Proses pemakaman jemaah haji Indonesia yang wafat di Tanah Suci Makkah merupakan rangkaian yang dijalani dengan penuh kehormatan dan ketertiban. Setiap langkah dalam proses ini melibatkan kerja sama berbagai pihak, termasuk petugas sektor, dokter kloter, perusahaan penyedia layanan (syarikah), dan aparat keamanan setempat. Menurut Zarkoni Hasbi Suid, Petugas Layanan Lansia PPIH Arab Saudi Daker Makkah, prosedur pemakaman di Makkah memiliki beberapa perbedaan dibandingkan di Madinah, khususnya terkait administrasi dan lokasi wafat jemaah.
Saat seorang jemaah wafat di hotel, langkah pertama adalah menghubungi pihak syarikah untuk melakukan pengurusan administrasi. Dokter kloter akan menerbitkan certificate of death (COD) sebelum bersama syarikah menuju Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) untuk melakukan verifikasi. Proses ini cukup rumit dan membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan jika jemaah wafat di rumah sakit, di mana prosedur administratif lebih sederhana.
Proses Pengurusan Jenazah
Setelah administrasi selesai, jenazah akan dibawa ke Rumah Sakit Anur untuk identifikasi lebih lanjut dan pemeriksaan tambahan. Pada tahap ini, askar juga bertugas untuk memastikan semua data sesuai. Jika proses identifikasi sudah lengkap, jenazah akan dimandikan di lokasi yang telah disiapkan khusus untuk itu, bukan di rumah sakit. Keluarga yang ingin mendampingi diperbolehkan, sehingga mereka dapat memastikan bahwa jenazah adalah anggota keluarga mereka.
Setelah dimandikan, jenazah dibersihkan dengan parfum dan identitasnya dipastikan kembali. Proses ini menjadi momen yang penuh emosi bagi keluarga, terutama saat mereka dapat melihat dan merelakan keberangkatan orang tercinta.
Salat Jenazah di Masjidil Haram
Semua jemaah yang wafat di Makkah akan disalatkan di Masjidil Haram, yang merupakan tempat paling mulia bagi umat Islam. Waktu pelaksanaan salat jenazah disesuaikan dengan waktu salat wajib. Misalnya, jika pemandian dilakukan pada jam 11 siang, salat jenazah akan dilaksanakan setelah salat zuhur. Para petugas, keluarga, dan jemaah lainnya mendapatkan tempat khusus untuk menyaksikan salat jenazah yang merupakan suatu kehormatan tersendiri.
Pemakaman di Soraya
Setelah disalatkan, jenazah akan dibawa ke lokasi pemakaman di kawasan Soraya. Sebelumnya, pemakaman Ma’lah yang lebih dekat dengan Masjidil Haram kini hanya diperuntukkan bagi penduduk asli Makkah. Keluarga jemaah diperbolehkan untuk ikut dalam perjalanan menuju pemakaman, namun wanita hanya dapat sampai di gerbang pemakaman.
Pada saat kedatangan jenazah di lokasi pemakaman, lubang makam yang sudah disiapkan akan dibuka. Proses pemakamannya tidak langsung ditimbun tanah, melainkan ditutup dengan beton dan kemudian ditimbun sedikit tanah sebagai simbol keabadian.
Zarkoni juga menceritakan pengalaman emosional saat mengurus pemakaman seorang hafiz Al-Qur’an dari Jambi. Saat menyambut jenazah di kuburan, ia merasakan aroma yang harum, menunjukkan betapa mulianya tempat wafat di Tanah Suci tersebut.
Kehormatan Terakhir
Proses pemakaman ini bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga merupakan penghormatan terakhir bagi jemaah yang telah melaksanakan ibadah haji dengan penuh keikhlasan. Hal ini mencerminkan betapa pentingnya nilai saling menghormati dan proses yang teratur dalam mengurus jenazah, terutama di kota dengan sejarah yang mendalam bagi umat Islam.
Dengan prosedur yang terstruktur di Makkah, pihak berwenang memastikan bahwa setiap jemaah menerima penghormatan yang setimpal di akhir perjalanan hidupnya. Proses ini menjadi bagian dari pengalaman spiritual yang mendalam bagi banyak jemaah dan keluarganya di Tanah Suci.
