Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon kini melakukan sejumlah langkah strategis untuk mendongkrak kunjungan pariwisata dengan memanfaatkan kekayaan sejarah, edukasi, dan kuliner yang dimiliki oleh daerah tersebut. Melalui kerja sama dengan Yayasan Prima Ardian Tana, Disbudpar mengadakan acara Familiarization Trip (Famtrip) pada 25-27 Juli 2025, yang bertujuan untuk memperkenalkan berbagai potensi pariwisata di Cirebon.
Kepala Disbudpar Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya, menyatakan bahwa Cirebon menawarkan berbagai objek wisata yang bernilai tinggi, termasuk wisata sejarah melalui keberadaan empat keraton terkenal: Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Kaprabonan. Menurutnya, acara Famtrip ini diharapkan dapat meningkatkan daya tarik kunjungan wisatawan serta memberikan dampak positif terhadap ekonomi masyarakat setempat.
Selama tiga hari pelaksanaan Famtrip, peserta berkesempatan untuk menjelajahi banyak tempat menarik. Mereka mengunjungi Keraton Kacirebonan, Museum Topeng, Masjid Sang Cipta Rasa, dan Taman Sari Goa Sunyaragi. Selain itu, terdapat juga workshop batik Trusmi yang mengajarkan seni tradisi batik kepada peserta. “Kami ingin mengenalkan Cirebon sebagai tujuan utama wisata budaya di Jawa Barat,” jelas Agus.
Wisata kuliner juga menjadi bagian penting dari Famtrip ini. Para peserta mencoba berbagai hidangan khas Cirebon, seperti Nasi Jamblang Ibu Nur, Nasi Lengko H Barno, dan Empal Gentong Krucuk. Kuliner minuman khas, Sirup Michiko, juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Kuliner lokal ini tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga bagian dari identitas Cirebon yang harus dipromosikan.
Salah satu momen menarik dalam Famtrip adalah pementasan “Senandung Cirebon Bersatu” yang melibatkan kolaborasi antara delapan sanggar seni lokal dan seniman internasional dari AS, Richard North. Pementasan ini diadakan di Baraja Amphitheatre dan menjadi simbol persatuan dan kekayaan budaya. Nani Y Taufik, dari Yayasan Prima Ardian Tana, menekankan pentingnya kolaborasi untuk mengoptimalkan potensi pariwisata. “Kita harus menyatukan kekuatan untuk maju dan menjadikan Cirebon dikenal secara global,” ujarnya.
Sultan Kacirebonan IX, PR Abdulgani Natadiningrat, juga menyoroti pentingnya seni dan budaya dalam menarik wisatawan. “Jika seluruh pihak di Cirebon bersatu memajukan seni dan budaya, kita akan menarik lebih banyak pengunjung,” tandasnya. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan pariwisata tidak hanya membutuhkan sumber daya alam, tetapi juga melibatkan seni dan kebudayaan yang kaya.
Pentingnya edukasi dalam pengembangan pariwisata juga disorot oleh Renny Taufik, yang mengatakan bahwa investasi dalam SDM sangat diperlukan. “Kami perlu meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang seni dan budaya untuk membawa Cirebon ke panggung dunia,” katanya. Oleh karena itu, program edukasi dan pertukaran seni antar daerah menjadi salah satu fokus untuk meningkatkan kualitas pariwisata.
Rangkaian kegiatan dalam Famtrip ini tidak hanya memberikan pengalaman menarik bagi peserta, tetapi juga menunjukkan bahwa Cirebon memiliki potensi luar biasa dari sisi sejarah, edukasi, dan kuliner. Dengan upaya bersama dari semua elemen, Cirebon diharapkan dapat menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Barat yang mampu menarik wisatawan lokal maupun mancanegara.
Mengembangkan sektor pariwisata di Cirebon memerlukan sinergi antara pemerintah, komunitas, dan pelaku industri. Dengan pendampingan yang tepat dan strategi yang matang, potensi yang dimiliki Cirebon tidak hanya bisa mendatangkan kunjungan, tetapi juga memberikan dampak ekonomis yang signifikan bagi masyarakat. Melalui berbagai upaya ini, Cirebon berambisi untuk tampil bukan hanya sebagai tujuan wisata, tetapi juga sebagai simbol identitas budaya yang kaya.





