Sepanjang periode Januari hingga Oktober 2025, kepolisian Indonesia mencatat pencapaian signifikan dalam memberantas peredaran narkoba. Data resmi dari Polri menunjukkan bahwa sebanyak 38.934 kasus narkoba berhasil diungkap dengan penangkapan terhadap 51.763 tersangka di seluruh wilayah Tanah Air. Total barang bukti yang disita mencapai 197,71 ton dengan berbagai jenis narkotika, menunjukkan skala besar dan kompleksitas jaringan kejahatan ini.
Data Penangkapan dan Karakteristik Pelaku
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigadir Jenderal Polisi Eko Hadi Santoso menyampaikan bahwa tersangka yang diamankan tidak hanya berasal dari kalangan pria dan wanita dewasa, melainkan juga melibatkan anak di bawah umur. Rinciannya terdiri dari 48.692 pria warga negara Indonesia, 2.764 wanita, serta 150 anak-anak. Penegak hukum juga menahan 147 warga negara asing yang diduga terlibat dalam jaringan narkoba internasional.
“Kami mengungkap kasus ini melalui kerja keras dari Bareskrim dan jajaran Polda yang didukung oleh berbagai lembaga terkait. Operasi dilakukan dari pusat hingga wilayah pelosok untuk menyasar seluruh jalur distribusi narkoba,” jelas Eko dalam konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan.
Komposisi Barang Sitaan
Barang bukti yang disita sangat beragam dan dalam jumlah besar. Polri berhasil menyita 184,64 ton ganja, 6,95 ton sabu, serta 1,45 juta butir ekstasi. Selain itu, ditemukan pula 34,49 kilogram kokain, 6,83 kilogram heroin, 1,87 ton tembakau gorila, dan 286.456 butir happy five. Barang-barang itu berasal dari berbagai lokasi, termasuk gudang penyimpanan di pelabuhan, apartemen mewah, hingga jalur lintas provinsi yang rawan menjadi sarang distribusi.
Kepala Badan Reserse Kriminal Polri (Kabareskrim), Komisaris Jenderal Polisi Syahardiantono menegaskan bahwa operasi pemberantasan narkoba ini sejalan dengan amanat Asta Cita ke-7 Presiden Jokowi, yaitu memberantas narkoba sampai ke akar-akarnya. “Perang melawan narkoba harus berjalan terus tanpa henti, dari hulu sampai hilir,” tegas Syahar.
Sinergi Antarlembaga dan Langkah Ke Depan
Dalam upaya pemberantasan narkoba yang massif, Polri juga memperkuat kolaborasi dengan Badan Narkotika Nasional (BNN), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Bea Cukai, serta lembaga internasional. Strategi ini bertujuan menutup celah penyelundupan narkotika dari segala bentuk modus yang semakin canggih.
Selain operasi penindakan, program pencegahan dan edukasi masyarakat terus digalakkan guna mengurangi permintaan dan dampak sosial dari penyalahgunaan narkoba. Rehabilitasi menjadi salah satu perhatian utama untuk memulihkan korban penyalahgunaan agar bisa kembali berkontribusi positif di masyarakat.
Dampak dan Tantangan
Data besar penindakan narkoba tersebut menunjukkan bahwa jaringan kejahatan ini masih sangat masif dan kompleks. Ancaman tidak hanya datang dari bandar besar, tetapi melibatkan berbagai lapisan masyarakat termasuk anak-anak dan warga negara asing yang memainkan peran dalam jaringan internasional.
Keberhasilan penyitaan hampir 200 ton narkoba ini sekaligus menjadi pengingat betapa seriusnya tantangan yang dihadapi aparat penegak hukum. Taktik kejahatan yang terus berkembang menuntut penyesuaian strategi yang cepat dan inovatif.
Peran Publik dan Kesadaran Bersama
Upaya berkelanjutan ini membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat. Kesadaran dan partisipasi publik dalam melaporkan aktivitas mencurigakan dapat memperkuat efektivitas pemberantasan narkoba. Edukasi bagi generasi muda juga perlu ditingkatkan agar mereka terhindar dari jerat narkoba sejak dini.
Ke depan, penguatan jaringan kerjasama regional dan internasional akan menjadi kunci dalam menghadapi mafia narkotika yang tidak mengenal batas negara. Pemerintah dan aparat keamanan terus berkomitmen mengerahkan segala sumber daya demi menjamin keamanan dan kesehatan masyarakat dari bahaya narkoba.
Source: www.viva.co.id




