Tiket FIFA Series 2026 di Indonesia tidak ludes terjual, dan Ketua Umum PSSI Erick Thohir menilai kondisi itu tidak bisa disamakan dengan euforia Piala Dunia. Ia menekankan bahwa animo penonton stadion memang dapat naik turun karena karakter ajang FIFA Series berbeda dari turnamen terbesar sepak bola dunia.
Erick mengatakan fluktuasi penjualan tiket adalah hal yang wajar pada pertandingan-pertandingan seperti ini. Menurut dia, yang lebih penting adalah menjaga keseimbangan antara kehadiran suporter langsung di stadion dan minat penonton yang menyaksikan lewat layar kaca.
Perbedaan Atmosfer dengan Piala Dunia
Erick membandingkan situasi FIFA Series dengan Piala Dunia yang biasanya memunculkan antusiasme massal dari publik. Dalam ajang sebesar Piala Dunia, ia menyebut hampir semua tiket akan diburu karena daya tarik kompetisinya berada di level tertinggi.
“Kalau kita lihat memang kan kemarin kita Piala Dunia. Kalau Piala Dunia pasti semua antusias. Kalau bicara pertandingan-pertandingan yang ada ya pasti yang namanya tiket selalu up and down gitu,” ujar Erick kepada wartawan, Kamis (16/4).
Pernyataan itu menegaskan bahwa PSSI melihat penjualan tiket FIFA Series dari sudut pandang yang lebih realistis. Bagi federasi, ukuran sukses tidak hanya ditentukan oleh ramai tidaknya stadion, tetapi juga oleh jangkauan siaran televisi dan respons publik secara keseluruhan.
Rating Televisi Jadi Sorotan
Erick menyebut laporan yang ia terima menunjukkan rating siaran langsung pertandingan FIFA Series timnas Indonesia masih sangat tinggi. Angka yang disebutkannya berada di kisaran 50-60 persen, dan itu dianggap sebagai sinyal kuat bahwa dukungan masyarakat terhadap Timnas Indonesia tetap besar.
Data tersebut menjadi alasan Erick menilai minat publik belum menurun, meski sebagian tiket stadion belum habis terjual. Dalam pandangannya, penonton kini terbagi antara yang datang langsung ke stadion dan yang memilih mengikuti pertandingan dari rumah.
Berikut gambaran faktor yang menurut Erick memengaruhi situasi ini:
- Skala turnamen tidak sebesar Piala Dunia.
- Minat penonton stadion lebih mudah berubah tergantung lawan dan jadwal laga.
- Tayangan televisi tetap menjadi kanal utama bagi banyak pendukung.
- Dukungan terhadap Timnas Indonesia masih kuat di berbagai platform tontonan.
Evaluasi untuk Timnas Indonesia
Selain soal tiket, publik juga menyoroti performa timnas Indonesia di bawah pelatih John Herdman. Skuad Merah Putih sempat kalah 0-1 dari Bulgaria, tetapi sebelumnya menang besar 4-0 atas St. Kitts and Nevis, sehingga proses adaptasi tim dinilai masih berjalan.
Erick meminta publik memberi ruang bagi Herdman untuk mematangkan strategi dan menyesuaikan pendekatan dengan karakter pemain Indonesia. Ia tidak ingin terburu-buru memasang target yang terlalu spesifik terkait posisi Indonesia di peringkat FIFA dalam waktu dekat.
“Kita duduk dulu, kasih Coach John dulu beradaptasi. Kemarin kalau sama Bulgaria kan naiknya lumayan, ya cuma ya seperti itu,” kata Erick.
Sikap itu menunjukkan PSSI masih menempatkan FIFA Series sebagai ajang penguatan tim, bukan semata-mata panggung hasil instan. Dalam konteks itu, minat penonton dan evaluasi performa tim sama-sama menjadi indikator penting bagi perkembangan sepak bola Indonesia ke depan.
Catatan Penting dari FIFA Series 2026
- Tiket FIFA Series 2026 di Indonesia belum habis terjual.
- Erick Thohir menilai situasi itu normal dan berbeda dari Piala Dunia.
- Rating siaran langsung Timnas Indonesia disebut berada di angka 50-60 persen.
- Timnas Indonesia mencatat hasil 4-0 atas St. Kitts and Nevis dan kalah 0-1 dari Bulgaria.
- PSSI masih memberi waktu bagi John Herdman untuk beradaptasi dengan tim.
Dengan melihat antusiasme layar kaca yang masih tinggi dan proses pembenahan tim yang terus berjalan, PSSI menilai FIFA Series 2026 tetap memberi nilai penting bagi perkembangan Timnas Indonesia, meski penjualan tiket stadion belum menyamai gegap gempita turnamen seperti Piala Dunia.
Source: mediaindonesia.com






