Isu mengenai kecerdasan buatan atau AI semakin menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan. Dalam konteks ini, Presiden Direktur IBM Indonesia, Roy Kosasih, menegaskan bahwa AI bukanlah ancaman bagi kemampuan kognitif manusia, tetapi justru sebuah peluang untuk meningkatkan produktivitas. Pernyataan ini muncul di tengah kontroversi yang mengklaim bahwa penggunaan teknologi generatif seperti AI dapat menjadikan manusia lebih pasif secara intelektual.
Roy menjelaskan bahwa hampir semua orang kini telah menggunakan AI, baik secara langsung maupun tidak langsung. Contohnya, proses riset yang sebelumnya memakan waktu antara 30 hingga 60 menit kini dapat diselesaikan dalam hitungan detik berkat kemajuan teknologi ini. Ia mengatakan, “Kalau dulu dalam satu hari kerja hanya bisa melakukan empat riset, sekarang mungkin bisa sepuluh. Bahkan karena efisiensi ini, kita bisa menyusun dua hingga tiga artikel dalam waktu yang sama.”
Walaupun AI menawarkan efisiensi, Roy juga mengungkapkan bahwa masalah utama terletak pada bagaimana individu memanfaatkan waktu yang lebih efisien tersebut. “Kalau efisiensinya tidak dimanfaatkan untuk hal yang membangun, dan justru dipakai untuk hal yang tidak produktif, seperti bermain game seharian, ya itu bisa membuat kognitif menurun,” jelasnya.
Berdasarkan pandangan Roy, AI memberikan kesempatan besar bagi individu untuk mengambil langkah lebih maju dalam karier dan perkembangan pribadi. Ini mencakup pelatihan ulang, pengembangan keterampilan baru, atau bahkan menciptakan inovasi. “Dengan bantuan AI, kita harus gunakan waktu yang tersisa untuk menambah pekerjaan lain, melatih diri, atau menciptakan hal-hal baru,” imbuhnya.
Pentingnya efisiensi juga terlihat dalam skala nasional. Negara-negara maju, menurut Roy, berhasil berkembang dengan terus meningkatkan volume dan kualitas pekerjaan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa efisiensi yang dihasilkan oleh AI dapat mendorong kemajuan ekonomi dan sosial jika dimanfaatkan dengan baik.
Namun, ada juga tantangan yang perlu diperhatikan. Dilema mengenai penggunaan AI dapat memengaruhi bukan hanya individu, tetapi juga negara secara keseluruhan. Roy menekankan bahwa cara kita mengadopsi dan memanfaatkan teknologi ini akan menentukan masa depan produktivitas dan peradaban kita.
Di sisi lain, industri harus bersiap untuk menghadapi perubahan ini dengan menyebarluaskan pendidikan dan pelatihan yang relevan. Kolaborasi antara perusahaan teknologi seperti IBM dan lembaga pendidikan, seperti Hacktiv8, masuk dalam agenda untuk memperkuat pengembangan talenta digital di Indonesia.
Sebagai salah satu langkah konkret, kerjasama ini bertujuan untuk membekali tenaga kerja dengan keterampilan yang diperlukan di era digital yang semakin berkembang. Menyadari pentingnya investasi dalam sumber daya manusia, IBM berkomitmen untuk mendukung transisi ini.
Roy pun menekankan bahwa potensi yang ditawarkan oleh AI harus dipenuhi dengan cara yang bertanggung jawab. Keseimbangan antara memanfaatkan teknologi dan menjaga kemampuan berpikir kritis sangat penting agar AI tidak menjadi krisis bagi manusia, melainkan alat yang memperkuat intelektualitas kita.
Dari pemaparan tersebut, jelas bahwa AI memiliki potensi untuk meningkatkan produktivitas secara substansial sekaligus memberikan tantangan yang perlu diatasi. Dengan pendekatan yang tepat, AI dapat menjadi kunci untuk masa depan yang lebih efisien dan produktif, baik bagi individu maupun masyarakat secara keseluruhan.
Transformasi ini bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga memerlukan dukungan dari berbagai pihak untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan teknologi dan penguatan kapasitas kognitif manusia.






