Edouard Mendy meluapkan kemarahan setelah CAF membatalkan kemenangan Senegal atas Maroko dalam ajang AFCON 2026. Kiper timnas Senegal itu menilai keputusan tersebut bukan hanya merugikan negaranya, tetapi juga mencoreng martabat sepak bola Afrika.
Sanksi itu membuat kemenangan Senegal dianulir dan gelar laga diberikan kepada Maroko karena Senegal dianggap melanggar aturan. Bagi Mendy, keputusan semacam ini memperlihatkan masalah yang lebih besar di tubuh konfederasi sepak bola Afrika.
Mendy: Sepak Bola Afrika Lebih Cepat dari Pengurusnya
Mendy menilai kualitas pemain Afrika sudah melangkah jauh di level dunia. Ia menyebut banyak pesepak bola Afrika kini menjadi andalan klub-klub elite Eropa, memenangi trofi, dan membawa nama benua Afrika di panggung internasional.
Menurut mantan kiper Chelsea itu, prestasi pemain tidak sejalan dengan kualitas tata kelola di level konfederasi. Ia menilai sepak bola Afrika tumbuh lebih cepat daripada institusi yang mengaturnya, sehingga kepercayaan publik terus terganggu.
"Saya pikir sudah menjadi hal yang wajar jika CAF tidak memenuhi ekspektasi sepak bola Afrika. Sayangnya, sepak bola Afrika yang menderita akibat hal ini," ujar Mendy.
Sorotan ke Masalah Tata Kelola CAF
Pernyataan Mendy ikut menyoroti isu lama soal transparansi, profesionalisme, dan integritas di sepak bola Afrika. Ia menilai satu keputusan yang dianggap tidak adil bisa merusak citra kompetisi secara luas, apalagi saat para pemain Afrika sedang menikmati pengakuan besar di kancah global.
Ia juga menyinggung bahwa kerusakan reputasi tidak lahir dari lapangan, melainkan dari keputusan buruk segelintir pihak. Mendy menilai kondisi itu membuat AFCON sulit disejajarkan dengan turnamen besar lain seperti Euro atau Copa America.
"Ketika saya mengatakan sepak bola Afrika bergerak lebih cepat dari konfederasi, itu karena hari ini kalian bisa melihat pesepak bola Afrika di klub terbaik dunia, memenangkan trofi, merepresentasikan Afrika di kancah dunia," kata Mendy.
Kritik Tajam soal Respek untuk AFCON
Dalam pandangannya, AFCON masih belum mendapat penghormatan yang setara dengan turnamen kontinental lain. Mendy menilai persoalan itu tidak bisa hanya dibebankan kepada publik atau pihak luar, karena federasi dan pengurus juga harus bercermin.
Ia menegaskan bahwa perbaikan internal menjadi kunci agar sepak bola Afrika mendapat respek yang layak. Menurutnya, selama masalah tata kelola belum dibenahi, kritik terhadap AFCON akan terus muncul dan sulit dibantah.
"Orang-orang mengatakan AFCON tidak mendapat respek yang sama dengan kompetisi lain, tapi saya pikir kita harus mengevaluasi diri kita dan federasi dulu. Hal ini tidak akan terjadi di konfederasi lain," ucapnya.
Dampak dari Putusan Kontroversial
Kasus pembatalan kemenangan Senegal memicu reaksi luas karena menyentuh isu keadilan kompetisi. Dalam sepak bola internasional, keputusan administratif seperti ini kerap berdampak besar terhadap reputasi turnamen, kepercayaan tim, dan persepsi publik terhadap penyelenggara.
- Senegal kehilangan hasil pertandingan yang semula mereka anggap sah.
- Maroko menerima kemenangan setelah CAF menilai Senegal melanggar aturan.
- Reputasi CAF kembali dipertanyakan oleh pemain dan publik sepak bola Afrika.
- Kritikan terhadap tata kelola sepak bola Afrika menguat di tengah sorotan internasional.
Situasi ini menunjukkan bahwa keputusan federasi bukan sekadar soal administrasi. Ketika putusan dinilai tidak konsisten atau tidak transparan, dampaknya bisa merembet ke hubungan antartim dan kepercayaan terhadap kompetisi.
Seruan agar CAF Berbenah
Mendy juga menilai ada pihak-pihak yang merusak kerja keras para pemain dengan praktik yang tidak sehat. Ia tidak menyebut nama, tetapi menyampaikan kekhawatiran bahwa kepentingan pribadi dapat merugikan citra sepak bola Afrika secara keseluruhan.
Pernyataan itu mempertegas dorongan agar CAF melakukan pembenahan serius dalam tata kelola dan penegakan aturan. Dengan kualitas pemain Afrika yang terus naik di level klub dan tim nasional, publik berharap lembaga pengatur sepak bola di benua itu juga mampu mengejar standar yang sama.
Baca selengkapnya di: www.medcom.id




