Ketua DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Baiq Ivie Rupaeda, menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas insiden pembakaran dan penjarahan yang menimpa gedung DPRD NTB oleh ribuan massa pengunjuk rasa pada Sabtu (30/8). Kejadian ini menjadi sorotan karena mengganggu proses kerja legislatif di daerah tersebut.
Menurut Ivie Rupaeda, insiden ini sangat disesalkan dan diharapkan tidak terulang kembali. “Saya atas nama lembaga dan pribadi menyatakan keprihatinan yang mendalam atas kejadian hari ini. Semoga kembali kita kondusif dan semua kita menahan diri untuk tidak anarkis,” ujarnya saat dikonfirmasi di Mataram, Minggu (31/8). Pernyataan ini disampaikan usai ia menghadiri pertemuan dengan jajaran Forkopimda dan elemen masyarakat di Pendopo Gubernur NTB.
Respons DPRD terhadap Insiden
Meskipun gedung DPRD NTB mengalami kerusakan parah akibat aksi pembakaran, Baiq Ivie menegaskan bahwa kinerja DPRD tetap berjalan. Seluruh anggota dewan akan melaksanakan tugas dan fungsinya seperti biasa. “Tentu kami akan berkoordinasi dengan Gubernur NTB. Karena, yang saya pikirkan adalah tugas dan fungsi DPRD harus tetap berjalan,” jelas Ivie.
Untuk menunjang kelangsungan kerja legislatif, Ivie menjelaskan bahwa dewan berencana menggunakan tenda darurat yang didirikan di halaman gedung DPRD sebagai sekretariat sementara. "Sementara kami buat tenda untuk sekretariat. Tapi kalau untuk paripurna kami pinjam Gedung Sangkareang yang berada di Kantor Gubernur NTB, tapi setiap hari kami berharap akan pakai tenda saja," tambahnya. Hal ini dilakukan agar proses legislasi dan komunikasi dengan pemerintah daerah tetap lancar meskipun dalam kondisi pasca-bencana.
Dampak Kerusakan dan Harapan ke Depan
Hingga saat ini, nilai kerugian akibat pembakaran gedung DPRD belum dapat dipastikan. Ivie mengungkapkan bahwa pihaknya belum melakukan penilaian kerugian secara rinci, namun ia menganggap insiden tersebut sebagai persoalan bersama yang harus diselesaikan secara bersama-sama oleh seluruh elemen masyarakat dan pemerintah. “Belum ada soal kerugian, karena kami belum taksir. Tapi ini persoalan kita bersama,” kata Ivie.
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, juga menegaskan pentingnya sinergi antara eksekutif dan legislatif. Ia menyatakan akan mendukung DPRD agar tetap menjalankan tugas dan fungsi mereka meskipun dalam situasi yang menantang. “Jadi, DPRD harus tetap berjalan,” tegas gubernur.
Pentingnya Dialog dan Kedamaian
Sebelumnya, Ketua DPRD NTB sudah menyatakan bahwa pihaknya selalu membuka pintu untuk berdialog dan menerima aspirasi masyarakat dengan baik. Namun, ia mengingatkan agar aspirasi disampaikan secara damai dan tidak berujung pada tindakan anarkis yang merugikan. “Tapi mungkin kali ini ada hal-hal yang tentunya kami berharap lebih baik lagi ke depan. Tidak ada lagi terjadi hal-hal anarkis seperti yang sudah terjadi,” ujar Ivie.
Peristiwa pembakaran dan perusakan ini menjadi pengingat pentingnya menjaga kondusifitas wilayah dan mengelola demonstrasi secara tertib. Aksi massa yang awalnya bertujuan menyuarakan aspirasi harus tetap dijaga agar tidak merusak fasilitas publik dan melemahkan fungsi lembaga pemerintahan.
Dengan kesiapan DPRD NTB yang akan kembali beroperasi dalam kondisi terhambat sarana kantor, diharapkan fungsi legislatif di daerah ini dapat kembali optimal. Selanjutnya, koordinasi antara pemerintah daerah, forum komunikasi pimpinan daerah (Forkopimda), dan masyarakat sangat krusial untuk menciptakan stabilitas dan mempercepat pemulihan kondisi pasca-kerusuhan.
Demikian informasi perkembangan terkini terkait pembakaran gedung DPRD NTB, yang mendapat sorotan dari berbagai kalangan dan menjadi perhatian pemerintah serta masyarakat setempat.






