Industri esports menghadapi perubahan signifikan terkait model kompetisi yang digunakan. Sistem franchise yang selama ini menjadi dominan mulai dipertanyakan efektivitasnya dalam jangka panjang.
Sistem franchise merupakan liga tertutup di mana tim harus membeli slot dengan harga sangat tinggi agar bisa berpartisipasi secara permanen. Contohnya, harga slot bisa mencapai puluhan juta dolar, seperti yang diterapkan beberapa liga besar.
Model ini meniru struktur olahraga profesional Amerika Serikat seperti NBA dan NFL yang menekankan stabilitas peserta. Namun, kestabilan ini datang dengan biaya operasional yang besar dan minimnya jaminan keuntungan.
Banyak organisasi mengalami kerugian karena pendapatan sponsor maupun hak siar tidak mampu menutup biaya tinggi. Bahkan beberapa liga harus berhenti beroperasi setelah beberapa tim mundur karena beban biaya besar tidak seimbang dengan pendapatan.
Ketertutupan akses dan tingginya barrier to entry membuat sistem franchise kurang ramah bagi tim baru dan pemain amatir. Hal ini menjadi kendala pertumbuhan ekosistem esports secara inklusif dan berkelanjutan.
Sistem turnamen terbuka mulai menjadi alternatif menarik. Turnamen ini memungkinkan siapa saja mengikuti jalur kualifikasi tanpa biaya franchise yang mahal. Pendekatan seperti ini lebih demokratis karena keberhasilan ditentukan oleh skill dan performa tanpa hambatan finansial.
Turnamen terbuka memberikan peluang bagi tim pemula maupun veteran untuk berkompetisi dengan risiko finansial yang lebih rendah. Dengan demikian, lebih banyak talenta dapat berkembang dan regenerasi pemain dapat dipacu.
Selain itu, format terbuka menawarkan variasi pertandingan yang lebih banyak dan kejutan dalam kompetisi. Hal ini menarik perhatian penonton dan membuat ekosistem esports lebih dinamis dan berwarna.
Model hybrid juga mulai diperkenalkan, menggabungkan stabilitas liga tetap dengan jalur kualifikasi terbuka. Sistem ini mencoba menyeimbangkan profesionalisme dan aksesibilitas dengan memungkinkan tim yang performanya buruk untuk kembali bertarung dari jalur kualifikasi.
Keunggulan format terbuka terletak pada fleksibilitas dan aksesibilitasnya, yang memungkinkan lebih banyak pendapatan bagi tim melalui berbagai turnamen sepanjang tahun. Ini mengurangi ketergantungan pada satu liga besar dan memperkuat ekosistem industri esports.
Tanpa sistem franchise, esports mungkin kembali ke akar kompetisinya, dengan risiko dan konsekuensi nyata bagi setiap peserta. Hal ini meningkatkan kualitas pertandingan dan memberi ruang bagi cerita underdog yang menjadi daya tarik tambahan bagi penonton.
Secara keseluruhan, nasib esports tanpa franchise menunjukkan prospek yang menjanjikan. Tidak adanya pembatasan ketat membuka kesempatan yang lebih adil bagi semua pihak untuk berkembang. Industri secara bertahap akan beralih ke model yang lebih terbuka dan inklusif sesuai kondisi pasar serta maturity game.
Publisher dan penyelenggara kini semakin selektif menentukan judul yang layak untuk liga tertutup. Dengan demikian, beragam format turnamen terbuka akan terus tumbuh dan menjadi pijakan utama dalam kancah esports global di masa depan.





