Manajemen Manchester United resmi memecat Ruben Amorim akibat performa buruk yang terus berlanjut di Liga Premier musim 2025/2026. Klub juga merasa terdapat ketegangan serius antara Amorim dan jajaran manajemen yang memperburuk situasi di dalam internal tim.
Performa Setan Merah di bawah kendali Amorim belum memenuhi ekspektasi tinggi yang ditetapkan klub. Posisi United yang hanya berada di urutan keenam klasemen sementara setelah seri 1-1 melawan Leeds United menjadi momen penting yang menimbulkan kekecewaan besar.
Sampai pekan ke-20, konsistensi permainan Manchester United sangat mengecewakan. Tim ini gagal menampilkan gaya bermain ambisius yang diidamkan manajemen, sehingga membuat citra klub sebagai salah satu tim top di Inggris mulai memudar.
Namun, kegagalan di lapangan bukanlah satu-satunya alasan pemecatan Amorim. Komunikasi yang memburuk antara staf pelatih dan petinggi klub juga menjadi masalah utama. Hubungan yang memburuk ini memicu ketegangan tinggi hingga membuat suasana manajemen menjadi tidak kondusif.
Keputusan ini diambil secara kolektif oleh CEO Omar Berrada dan Direktur Sepak Bola Jason Wilcox setelah menimbang berbagai faktor, termasuk sikap pelatih yang menegaskan dirinya sebagai manajer penuh kuasa, bukan hanya pelatih biasa. Pernyataan Amorim yang keras pasca laga melawan Leeds menunjukkan adanya konflik kepemimpinan yang mendalam.
Setelah pemecatan, Darren Fletcher ditunjuk sebagai pelatih sementara. Fletcher dikenal sebagai mantan pemain legendaris dan memiliki kedekatan kuat dengan kultur klub. Manajemen berharap kemampuan Fletcher dapat menstabilkan mental pemain menghadapi pertandingan berikutnya melawan Burnley.
Memutus kontrak Amorim di tengah musim membawa konsekuensi finansial berat bagi klub. Kontrak tanpa klausul pemutusan ringan memaksa Manchester United membayar kompensasi penuh hingga masa kontrak yang seharusnya berakhir pada musim panas 2027.
Selama 14 bulan, Amorim dikenal fanatik pada formasi 3-4-3 yang telah menjadi ciri khasnya. Namun, pendekatan ini sering gagal menghadapi serangan balik cepat lawan, menyebabkan kekhawatiran di kalangan manajemen dan media. Percobaan taktik alternatif sempat berhasil, tapi kemudian kembali ke pola lama yang kurang efektif.
Keputusan memecat Amorim sekaligus menandai awal fase transisi yang menantang. Manchester United harus segera mencari pelatih permanen yang mampu mengembalikan performa dan stabilitas taktis klub. Sementara itu, Fletcher bertugas memimpin tim dengan harapan memperbaiki situasi sebelum kedatangan asisten baru.
Publik dan pendukung klub kini menantikan hasil dari keputusan manajemen ini, apakah akan membuka babak baru penuh keberhasilan atau justru memperpanjang masa penantian gelar. Arah masa depan Old Trafford tergantung pada kemampuan pemimpin baru yang siap membawa klub kembali ke puncak sepak bola dunia.
Berbagai tantangan teknis dan non-teknis harus diatasi agar Manchester United dapat bersaing di tingkat tertinggi. Manajemen, staf pelatih, dan para pemain diharapkan dapat bekerja sama dengan lebih kompak demi meraih target ambisius klub di musim mendatang.
Baca selengkapnya di: www.suara.com




