Sepanjang musim Liga 1 2025/2026, beberapa klub mencatatkan rekor kartu merah dan kartu kuning yang cukup menonjol. Data resmi dari Ileague menunjukkan adanya variasi perilaku disiplin antar klub selama kompetisi berlangsung.
Persijap Jepara menjadi klub dengan jumlah kartu merah terbanyak, mencapai tujuh kartu sepanjang musim. Posisi kedua dan ketiga ditempati oleh Persebaya Surabaya dan Arema FC dengan masing-masing enam kartu merah, menunjukkan intensitas permainan yang cukup keras di antara klub-klub tersebut.
Di sisi lain, dua klub berhasil menjaga catatan bersih tanpa menerima kartu merah, yaitu Malut United dan Borneo FC. Hal ini menunjukkan komitmen disiplin dan pengendalian emosi para pemain selama pertandingan.
Daftar Klub dengan Kartu Merah Terbanyak di Liga 1 2025/2026
- Persijap Jepara – 7 kartu merah
- Persebaya Surabaya – 6 kartu merah
- Arema FC – 6 kartu merah
- Klub lain – jumlah kartu merah lebih rendah
- Malut United – 0 kartu merah
- Borneo FC – 0 kartu merah
Selain kartu merah, catatan mengenai kartu kuning juga menarik untuk diamati. Bhayangkara Presisi Lampung tercatat sebagai klub yang paling banyak menerima kartu kuning selama musim ini, yaitu sebanyak 49 kartu kuning. Arema FC mengikuti dengan jumlah 46 kartu kuning, memperlihatkan bahwa klub ini cukup sering mendapat peringatan wasit.
Klub-klub dengan catatan kartu kuning paling sedikit adalah Persita dan Borneo FC, dengan masing-masing 27 dan 24 kartu kuning. Catatan ini mengindikasikan pendekatan bermain yang lebih disiplin dan minim pelanggaran.
Daftar Klub dengan Kartu Kuning Terbanyak di Liga 1 2025/2026
- Bhayangkara Presisi Lampung – 49 kartu kuning
- Arema FC – 46 kartu kuning
- Klub lain – jumlah kartu kuning bervariasi
- Persita – 27 kartu kuning
- Borneo FC – 24 kartu kuning
Data ini tidak hanya menjadi indikator disiplin, tapi juga mencerminkan gaya bermain yang diterapkan oleh masing-masing klub. Klub dengan jumlah kartu merah dan kuning tinggi cenderung memiliki permainan yang lebih agresif atau kurang terkontrol.
Sebaliknya, klub dengan catatan kartu yang rendah seringkali menunjukkan strategi permainan yang lebih tertib dan fokus pada pengendalian emosi pemain di lapangan. Hal ini penting untuk menjaga performa dan menghindari kerugian akibat pemain yang terkena sanksi.
Informasi mengenai distribusi kartu ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi klub, pelatih, dan pemain untuk meningkatkan strategi bermain sekaligus memperbaiki disiplin di musim-musim berikutnya. Liga 1 2025/2026 pun menunjukkan persaingan yang ketat tidak hanya dari segi teknik permainan, tetapi juga dari pengelolaan disiplin pemain di lapangan.
Baca selengkapnya di: bola.bisnis.com




