Advertisement

Komdis PSSI Jatim Proses Kasus Tendangan Kungfu Pemain PS Putra Jaya dengan Serius

Komite Disiplin (Komdis) PSSI Jawa Timur saat ini tengah menangani kasus dugaan pelanggaran serius yang dilakukan oleh pemain PS Putra Jaya Pasuruan, Muhammad Hilmi Gimnastiar. Insiden terjadi dalam pertandingan Liga 4 Jawa Timur antara PS Putra Jaya dan Perseta 1970 Tulungagung yang digelar di Stadion Bangkalan pada Senin, 5 Januari 2026.

Pelanggaran yang diduga merupakan tendangan kungfu itu mengenai dada pemain Perseta, Firman, pada menit ke-72 saat skor menunjukkan 0-4 untuk keunggulan Perseta. Ketua Komdis PSSI Jawa Timur, Makin Rahmat, mengonfirmasi bahwa berdasarkan rekaman video dan laporan perangkat pertandingan, tindakan Hilmi masuk kategori pelanggaran berat yang bisa berujung pada sanksi keras.

Proses Penanganan Kasus oleh Komdis PSSI Jatim

Sidang Komdis untuk menangani kasus ini dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 11 Januari 2026 pukul 11.00 WIB. Pada sidang tersebut, Komdis akan menentukan tingkat pelanggaran dan sanksi yang pantas diberikan kepada Hilmi. Makin Rahmat menegaskan bahwa insiden ini berpotensi masuk dalam Pasal 48 Kode Disiplin PSSI, yang mengatur pelanggaran berat. Hukuman paling berat bisa berupa larangan bermain sepak bola seumur hidup.

Menurut Makin, keputusan akhir sangat bergantung pada hasil sidang. Ia juga menyoroti pentingnya proses yang transparan agar efek jera bisa tercipta demi menjaga sportifitas dalam kompetisi. Komdis berharap keputusan bisa segera diumumkan sehingga kasus ini tuntas tanpa menimbulkan spekulasi berlarut.

Kondisi Pemain Korban dan Respons Panitia

Firman, pemain yang menjadi korban tendangan tersebut, saat ini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Sampai saat ini belum diputuskan apakah perawatannya akan dirujuk ke rumah sakit di Surabaya atau tetap di Bangkalan, mengingat pertandingan berlangsung di Stadion Bangkalan. Kondisi ini mendapat perhatian serius dari Komdis dan panitia pelaksana pertandingan.

Makin Rahmat memberikan apresiasi kepada panitia pelaksana yang cepat memberikan pertolongan pertama kepada Firman di lapangan. Ia menegaskan, keselamatan pemain merupakan prioritas utama. Sikap sigap panitia sangat penting agar insiden serupa yang bisa berakibat fatal tidak terulang kembali, mengingat pengalaman tragis seperti meninggalnya kiper Persela Choirul Huda saat bertanding.

Dampak dan Implikasi Pelanggaran Berat dalam Sepak Bola

Kasus ini menjadi peringatan penting bagi semua pemain dan tim peserta Liga 4 Jatim bahwa pelanggaran disiplin berat tidak akan ditoleransi. Komdis PSSI Jawa Timur berkomitmen menegakkan aturan guna menjaga integritas dan keamanan dalam pertandingan. Sanksi tegas terhadap tindakan kekerasan seperti tendangan yang membahayakan lawan diperlukan agar kompetisi tetap berlangsung sportif dan berjalan lancar.

Pelanggaran dengan potensi cedera parah harus segera diproses dengan adil dan transparan agar memberikan efek jera. Penanganan kasus oleh Komdis juga menjadi cermin profesionalitas pengelolaan kompetisi di level provinsi. Dengan prosedur yang tepat, diharapkan kejadian sejenis tidak kembali terjadi dan atmosfer pertandingan menjadi lebih kondusif bagi perkembangan sepak bola di Jawa Timur.

Kasus tendangan kungfu Muhammad Hilmi menjadi salah satu perhatian penting Komdis PSSI Jawa Timur di awal musim Liga 4 2026. Keputusan sidang yang akan diambil pada 11 Januari nanti sangat dinantikan oleh semua pihak sebagai langkah tegas penegakan disiplin. Proses ini diharapkan bisa memperkuat budaya fair play dan menjamin keselamatan pemain selama bertanding.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com

Berita Terkait

Back to top button