Klub-klub Italia dipastikan tidak lagi punya wakil di kompetisi antarklub Eropa musim ini setelah seluruh perwakilan Serie A tersingkir. Hasil itu menutup perjalanan Bologna, Fiorentina, dan Atalanta di Liga Europa, Conference League, dan Liga Champions.
Kegagalan beruntun tersebut menjadi sorotan besar karena Italia sempat punya beberapa tim yang diharapkan mampu melaju lebih jauh. Namun, performa di babak gugur justru menunjukkan jarak yang masih lebar dengan klub-klub elite dari Inggris dan Jerman.
Bologna Gagal Menjaga Harapan di Liga Europa
Bologna menjadi tumpuan utama Italia di Liga Europa setelah tampil kompetitif pada fase sebelumnya. Namun, tim asuhan Thiago Motta tidak mampu membalikkan keadaan saat menghadapi Aston Villa.
Pada leg pertama, Bologna sudah kalah 1-3. Situasi makin sulit ketika mereka kembali tumbang 0-4 di Villa Park, Birmingham, sehingga tersingkir dengan agregat 1-7.
Kekalahan itu memperlihatkan betapa beratnya tantangan wakil Serie A ketika menghadapi tim Premier League yang tampil lebih efektif dalam transisi dan penyelesaian akhir. Bologna sebenarnya mencoba bermain disiplin, tetapi tekanan Aston Villa terlalu kuat untuk diredam sepanjang laga.
Fiorentina Tak Cukup Kuat Membalikkan Keadaan
Di Conference League, Fiorentina juga gagal mengamankan tiket ke semifinal meski sempat menang 2-1 atas Crystal Palace pada leg kedua di Stadion Artemio Franchi. Hasil tersebut tidak cukup karena La Viola sebelumnya kalah 0-3 di kandang Palace.
Dengan agregat 2-4, langkah Fiorentina pun terhenti. David De Gea dan rekan-rekannya harus mengakui bahwa keunggulan tipis di Florence tidak mampu menutup defisit besar dari pertandingan pertama.
Secara permainan, Fiorentina menunjukkan perlawanan, tetapi keunggulan Palace di pertemuan awal menjadi penentu. Dalam format dua leg, selisih tiga gol sering kali terlalu sulit ditutup meski tim tuan rumah tampil agresif pada leg kedua.
Atalanta Sudah Lebih Dulu Tersingkir
Sebelum Bologna dan Fiorentina menyusul, Atalanta sudah lebih dulu angkat koper dari Liga Champions. Langkah La Dea terhenti pada babak 16 besar setelah kalah telak dari Bayern Munich.
Atalanta tidak mampu membendung efektivitas tim Jerman itu dan tersingkir dengan agregat 2-10. Hasil tersebut menegaskan bahwa Atalanta kesulitan menjaga kualitas permainan saat menghadapi lawan dengan kedalaman skuad dan intensitas tinggi di Eropa.
Kekalahan besar itu juga menjadi pukulan bagi reputasi Serie A yang dalam beberapa musim terakhir sempat dianggap mulai bangkit di kompetisi antarklub Eropa. Musim ini, hasil di lapangan justru mengarah pada evaluasi besar di level klub maupun kompetisi domestik.
Rangkaian Hasil yang Menutup Langkah Serie A
Tiga wakil Italia tumbang pada fase gugur dan membuat Serie A tidak punya lagi tim tersisa di panggung Eropa. Situasi ini merangkum musim yang mengecewakan bagi salah satu liga terbesar di Benua Biru tersebut.
- Bologna tersingkir dari Liga Europa setelah kalah agregat 1-7 dari Aston Villa.
- Fiorentina gugur di Conference League setelah kalah agregat 2-4 dari Crystal Palace.
- Atalanta terhenti di Liga Champions usai kalah agregat 2-10 dari Bayern Munich.
Rangkaian hasil tersebut bukan hanya soal kegagalan satu atau dua klub, tetapi juga cerminan menurunnya efektivitas wakil Italia di fase knockout. Klub-klub Serie A tampak sulit menjaga konsistensi ketika menghadapi lawan dengan tempo tinggi dan efisiensi serangan yang lebih baik.
Dampaknya untuk Jatah Eropa Musim Depan
Kegagalan total itu juga memengaruhi slot Italia di kompetisi Eropa musim depan. Italia dipastikan hanya mendapat tujuh wakil di kancah Eropa, dengan rincian empat tim di Liga Champions, dua tim di Liga Europa, dan satu tim yang memulai dari babak kualifikasi Conference League.
Jumlah itu memberi gambaran bahwa persaingan di papan atas Serie A tetap ketat, tetapi hasil di Eropa belum cukup untuk menambah kekuatan koefisien secara signifikan. Dalam konteks yang lebih luas, klub-klub Italia kini dituntut memperbaiki kedalaman skuad, konsistensi taktik, dan efektivitas penyelesaian akhir agar tidak kembali mengalami nasib serupa pada musim berikutnya.
