Ratusan pelari berkumpul di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta, dalam ajang Transmigrasi Jogja Run yang berlangsung Sabtu (25/10/2025). Kegiatan fun run dengan jarak tempuh 5 kilometer ini tidak hanya memeriahkan suasana, tetapi juga menjadi wahana sosialisasi program transmigrasi oleh Kementerian Transmigrasi. Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi turut ambil bagian dengan berlari bersama para peserta, sekaligus memperkenalkan paradigma baru transmigrasi yang kini mengedepankan integrasi sosial dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Paradigma Baru dalam Program Transmigrasi
Wamentrans Viva Yoga mengungkapkan bahwa program transmigrasi telah mengalami transformasi signifikan, berkembang dari konsep tradisional menjadi berbagai varian yang lebih inklusif dan adaptif dengan kondisi terkini. Beberapa bentuk transmigrasi baru tersebut meliputi transmigrasi tuntas, transmigrasi karya nusa, transmigrasi lokal, transmigrasi patriot, serta transmigrasi gotong royong. Perubahan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan transmigrasi sebagai instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan sekaligus memperkuat ketahanan nasional.
Menurut Viva Yoga, perpindahan penduduk antar wilayah yang melibatkan beragam latar belakang suku, budaya, dan adat istiadat bertujuan untuk memperkuat ikatan nasional. “Dengan perpindahan penduduk dari satu tempat ke tempat lainnya, kita harapkan adanya perbedaan suku, adat, dan budaya bisa bersatu, sehingga masyarakat transmigran dan masyarakat lokal dapat terintegrasi secara nasional,” ujarnya.
Peran Program Transmigrasi dalam Mengentaskan Kemiskinan dan Mendukung Ketahanan Pangan
Selain fokus pada aspek sosial, program transmigrasi juga diarahkan untuk mengurangi kemiskinan di kawasan baru. Pemerintah memberikan akses lahan seluas 1-2 hektare kepada masyarakat transmigran agar mereka dapat melakukan pengelolaan lahan secara produktif. Upaya ini merupakan bagian dari reforma agraria yang bertujuan membantu masyarakat mengubah nasib menuju kehidupan yang lebih sejahtera.
“Untuk mengentaskan kemiskinan, kami memberikan lahan 1-2 hektare kepada masyarakat transmigran. Ini bagian dari tanggung jawab negara dalam melakukan reforma agraria agar mereka bisa mengubah nasib dan hidup lebih sejahtera,” kata Viva Yoga.
Lebih jauh, program ini juga diarahkan untuk menambah kapasitas ketahanan pangan nasional. Kawasan transmigrasi ditempatkan sebagai sentra produksi pangan, khususnya beras. Hal ini vital untuk mengantisipasi tantangan global, seperti krisis iklim dan ketegangan geopolitik yang dapat mengganggu pasokan pangan.
“Sebagian besar kawasan transmigrasi adalah sentra produksi pangan. Karena itu, kami berharap program transmigrasi dapat berkontribusi besar dalam membangun sentra pangan,” tutur Viva Yoga.
Mendorong Pertumbuhan Ekonomi dan Pusat-Pusat Pembangunan Baru
Kementerian Transmigrasi juga menargetkan terbentuknya pusat-pusat ekonomi baru yang lahir dari aktivitas masyarakat di kawasan transmigrasi. Dengan demikian, keberadaan transmigrasi tidak hanya sebagai relokasi penduduk, tetapi juga menjadi stimulan pertumbuhan ekonomi lokal maupun nasional.
“Kita ingin menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui kegiatan masyarakat di kawasan transmigrasi,” ujar Wamentrans.
Melalui kegiatan sosialisasi seperti Transmigrasi Jogja Run, pemerintah berharap generasi muda semakin mengenal dan tertarik untuk berpartisipasi dalam program transmigrasi. Partisipasi aktif generasi muda dipandang esensial dalam membangun Indonesia yang mandiri dan berdaya saing.
Transmigrasi Jogja Run sekaligus menunjukkan bagaimana pendekatan kreatif dan inovatif dapat dimanfaatkan untuk menginformasikan program-program pemerintah, memperkuat semangat nasionalisme, serta membangun kesadaran terhadap potensi besar program transmigrasi yang terus berkembang.
Source: www.beritasatu.com





