Suasana haru menyelimuti halaman Rumah Sakit Bina Sehat (RSBS) Jember pada Minggu malam, 14 September 2024. Tujuh jenazah korban kecelakaan bus di jalur Gunung Bromo tiba secara bergantian di rumah sakit tersebut, disambut dengan tangis dan doa dari keluarga, kerabat, serta para karyawan RSBS. Kesedihan mendalam terpancar dari wajah semua yang hadir, terutama karena sebagian besar korban adalah bagian dari keluarga besar rumah sakit.
Korban dan Proses Pemakaman
Ketujuh jenazah itu terdiri dari:
- Bela Puteri Kayila Nurjati (10 tahun)
- Hendra Pratama (37 tahun)
- Arti Wibowati (34 tahun)
- Wardatus Soleha (35 tahun)
- Aiza Fahrani Agustin (7 tahun)
- Desi Eka Agustini (33 tahun)
- Nasha Azkiya Naygara (14 tahun)
Selain ketujuh korban yang dimakamkan di daerah asal masing-masing, satu korban lainnya bernama Hesti Purba Wredhamaya (39) dimakamkan di Madiun sesuai dengan permintaan keluarganya. Proses pemakaman dilakukan secara tertib setelah jenazah disalati di halaman parkir RSBS. Puluhan karyawan dan keluarga korban turut hadir untuk memberikan penghormatan terakhir.
Kondisi Korban Lain dan Penanganan Medis
Selain korban meninggal, sebanyak 17 orang mengalami luka-luka, dengan tingkat cedera mulai dari ringan hingga berat. Dari jumlah tersebut, 15 korban dirawat di RSBS, sementara dua korban yang kondisinya kritis dirawat intensif di RSUD Tongas dan RSUD dr. Moh. Saleh Probolinggo. Tim medis RSBS segera melakukan tindakan darurat, termasuk operasi, untuk memberikan pertolongan terbaik bagi para korban.
Kronologi Kecelakaan
Kecelakaan tragis tersebut terjadi ketika sebuah bus Hino bernomor polisi P-7221-UG mengalami rem blong di jalan menurun Desa Boto, Kecamatan Lumbang, Probolinggo. Bus tersebut kemudian menabrak pembatas jalan dan sebuah sepeda motor. Dari delapan korban meninggal, tiga di antaranya adalah anak-anak. Salah satu korban, Hendra Pratama, turut tewas bersama istri dan anaknya, menambah duka bagi keluarga besar RSBS.
Penjelasan Rumah Sakit
Faida, pemilik RSBS Jember sekaligus mantan Bupati, menyampaikan duka cita yang amat mendalam atas kejadian ini. Ia menegaskan bahwa perjalanan ke Gunung Bromo yang diikuti para korban bukanlah kegiatan resmi dari rumah sakit. "Ini adalah inisiatif pribadi para karyawan yang ingin merayakan kelulusan bersama keluarga. Kami sama sekali tidak menyangka hingga akhirnya menerima kabar duka ini," ujarnya.
Mengenai penanganan korban luka, Faida menambahkan, "Kami melakukan upaya terbaik dengan tindakan medis darurat demi menyelamatkan nyawa sebanyak mungkin." Keterlibatan langsung tim medis RSBS menjadi bukti komitmen rumah sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan, meskipun kejadian ini datang tanpa persiapan khusus.
Dukungan Komunitas dan Proses Pemulangan Korban
Pemulangan korban juga disertai pengawalan ketat, dengan puluhan ambulans yang turut mengiringi proses tersebut dari lokasi kecelakaan ke rumah masing-masing. Hal ini bertujuan memastikan penghormatan yang layak bagi para korban sekaligus menjaga kelancaran arus lalu lintas.
Tragedi kecelakaan bus di jalur Bromo ini meninggalkan duka mendalam di masyarakat Jember, khususnya keluarga besar RSBS. Selain kisah pilu para korban, insiden ini juga menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan transportasi di jalur wisata pegunungan yang kerap menantang ini.
Berbagai pihak tengah menunggu hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) yang dijadwalkan selesai dalam waktu maksimal tiga hari, guna mengungkap penyebab pasti kecelakaan dan upaya pencegahan serupa di masa depan.







