Jawa Tengah Optimistis Produksi Padi Naik Pasca Pemulihan Lahan Eks Banjir

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menunjukkan optimisme tinggi terhadap peningkatan produksi padi setelah berhasil memulihkan lahan persawahan yang terdampak banjir di beberapa wilayah. Normalisasi sungai dan berbagai upaya rehabilitasi lahan pertanian menjadi kunci utama dalam mengembalikan produktivitas sawah yang sempat terendam banjir maupun rob.

Pemulihan Lahan Sawah di Kabupaten Demak

Normalisasi Sungai Pelayaran sepanjang 300 meter di Kabupaten Demak telah mengeringkan lahan persawahan seluas 512 hektare yang sebelumnya direndam banjir. Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menyampaikan bahwa banjir yang terjadi pada Juli lalu menyebabkan lahan tersebut tidak dapat ditanami. Namun dengan pengerjaan normalisasi yang berjalan hingga saat ini, sawah sudah kembali dapat diolah dan ditanami.

Kerugian yang dialami akibat banjir tersebut diperkirakan mencapai Rp18 miliar per musim tanam. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, menyatakan bahwa pemulihan lahan di Demak menjadi faktor penting agar produksi padi terutama di Kecamatan Karangtengah bisa meningkat kembali. Dia juga mengungkapkan bahwa langkah ini adalah hasil kolaborasi antara BBWS Pemali-Juana, Bank Indonesia Jateng, Pertamina, Djarum, dan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya.

“Setelah selesai normalisasi dan pengeringan lahan, sawah kembali dapat ditanami sehingga daerah ini optimis dapat kembali menjadi lumbung pangan, bahkan sempat berada di peringkat ketiga di Jawa Tengah,” jelas Taj Yasin.

Inovasi pada Lahan Eks Rob di Kota Pekalongan

Selain Demak, Kota Pekalongan juga mencatat kemajuan dalam pemulihan lahan pertanian, khususnya bekas lahan yang terdampak banjir air laut pasang (rob). Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Pekalongan, Lili Sulistyowati, menyatakan bahwa uji coba penanaman padi varietas Biosalin I dan II di atas lahan seluas 1,3 hektare berhasil dengan hasil yang sangat baik.

Lahan eks rob yang terletak di Kelurahan Krapyak dan Degayu, yang sebelumnya menjadi lahan menganggur dan terbengkalai, mulai produktif kembali. Lili menambahkan bahwa keberhasilan ini telah berkembang hingga mencapai area 40 hektare.

“Dari total 721 hektare sawah di Kota Pekalongan, sekitar 95 hektare adalah lahan eks rob. Dengan varietas Biosalin I dan II, produksi padi dapat mencapai 4,2-5,7 ton per hektare untuk Biosalin I dan 4,8-6 ton per hektare untuk Biosalin II," ungkapnya.

Keberhasilan ini menimbulkan harapan besar bagi petani di Kota Pekalongan agar perekonomian mereka dapat segera pulih seiring dengan meningkatnya produksi padi.

Dukungan Terpadu untuk Ketahanan Pangan

Pemulihan lahan di Jawa Tengah ini tidak hanya memperbaiki produktivitas pertanian, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan di tingkat regional. Dengan dukungan berbagai instansi, termasuk pemerintah daerah dan sektor swasta, normalisasi sungai dan pengelolaan lahan bekas banjir dapat dilaksanakan secara efektif.

Strategi ini diharapkan bisa diterapkan pada wilayah lain yang memiliki kondisi serupa, baik terdampak banjir maupun rob. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berkomitmen untuk terus melakukan intervensi guna memastikan area-area yang sempat terdampak dapat kembali berkontribusi signifikan pada produksi padi nasional.

Dengan upaya pemulihan lahan yang terus berjalan, Jawa Tengah siap mengembalikan peranannya sebagai salah satu lumbung pangan utama di Indonesia. Hal itu diharapkan dapat mendukung ketersediaan beras nasional serta meningkatkan kesejahteraan petani di daerah tersebut.

Berita Terkait

Back to top button