke konsumen lebih kompetitif. Ia juga menilai landasan regulasi sudah cukup kuat setelah hadirnya SNI 9314 (2024) dan SNI 9372 (2025) yang mengatur definisi serta parameter teknis untuk kernel beras fortifikasi, beras fortifikasi, dan beras diperkaya.
“Regulasi sudah tersedia dan sistem di tingkat negara telah siap. Tantangannya sekarang adalah melakukan scale up agar industri ini dapat tumbuh lebih cepat,” kata Mirza.
Jaringan penggilingan regional jadi kunci rantai pasok
Pelaku industri beras fortifikasi Diyan Anggraini melihat penguatan jaringan penggilingan regional sebagai kunci untuk memperpendek rantai pasok. Dengan produksi yang tersebar di berbagai daerah, biaya logistik bisa ditekan dan distribusi menjadi lebih efisien.
Ia menilai model klaster penggilingan regional juga membantu menjaga aktivitas ekonomi tetap bergerak di tingkat lokal. Di saat yang sama, pasokan beras fortifikasi dapat lebih stabil karena tidak hanya bergantung pada satu titik produksi.
Diyan menegaskan keberhasilan pasar komersial akan sangat ditentukan oleh dua hal, yakni kedekatan geografis dan daya beli. “Akses pangan harus terjangkau, baik dari aspek jarak maupun harga,” ujarnya.
Peluang ekspansi beras fortifikasi kini terlihat semakin terbuka karena sektor ritel, industri, dan penggilingan mulai bergerak ke arah yang sama. Tantangannya tinggal memastikan harga tetap kompetitif, distribusi lebih pendek, dan edukasi publik terus berjalan agar produk bergizi ini benar-benar masuk ke kebiasaan belanja masyarakat.
