Ledakan yang terjadi di SMA Negeri 72 Jakarta pada Jumat, 7 November 2025, telah melukai puluhan orang dan meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat. Kejadian tragis ini menggarisbawahi betapa pentingnya perlindungan dan keamanan di lingkungan sekolah bagi siswa.
Sebanyak 54 orang dilaporkan mengalami luka-luka dan mendapatkan perawatan medis di sejumlah rumah sakit di Jakarta. Ledakan terjadi saat kegiatan keagamaan sedang berlangsung di sekolah tersebut, yang menambah keprihatinan akan keselamatan peserta didik.
Desakan Penguatan Sekolah Ramah Anak oleh DPR
Anggota Komisi VIII DPR RI, Selly Andriany Gantina, menegaskan bahwa konsep sekolah ramah anak harus diwujudkan secara nyata dan bukan sekadar slogan. Ia mencontohkan pentingnya keberadaan kanal aduan yang aman, pendidikan anti-bullying, serta ruang dialog antara siswa, guru, dan orang tua sebagai bagian dari sistem sekolah.
Menurut Selly, kejadian ini menjadi peringatan bahwa masih banyak sekolah di Tanah Air yang belum benar-benar menjadi ruang aman untuk anak-anak. Penanganan pasca insiden ini harus meliputi aspek pemulihan psikologis yang menyeluruh bagi korban, guru, staf sekolah, dan orang tua.
Faktor Penyebab dan Implikasi Sosial
Pelaku ledakan diduga adalah siswa berusia 17 tahun yang mengalami tekanan sosial dan perundungan (bullying) di sekolahnya. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga menyoroti kurangnya perhatian dari orang tua dan sekolah terhadap kondisi anak tersebut.
Selly mengungkapkan bahwa tidak hanya keluarga dan sekolah yang berperan, tetapi seluruh ekosistem perlindungan anak perlu bekerja optimal. Anak butuh ruang aman untuk menyampaikan keluh kesah dan dukungan dari lingkungan sekitar agar tidak merasa terasing.
Dampak Psikologis yang Luas
Ledakan di SMAN 72 Jakarta tidak hanya menyebabkan luka fisik, tetapi juga trauma psikis yang bersifat kolektif. Anak-anak yang tidak terluka sekalipun bisa mengalami stres akibat kejadian tersebut. Guru, staf sekolah, dan orang tua pun turut merasakan dampak psikologis.
Untuk itu, dibutuhkan pemulihan psikotraumatik yang menyeluruh dan melibatkan berbagai pihak. Selly mengajak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dinas Pendidikan, serta KPAI membentuk tim respons krisis khusus di sekolah.
Langkah-Langkah yang Diharapkan
- Membentuk tim respons krisis yang terdiri dari psikolog, guru BK, dan perwakilan orang tua.
- Melakukan asesmen psikologis terhadap korban dan pihak terkait.
- Merancang program pemulihan kolektif untuk mengatasi trauma.
- Meningkatkan literasi digital bagi orang tua agar mampu mengenali tanda tekanan emosional pada anak.
- Mengimplementasikan komunikasi yang empatik dan suportif di lingkungan keluarga dan sekolah.
Harapan dan Upaya Ke Depan
DPR mendesak agar sekolah menjadi tempat yang aman, inklusif, dan peduli terhadap kesejahteraan mental peserta didik. Tragedi SMAN 72 Jakarta harus menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk memperkuat budaya sekolah ramah anak.
Dengan penguatan sistem perlindungan dan dukungan psikososial, diharapkan kejadian serupa tidak terulang. Sekolah dapat berfungsi tidak hanya sebagai pusat pendidikan akademik, tetapi juga sebagai lingkungan yang melindungi dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com




