Inflasi DIY Juni 2025 Capai 0,23%, Makanan & Minuman Penyumbang Tertinggi

Badan Pusat Statistik (BPS) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat laju inflasi bulanan pada Juni 2025 sebesar 0,23% (month-to-month) dengan inflasi tahunan mencapai 2,52%. Inflasi kumulatif dari Januari hingga Juni 2025 tercatat sebesar 1,79%. Angka ini menunjukkan fluktuasi harga yang cukup signifikan di wilayah DIY, dengan kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi.

Plt. Kepala BPS DIY, Herum Fajarwati, menjelaskan bahwa inflasi bulanan ini didorong oleh kenaikan harga sejumlah komoditas penting, di antaranya cabai rawit, tomat, kacang panjang, bawang merah, buncis, terong, daging ayam ras, serta telur ayam ras. Kenaikan ini berperan sebesar 0,23% pada inflasi bulanan.

Selain itu, tarif angkutan udara juga memberikan kontribusi yang tidak kecil pada angka inflasi. Dalam laporan tersebut, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang inflasi sebesar 0,02%. Perlu dicatat bahwa selama semester pertama tahun ini, komoditas dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau menunjukkan konsistensi sebagai kontributor utama inflasi di DIY.

Faktor Penyebab Inflasi

Komponen inflasi tahunan pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat andil tertinggi sebesar 0,98%, disusul oleh perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil 0,72%. Beberapa komoditas yang menjadi penyebab inflasi tahunan meliputi emas perhiasan, beras, kopi bubuk, kelapa, dan rokok, baik yang dibuat secara mesin maupun yang dihasilkan secara manual.

Secara spasial, inflasi di wilayah DIY menunjukkan variasi yang cukup menarik. Kabupaten Gunungkidul mencatat inflasi sebesar 2,66% (tahun-ke-tahun) dan 0,19% (bulan-ke-bulan), sedangkan Kota Yogyakarta mencatat inflasi sebesar 2,35% (yoy) dan 0,28% (mtm) di bulan yang sama.

Dampak Terhadap Pertanian

Dalam konteks pertanian, BPS DIY melaporkan bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) pada Juni 2025 sebesar 105,80, mengalami penurunan 0,37% dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini dipengaruhi oleh kenaikan Indeks Harga Bayar Petani yang mencapai 128,60, yang lebih tinggi dibandingkan Indeks Harga Terima Petani yang hanya meningkat menjadi 136,06.

Meskipun terdapat kenaikan harga komoditas seperti gabah, bawang merah, melon, dan cabai rawit, pengeluaran petani juga meningkat. Ini dipicu oleh kenaikan harga berbagai komoditas konsumsi yang menjadi bagian dari Indek Harga Bayar Petani.

Subsektor Pertanian yang Berbeda

Dari sisi subsektor, NTP untuk hortikultura dan tanaman perkebunan rakyat menunjukkan kenaikan masing-masing sebesar 0,66% dan 1,21%. Namun, subsektor lain seperti tanaman pangan, peternakan, dan perikanan mencatatkan penurunan. Meskipun NTP menurun, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) mengalami peningkatan sebesar 0,29%.

Peningkatan ini didukung oleh naiknya Indeks Harga Terima Petani dan relatif terkendalinya indeks biaya produksi. Beberapa komoditas yang berkontribusi terhadap peningkatan NTUP termasuk DOC ayam ras pedaging, bakalan sapi, bibit sapi, dan bibit bawang merah.

Perbandingan dengan Provinsi Lain

Ketika dibandingkan secara nasional, DIY berada di antara provinsi-provinsi yang mengalami penurunan NTP. Penurunan terbesar tercatat di Sulawesi Tenggara, sementara penurunan terkecil terjadi di Papua Tengah. Sementara itu, Jawa Timur mencatat kenaikan NTP tertinggi.

Informasi ini menunjukkan bahwa meskipun inflasi di DIY relatif terkendali, ada tantangan yang dihadapi dalam sektor pertanian dan harga komoditas yang berfluktuasi. Ini menimbulkan keprihatinan tambahan terhadap daya beli masyarakat dan stabilitas harga di masa yang akan datang. Upaya untuk menjaga kestabilan harga, terutama dalam kelompok makanan, menjadi sangat penting untuk memastikan kesejahteraan masyarakat di DIY.

Exit mobile version