Festival Literasi Majalengka: Dari Suara Batu hingga Lomba Bertutur Ibu, Hidupkan Budaya baca

Festival Literasi Majalengka: Dari Suara Batu hingga Lomba Bertutur Ibu-ibu PKK

Pada 18 November 2025, halaman Kantor Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kabupaten Majalengka dipenuhi oleh pengunjung. Festival Literasi Majalengka yang berlangsung dua hari menjadi pusat perhatian dengan berbagai kegiatan yang mengedukasi dan menghibur masyarakat.

Pembukaan festival dimeriahkan oleh penampilan seni gamelan sorawatu dari Padepokan Kirik Nguyuh. Gamelan sorawatu unik karena alat musiknya dibuat dari limbah batu. Kesenian ini tidak hanya menampilkan keindahan musik, tapi juga mengusung pesan pelestarian lingkungan. Kepala Bidang Perpustakaan Dede Cucu Rosmiati mengatakan, “Gamelan sorawatu sudah menjadi ikon Majalengka dan berperan dalam literasi kebudayaan serta pendidikan karakter.”

Selain penampilan seni, festival menghadirkan beragam lomba yang melibatkan kelompok masyarakat dari berbagai usia. Pada hari kedua, anak-anak TK/RA mengikuti lomba mewarnai dengan antusias. Tidak ketinggalan, ibu-ibu PKK juga berpartisipasi dalam lomba bertutur yang bertujuan mengembangkan kemampuan bercerita secara efektif. Ada pula lomba video konten literasi, lomba resensi buku, dan lomba perpustakaan desa terbaik.

Data menunjukkan bahwa Majalengka kini memiliki 113 perpustakaan desa yang sudah terdaftar resmi dengan Nomor Pustaka Perpustakaan (NPP). Sebanyak 20 perpustakaan desa mengambil bagian dalam perlombaan. Dede Cucu menegaskan, “Kami berkomitmen meningkatkan jumlah perpustakaan desa agar minimal satu perpustakaan ada di tiap desa di Majalengka.”

Kehadiran Bunda Literasi Kabupaten Majalengka, Iim Maemunah Suherman, menambah semangat peserta lomba dan pengunjung. Iim yang juga Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Majalengka memberikan motivasi khusus untuk ibu-ibu PKK. Dukungan dari pemerintah daerah, komunitas literasi, sekolah, dan sponsor menjadi kunci suksesnya festival ini.

Kepala Dinas Arpusda Majalengka, Ono Haryono, mengungkapkan rasa syukurnya atas sinergi berbagai pihak. Ono menjelaskan literasi seperti navigasi di tengah lautan informasi dan jembatan menuju kemajuan peradaban. Ia berharap kegiatan ini mampu melahirkan generasi kreatif dan berdaya saing tinggi di Majalengka.

Festival Literasi dengan tema "Literasi Bergerak, Majalengka Langkung Sae" bukan hanya ajang memperlihatkan seni dan lomba, tetapi juga wahana menyebarkan nilai-nilai budaya dan lingkungan. Kegiatan ini memberikan ruang bagi masyarakat untuk belajar, berkreasi, dan berpartisipasi aktif dalam pembangunan budaya literasi di daerah.

Berbagai aktivitas dan lomba dalam festival ini membuktikan bahwa literasi bukan hanya soal membaca, tapi juga menumbuhkan jiwa sosial dan kebersamaan antarwarga. Dengan investasi pada literasi seperti ini, Majalengka terus maju sebagai daerah yang peduli pada budaya, pendidikan, dan pelestarian lingkungan.

Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com
Exit mobile version