Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) menunjuk Ricky Soebagja sebagai Kepala Pelatnas Wilayah alias Pelatwil PBSI untuk 2026. Ricky, yang juga menjabat Sekretaris Jenderal PP PBSI, akan memimpin sinkronisasi program dan pengawasan pelatwil agar pembinaan daerah bisa terhubung langsung dengan Pelatnas Cipayung, Jakarta.
Penunjukan ini menegaskan arah baru PBSI dalam membangun jalur pembinaan yang lebih rapi dari daerah ke pusat. Program pelatwil yang sudah berjalan sejak November 2025 di Medan dan Surabaya kini masuk tahap penting untuk memastikan latihan, seleksi, dan pengiriman atlet muda berjalan sejalan dengan kebutuhan pelatnas nasional.
Pelatwil Jadi Jembatan Pembinaan Daerah dan Pelatnas
PBSI menempatkan pelatwil sebagai perpanjangan tangan pelatnas agar potensi atlet muda di wilayah tidak berhenti di tahap lokal. Skema ini juga menjadi bagian dari strategi desentralisasi pembinaan bulutangkis, sehingga bakat dari berbagai daerah bisa dipantau sejak awal sebelum masuk jalur pembinaan nasional.
Saat ini, pelatwil sudah aktif di dua wilayah pembinaan, yakni Medan untuk kawasan barat dan Surabaya untuk kawasan tengah. Dari seleksi awal, tercatat 16 atlet masuk pelatwil barat dan 32 atlet masuk pelatwil tengah, yang berarti proses pencarian bibit atlet masih terus bergerak dan belum berhenti pada tahap pembentukan awal.
Ricky menegaskan bahwa PBSI pusat tidak sekadar membentuk program lalu melepasnya begitu saja. Ia menyebut pusat akan ikut memonitor, menyiapkan kebutuhan, serta menerima laporan rutin terkait perkembangan latihan, pembinaan pelatih, dan hasil pertandingan para atlet pelatwil.
Peran Ricky Soebagja dalam Sinkronisasi Program
Sebagai kepala pelatwil, Ricky bertugas memastikan semua program latihan di wilayah tetap berada dalam koridor yang sama dengan pelatnas. Ia menilai standardisasi penting agar transisi atlet dari daerah ke level nasional tidak membuat mereka harus beradaptasi dari nol.
Ricky menjelaskan bahwa materi latihan pelatwil akan dibuat mirip dengan pelatnas, meski bobotnya disesuaikan dengan usia atlet yang masih relatif muda. Pendekatan itu dinilai lebih tepat karena pembinaan usia muda membutuhkan keseimbangan antara pengembangan teknik, fisik, disiplin, dan kesiapan mental.
Ia juga menekankan bahwa koordinasi dengan pelatih utama di wilayah akan terus dipantau. Menurut Ricky, proses perekrutan pelatih, penyusunan program, hingga evaluasi pertandingan akan masuk laporan yang dipantau langsung oleh PBSI pusat.
- Menyusun arah program latihan agar selaras dengan pelatnas.
- Memantau proses seleksi dan perkembangan atlet di wilayah.
- Mengoordinasikan pelatih utama bersama penanggung jawab daerah.
- Mengevaluasi hasil latihan dan pertandingan secara berkala.
- Menyiapkan jalur promosi atlet menuju level nasional.
Medan dan Surabaya Masuk Tahap Penguatan
Pelatwil barat di Medan dan pelatwil tengah di Surabaya kini menjadi dua titik penting dalam model pembinaan baru PBSI. Kehadiran Ricky ke pelatwil tengah pada 10-11 April juga dijadwalkan untuk sosialisasi lanjutan sekaligus memastikan kesiapan atlet yang akan tampil di Sirkuit Nasional A Jawa Timur pada 13-18 April.
Kunjungan itu menunjukkan bahwa pelatwil tidak hanya diposisikan sebagai pusat latihan, tetapi juga sebagai ruang pemantauan kompetisi. Dengan cara itu, PBSI bisa melihat langsung adaptasi atlet muda saat bertanding, bukan hanya saat latihan di lapangan.
PBSI berharap sistem ini membuat pembinaan lebih terukur dan berkelanjutan. Atlet yang tampil baik di wilayah tidak langsung kehilangan jalur pembinaan, tetapi mendapat ruang berkembang secara bertahap menuju level yang lebih tinggi.
Target Jangka Panjang: Lahirkan Atlet Siap Pelatnas
Ricky menyambut positif reaktivasi pelatwil karena ia pernah mengenal model serupa pada masa lalu, seperti pelatda dan pusdiklat. Menurut peraih emas Olimpiade Atlanta 1996 itu, pola pembinaan wilayah penting untuk menjaga talenta terbaik agar tidak terputus di tengah jalan.
Ia berharap para atlet muda di pelatwil bisa menunjukkan progres nyata dalam disiplin, fisik, dan prestasi. Dalam pandangannya, hasil terbaik memang tidak bisa didapat seketika, karena pembinaan usia muda membutuhkan proses yang panjang dan konsisten.
Ricky juga menyoroti pentingnya menjaga nama-nama atlet potensial agar tidak cepat diganti hanya karena belum langsung menonjol. Ia menilai kontinuitas pembinaan akan membantu PBSI melihat potensi sejati atlet setelah mereka bertambah usia dan kematangannya berkembang.
Untuk saat ini, fokus utama PBSI adalah memastikan jalur pelatwil benar-benar terkoneksi dengan pelatnas. Jika sinkronisasi itu berjalan baik, pelatwil bisa menjadi fondasi kuat bagi pencarian dan pembinaan atlet bulutangkis Indonesia dalam dua tahun ke depan dan seterusnya.
Baca selengkapnya di: www.medcom.id