Bhayangkara FC merespons ancaman jalur hukum dari Dewa United dengan menyebut insiden tendangan kungfu di laga Elite Pro Academy U-20 perlu dilihat dalam hubungan sebab-akibat. Meski begitu, klub tetap menegaskan bahwa tindakan kekerasan tetap tidak bisa dibenarkan dalam pertandingan sepak bola.
Insiden itu terjadi saat Bhayangkara FC U-20 menghadapi Dewa United U-20 di Stadion Citarum, Semarang, pada laga Elite Pro Academy. Dalam situasi keributan di lapangan, pemain Bhayangkara FC U-20, Fadly Alberto, diduga melakukan tendangan kungfu kepada salah satu pemain lawan.
Respons Bhayangkara FC
Chief Operating Officer Bhayangkara FC sekaligus Ketua Badan Tim Nasional, Sumardji, menilai reaksi publik sebaiknya tidak berhenti pada satu potongan peristiwa. Ia meminta agar kejadian itu dipahami secara menyeluruh sebelum ada penilaian lebih jauh.
“Kan itu ada sebab-akibat. Kalau di peradilan umum itu kan ada sebab-akibat,” kata Sumardji saat dikonfirmasi, Senin (20/4).
Sumardji juga menekankan bahwa pertanyaan tentang pemicu kejadian perlu dijawab terlebih dahulu. Menurut dia, publik tidak seharusnya langsung menghakimi tanpa mengetahui rangkaian peristiwa yang terjadi di lapangan.
“Kenapa dia melakukan itu? Kan pasti ada sebabnya dulu kan? Ini sebabnya. Kan pasti ada sebab-akibat,” ujarnya.
Kekerasan tetap tak dibenarkan
Di tengah pembelaannya agar peristiwa itu dibaca secara utuh, Bhayangkara FC tetap menolak segala bentuk kekerasan. Sumardji menyebut tindakan pemukulan, tendangan kungfu, maupun rasisme tidak dapat diterima dalam sepak bola.
“Apapun tidak dibenarkan melakukan pemukulan tendangan kungfu dan rasis,” tegasnya.
Pernyataan itu muncul setelah Presiden Dewa United, Ardian Satya Negara, menyampaikan kekecewaan dan menyatakan akan menempuh jalur hukum. Ardian menilai kompetisi usia muda seharusnya menjadi ruang pembelajaran, bukan tempat untuk tindakan keras yang merusak nilai sportivitas.
Sikap Dewa United
Ardian menyebut klub perlu ikut bertanggung jawab dalam pembinaan moral dan adab pemain muda. Ia juga menegaskan bahwa proses hukum akan ditempuh agar kasus ini menjadi pelajaran bagi semua pihak.
“Saya akan proses secara hukum untuk semua yang melakukan kekerasan, karena bukan hanya pemain tapi ada juga coach yang melakukan pemukulan. Biar menjadi pembelajaran untuk semua,” kata Ardian.
Insiden ini menyorot kembali pentingnya pengawasan dalam kompetisi kelompok usia muda, terutama ketika emosi pemain memanas di lapangan. Di saat yang sama, respons kedua klub menunjukkan bahwa persoalan disiplin, sportivitas, dan tanggung jawab pembinaan masih menjadi isu utama yang harus dijaga dalam laga-laga Elite Pro Academy.
Source: mediaindonesia.com