Keramaian di kota Medan terlihat tak biasa setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan lima tersangka dalam kasus dugaan korupsi proyek pembangunan jalan di Sumatera Utara. Sejumlah karangan bunga dengan ucapan terima kasih kepada KPK muncul berjejer di tepi jalan, sebagai bentuk reaksi warga terhadap penetapan Topan Ginting, yang dikenal dekat dengan Gubernur Sumut Bobby Nasution, sebagai tersangka.
Topan Ginting, selaku Kepala Dinas PUPR Provinsi Sumut, beserta beberapa pejabat lainnya, ditetapkan sebagai tersangka akibat dugaan penerimaan suap untuk memuluskan tender proyek. Keberadaan karangan bunga ini tidak hanya dimaknai sebagai ucapan terima kasih, tetapi juga mengandung sindiran khas masyarakat terhadap proyek yang gagal dilaksanakan, seperti Lapangan Merdeka dan Stadion Teladan. Dalam sebuah video yang viral di media sosial X (dulu Twitter), aktifitas ini menjadi sorotan, dengan komentar dari netizen yang menyebutnya sebagai momen perayaan bagi warga Medan.
KPK, melalui Plt. Deputi Penindakan dan Eksekusi Asep Guntur Rahayu, membuka kemungkinan untuk memanggil Gubernur Bobby Nasution dalam penyidikan yang sedang berjalan. “Kalau memang bergerak ke salah seorang, misalkan ke kepala dinas yang lain atau ke gubernurnya, kami akan minta keterangan,” ujarnya. Hal ini menimbulkan spekulasi di kalangan masyarakat tentang sejauh mana keterlibatan Bobby dalam kasus ini.
Penyidikan KPK memanfaatkan prinsip “follow the money” untuk melacak aliran uang yang berpotensi melibatkan pihak swasta dalam kasus suap ini. Mengingat posisi Topan Ginting yang menjabat sebagai orang kesayangan Bobby, perhatian publik meningkat terhadap kemungkinan keterkaitan yang lebih dalam.
KPK juga mencatat bahwa tersangka lain, selain Ginting, yaitu RES selaku Kepala UPTD Gunung Tua, HEL dari Satuan Kerja (Satker) Pembangunan Jalan Nasional Wilayah 1 Sumut, serta dua direktur dari perusahaan swasta, KIR dan RAY. Tersangka KIR dan RAY disangkakan melakukan pelanggaran pasal tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, yang menunjukkan kompleksitas kasus ini.
Kedatangan karangan bunga di jalanan tidak lepas dari reaksi warga yang sudah lama merasa geram dengan isu korupsi di pemerintahan lokal. Di media sosial, banyak netizen yang memberi komentar positif, menyatakan dukungan atas tindakan KPK. “Selamat ya untuk warga Medan,” tulis salah satu akun, menunjukkan harapan bahwa langkah hukum ini bisa membawa perubahan.
Masyarakat mulai berani berpendapat dan mengekspresikan sikapnya terhadap pejabat yang dianggap korup. Hal ini tercermin dalam kerumunan warga yang mendukung aksi KPK dan mengharapkan lebih banyak penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan yang mengorbankan kepentingan publik.
Dalam beberapa hari ke depan, KPK berencana untuk melanjutkan pengumpulan bukti dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dengan penyidikan yang sedang berlangsung, pihak KPK akan terus bersinergi dengan PPATK untuk melacak aliran dana yang mungkin mengarah kepada pejabat publik lainnya di Sumut.
Momen ini sekaligus membuka diskusi tentang pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pemerintahan, terutama di tengah kekecewaan masyarakat terhadap berbagai proyek pembangunan yang terhambat atau tidak menghasilkan manfaat nyata. Reaksi warga Medan yang ‘merayakan’ penetapan tersangka ini dapat menjadi sinyal bahwa publik semakin peka terhadap isu korupsi dan menuntut keadilan.
Di saat yang sama, perhatian juga tertuju kepada Gubernur Bobby Nasution, yang saat ini berada di bawah sorotan. Apakah dia akan dipanggil sebagai saksi dalam proses hukum ini? Pertanyaan ini menggantung dan menjadi bagian dari diskusi hangat di kalangan warga Medan dan pemerhati kebijakan publik. Penanganan kasus ini akan sangat penting untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap integritas pemerintahan di Sumatera Utara ke depan.





