Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, baru-baru ini menjadi sorotan karena menyinggung kritik yang menyebutnya “berisik” dalam video yang diunggah di akun TikTok pribadinya. Dalam video tersebut, Dedi mengungkapkan bahwa keberisikan yang dituduhkan padanya merupakan respons terhadap lambatnya birokrasi dalam menangani berbagai masalah mendesak. Ia menekankan bahwa tindakan tegas diperlukan untuk mengatasi penyimpangan yang sering kali dibiarkan oleh pihak-pihak tertentu.
Dedi memaparkan, banyak penyimpangan dalam pengelolaan lingkungan, termasuk pembangunan ilegal di bantaran sungai. Menurutnya, oknum yang terlibat dalam aktivitas tersebut kini merasa terancam, karena upayanya untuk menertibkan lingkungan dapat menghilangkan sumber pendapatan mereka. “Birokrasi kita lama tidur. Orang-orang membangun di bantaran sungai dibiarkan,” ungkap Dedi.
Ia menjelaskan bahwa ada jaringan yang mengatur dan mengkoordinasi bangunan-bangunan liar, di mana mereka menerima uang sewa dari para pengembang. Hal ini menyebabkan kerugian bagi lingkungan dan masyarakat. “Seluruh hamparan sawah tertutup oleh bangunan. They have been making money from this, and that’s why they’re upset with me,” tambah Dedi.
Kritik terhadap dirinya dinilai tidak terlepas dari kepentingan politik. Dedi mencatat bahwa banyak pihak di luar sana, termasuk ormas dan LSM, merasa kehilangan pendapatan ketika ia memulai tindakan tegas. “Mereka yang memiliki afiliasi politik dan pendapatan yang terkoordinasi mengalami kerugian,” tuturnya. Dedi Mulyadi menegaskan bahwa ia tidak akan mundur dalam menegakkan kedisiplinan demi menjaga alam Jawa Barat.
Demi masa depan yang lebih baik, Dedi menyerukan perlunya perubahan saat ini. Menurutnya, bila tidak ada upaya nyata untuk membenahi keadaan, provinsi ini akan berisiko terjerumus dalam kerusakan lebih lanjut. Dampak dari lingkungan yang rusak, katanya, tidak hanya mempengaruhi ekosistem, tetapi juga kesehatan mental masyarakat. “Hancur gunungnya, rusak sungainya, hancur pemandangan alamnya, lahirlah manusia yang depresi,” jelasnya.
Dedi juga menawarkan solusi sederhana untuk menikmati keindahan alam tanpa harus pergi jauh. “Cukup berjalan di halaman rumah, di area pematang sawah, semuanya dapat menjadi tempat wisata yang indah,” pungkasnya. Ia meyakini bahwa kebahagiaan masyarakat akan lahir dalam lingkungan yang terawat, dan ajakan untuk merawat alam harus dimulai dari diri kita masing-masing.
Dalam konteks ini, Dedi Mulyadi berupaya membangun kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem melalui tindakan nyata. Sebagai pemimpin, ia melihat peranannya tidak hanya sebatas sosok yang memimpin, tetapi juga sebagai penggerak perubahan yang membawa kepentingan masyarakat dan lingkungan ke depan.





